Pantau Kesiapan Mental Anak Masuk SD, Puluhan Orang Tua Dampingi Anak-anaknya pada Hari Pertama MPLS

Memasuki tahun ajaran baru, seluruh sekolah di Kota Cimahi mulai melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Pantau Kesiapan Mental Anak Masuk SD, Puluhan Orang Tua Dampingi Anak-anaknya pada Hari Pertama MPLS
Orang tua siswa mendampingi anaknya saat MPLS di salah satu SD di Kota Cimagi. Agus Satia

INILAHKORAN, Cimahi - Memasuki tahun ajaran baru, seluruh sekolah di Kota Cimahi mulai melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Salah satunya di SD Sekolah Kreatif Harapan Bangsa (SKHB) yang berlokasi di Jalan Sadarmanah No.03, Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Puluhan siswa baru didampingi orang tua dari berbagai latar belakang suku, agama dan ras bergabung dalam satu kelas mengingat SKHB merupakan sekolah yang mengedepankan visi keanekaragaman yang berpedoman pada Pancasila.

Para orang tua dari siswa baru tersebut sengaja mendampingi para anaknya menyusul masih adanya kekhawatiran akan anaknya yang baru pertama memasuki jenjang SD.

Salah satunya seperti yang diungkapkan salah seorang orang tua siswa baru, Yogi Rohiska (32) yang mengaku masih khawatir lantaran anaknya masih perlu pengawasan.

"Kebetulan anak saya komunikasinya masih sedikit kurang lancar, jadi takut di bully karena selama ini gak jauh dari kami sebagai orang tuanya," katanya saat ditemui pada pelaksanaan MPLS di Cimahi, Senin 17 Juli 2023.

Kendati begitu, Yogi bisa sedikit bernafas lega lantaran pihak sekolah meyakinkan dirinya untuk tidak khawatir adanya tindakan bullying dikarenakan pihak sekolah selalu sigap dalam memantau para siswanya.

Tak hanya itu, sambung dia, pada hari pertama MPLS ini dirinya cukup mengalami kesulitan mengajak anaknya ke sekolah mengingat anaknya cukup lama berada di rumah karena libur panjang.

"Hari pertama yang biasa kemarin libur, pada saat masuk agak sulit mesti ada drama dulu sebelum ke sekolah," ungkapnya.

Yogi berharap, anaknya bisa berkembang lebih baik dari sebelumnya dan bisa mengikuti pembelajaran dengan baik di sekolah.

"Harapan paling besar, anak bisa berubah lebih baik dari berbagai sisi, salah satunya dari sisi kemandirian dan keaktifan dalam berkomunikasi," tandasnya.

Diketahui, Sekolah Kreatif Harapan Bangsa (SKHB) yang berlokasi di Jalan Sadarmanah RT 01/02, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Berawal dari tempat kursus atau les Bahasa Inggris pada tahun 2000-an, Sekolah Kreatif Harapan Bangsa (SKHB) kini hadir menjadi salah satu lembaga pendidikan yang siap menciptakan siswa-siswi berkarakter dengan keahlian bahasa, khususnya Bahasa Inggris.

"SKHB ini sebenarnya sudah ada saat Cimahi masih berstatus Kota Administratif (Kotip) sekitar tahun 2000-an dan dahulu masih tempat les Bahasa Inggris," ungkap Kepala SKHB, Ade Muharam.

Ade menuturkan, kelas di SKHB dulu bukan dari kelas 1, melainkan dari kelas 3 dengan jumlah siswa yang hanya empat orang saja.

"Tapi, seiring dengan berjalannya waktu dengan ciri khasnya yang mengedepankan Bahasa Inggris, siswa di SKHB kian bertambah," tuturnya.

Ade mengaku, SKHB awalnya mengusung visi religi, namun seiring dengan banyaknya warga sekolah dari berbagai latarbelakang agama, suku dan ras yang beragam SKHB kini lebih mengedepankan visi keanekaragaman yang berpedoman pada Pancasila.

"Karena di sini warga sekolahnya beraneka ragam, baik pengajar, staf maupun siswa dari berbagai daerah. Maka, visi misi kita lebih umum dan nasional," ujarnya.

Artinya, lanjut Ade, baik siswa maupun pengajar bisa berbagi pengalaman terkait dengan karakteristik budaya dari masing-masing warga sekolah.

"Secara tidak langsung mereka bisa saling mengedukasi dan memperkenalkan budayanya masing-masing," ucapnya.

Ade menyebut, di SKHB terdiri dari beberapa jenjang pendidikan, mulai dari Paud/TK, SD dan SMP. Kemudian, dalam satu kelas ada sekitar 30 siswa.

"Awalnya memang hanya 25 siswa dalam satu kelas. Namun, yang menjadi pembeda antara SKHB dengan sekolah lainnya ada pada kualitas pembelajaran Bahasa Inggris," sebutnya.

Menurutnya, pembelajaran Bahasa Inggris sebagai yang diterapkan dalam keseharian menjadi hal yang baru bagi para siswa, khususnya di SKHB.

"Di sini (SKHB) para siswa dibiasakan untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, termasuk dari hal-hal kecil seperti berdoa dengan menggunakan Bahasa Inggris juga," tuturnya.*** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti