Para Pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Bandung Sulit Dapatkan Masker

Para pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Bandung kini kesulitan untuk mendapatkan masker. Padahal, masker sangat penting bagi para pengidap HIV untuk melindungi diri dari penularan penyakit yang ada di sekitarnya.

Para Pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Bandung Sulit Dapatkan Masker
net

INILAH, Bandung - Para pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Bandung kini kesulitan untuk mendapatkan masker. Padahal, masker sangat penting bagi para pengidap HIV untuk melindungi diri dari penularan penyakit yang ada di sekitarnya.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Bandung Dinan Naufal mengatakan, sejak merebaknya wabah Covid-19 itu terjadi kelangkaan yang membuat pengidap HIV/AIDS kesulitan mendapat masker.

"Masker adalah salah satu alat pelindung dari paparan penyakit menular. Bagi pengidap HIV/AIDS, masker merupakan hal penting, sekarang sulit untuk mendapatkannya," kata Dinan di Soreang, Senin (16/3/2020).

Pengidap HIV/AIDS sangat rentan tertular pelbagai penyakit, mengingat virusnya menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga masker sangat diperlukan. Biasanya, dia mengaku para pengidap HIV/AIDS memiliki persediaan sendiri, baik itu dibeli di apotek, minimarket maupun fasilitas dari Dinas Kesehatan.

Namun, dengan tidak adanya barang di pasaran membuat persediaan yang dimiliki menjadi habis terpakai. Kondisi tersebut sudah terjadi dalam satu pekan terakhir.

"Biasanya bisa mengakses ke layanan kesehatan untuk kebutuhan masker. Tapi sekarang sulit mengaksesnya karena mulai dibatasi," ujarnya.

Dinan  berharap agar pihak terkait bisa memberikan akses lebih bagi pengidap HIV/AIDS, mengingat mereka memiliki kerentanan lebih tinggi dibanding masyarakat biasa. Paling tidak, pihak terkait bisa memberi solusi alternatif lain sebagai pengganti masker.

"Kalau untuk cairan hand sanitizer, mereka sudan diberi pelatihan membuatnya sendiri dengan bahan-bahan sederhana," ujarnya.

Untuk mengurangi risiko, pengidap HIV/AIDS disarankan mengurangi aktivitas di luar jika tidak terlalu penting.

Dari hasil pantauan lapangan, sejumlah apotek di Kabupaten Bandung mulai dari kawasan Cibaduyut, Sukamenak, Margahayu, Katapang, hingga Soreang sudah tak menjual lagi alat penutup mulut dan hidung tersebut.

Ketiadaan masker tersebut terjadi tak hanya di toko obat-obatan kecil. Melainkan juga apotek besar, seperti apotek Kimia Farma. Menurut salah seorang pegawai apotek di kawasan Margahayu yang enggan namanya disebutkan, tidak adanya stok masker itu diakibatkan pasokan dari penyuplai terhenti.

"Sudah enggak ada suplai dari suplier. Sudah ada seminggu ini," kata pegawai apotek tersebut.

Menurutnya, selama beberapa minggu terakhir ini, memang jumlah pembeli masker naik cukup signifikan. Sementara apotek sudah berupaya membatasi penjualan masker.

"Permintaan hariannya cukup banyak. Padahal kami sudah batasi penjualannya," ujarnya.

Sementara itu, di apotek Kimia Farma Soreang kini hanya menjual masker N95. Khusus masker tersebut, harga satuannya berada di kisaran Rp60 ribu.

"Kalau masker biasa sudah kosong. Tinggal N95 saja. Satunya, itu dibanderol Rp60 ribu," katanya. (Dani R Nugraha)


Editor : Doni Ramdhani