Pangalengan van Sumatera

KURANG cukupkah bencana alam di Sumatera menjadi gambaran bagi kita? Pengrusakan lingkungan di wilayah Pangalengan, tepatnya di Perkebunan Malabar, menjadi alarm bahaya bagi kita.

Pangalengan van Sumatera

KURANG cukupkah bencana alam di Sumatera menjadi gambaran bagi kita? Pengrusakan lingkungan di wilayah Pangalengan, tepatnya di Perkebunan Malabar, menjadi alarm bahaya bagi kita.

Sedikitnya, ada sejumlah alarm yang berdentang dengan kasus pengrusakan perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) itu. Semuanya tak ada yang memberi makna positif.

Pertama adalah pengrusakan terhadap 150 hektare lahan tersebut potensial memicu bencana. Alih fungsi lahan, dilakukan semena-mena tanpa memperhitungkan potensi bencana, adalah perbuatan laknat.

Dia akan mengancam berkurangnya tutupan resapan air, berubah menjadi perkebunan sayuran yang secara ilmu ketanahan, akan membuat kawasan tersebut menjadi begitu lemah.

Kedua, alih fungsi itu dilakukan secara ilegal di lahan milik negara. Bagaimana mungkin kawasan yang semestinya menjadi garapan BUMN PTPN bisa seenak jidatnya digeruduk pihak lain? Tidak cukupkah kita berkaca pada situasi yang terjadi di kawasan Puncak, saat alih fungsi lahan menjadi hal biasa dan kemudian PTPN menjadi kesulitan sendiri menangani?

Pengawasan PTPN terhadap lahan miliknya sendiri, kita nilai, begitu lemah. Pangalengan bukan satu-satunya. Hal serupa juga banyak terjadi di wilayah-wilayah kelola PTPN lainnya di Jawa Barat. Di Bogor hingga Sukabumi.

Apakah ada oknum-oknum PTPN yang ikut bermain dalam alih fungsi itu, kita tunggu saja penyelidikan hukumnya. Jika ada, maka itulah perbuatan laknat yang bisa menghasilkan kesengsaraan, bukan saja buat PTPN dan warga Pangalengan, juga bagi masyarakat Jawa Barat.

Pengrusakan di Pangalengan itu adalah perbuatan pidana. Polisi patut secepatnya melakukan penanganan perkara. Ini bukan sekadar penyerobotan lahan, lebih utama lagi adalah pengrusakan lingkungan.

Kita sudah menjadi saksi, bahkan dalam bertahun-tahun terakhir, betapa pengrusakan lingkungan, adalah salah satu pemicu bencana. Di banyak titik dan tempat. Di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, hingga Papua.

Terakhir Banjir bandang besar tiada terkira, longsor yang meruntuhkan dinding bumi di Sumatera, adalah pelajaran penting buat kita. Lebih 100 orang meregang nyawa. Kecuali karena hujan yang turun tiada henti dan siklon yang menyerbu Sumatera, penyebab utama lainnya adalah alih fungsi lahan. Kemana lagi air mengalir jika alurnya tak lagi muat karena terjarah nafsu duniawi manusia?

Pangalengan jangan sampai seperti itu. Banyak pelajaran yang sudah kita petik. Selamatkan Pangalengan dari marabahaya bencana. (*)


Editor : tantan