INILAH, Purwakarta - Fenomena Capres/Cawapres imajiner, Nurhadi-Aldo, saat ini tengah menghebohkan jagat maya di Indonesia.
Sebagian kalangan menilai, hadirnya pasangan 'Dildo' , ini mampu menjadi pemecah ketegangan polarisasi dukungan jelang Pilpres 2019 mendatang.
Sebagai Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi menilai, ada pesan budaya yang tersirat di balik kemunculan Nurhadi-Aldo. Menurut dia, fenomena tersebut menjadi angin segar di linimasa, terutama platform media sosial Facebook.
"Saya kira bagus ya, kehadiran Nurhadi-Aldo ini bisa menjadi angin penyejuk ditengah polarisasi dukungan dua pasang calon di Pilpres sekarang yang sangat kuat. Apalagi, saat ini baik darat dan udara jadi medan pertempuran, " ujar Dedi di Purwakarta, Kamis (17/1).
Dari sisi budaya, Dedi melihat dua sosok fenomenal ini ibarat tokoh adik-kakak dalam Perang Baratayudha, yakni Cepot dan Dawala. Menurutnya, kedua putera tokoh Semar Badranaya itu mampu mencairkan ketegangan perang Pandawa dan Kurawa.
"Kalau Baratayudha versi India kan itu sangat tegang. Tapi, di versi Indonesia ada para punakawan. Yang paling lucu ya Cepot dan Dawala. Saya kira, Nurhadi-Aldo ya Cepot-Dawala. Saat Amarta dan Hastina tegang, lalu muncul mereka berdua, semua tertawa riang," kata dia.
Ketua DPD Golkar Jawa Barat itu berharap Nurhadi-Aldo bukanlah fenomena terakhir yang mengundang gelak tawa. Dia berharap, kedepan ada fenomena serupa yang secara berkesinambungan mengurangi gesekan dua kubu di Pilpres 2019. Ini penting dalam rangka menjaga hubungan antar warga bangsa.
"Pilpres dan Pileg 2019 tidak akan tegang kalau muncul Nurhadi-Aldo yang lain. Jadi, linimasa sosial media kita tidak dipenuhi dengan debat kusir, tapi mari kita penuhi dengan kebahagiaan. Semua pihak harus mau menurunkan tensi dan mendinginkan suasana. Kita bergandeng tangan demi rakyat," tambah dia.
Namun, dalam hal ini dirinya menampik jika fans Nurhadi-Aldo di dunia maya merupakan golongan putih. Menurut logikanya, justru mereka sebagai pendukung cerdas dan jernih dalam melihat situasi kekinian.
Karena, cara mereka memandang permasalahan publiknya cukup objektiv dan patut menjadi pertimbangan. Pasalnya, cara pandang mereka sudah terlepas dari semangat suka dan tidak suka terhadap salah satu pasangan capres-cawapres.
"Justru mereka itu partisipatif dan kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka ini golongan putih. Cara mereka melontarkan komentar itu kan cerdas, diksinya tidak dihiasi dengan semangat suka atau tidak suka terhadap salah satu kubu. Mereka clear dalam berpendapat," pungkasnya.