Pastikan Lulusan Siap Bekerja, UIKA Bogor Kerja Sama dengan Kemenaker

Universitas Ibn Khaldun UIKA Bogor bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk menyiapkan lulusan yang siap bekerja. 

Pastikan Lulusan Siap Bekerja, UIKA Bogor Kerja Sama dengan Kemenaker
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli melakukan swafoto dengan mahasiswa usai memberikan kuliah umum di Auditorium Prof Abdullah Siddiq, UIKA Bogor, Senin (4/5/2026).  (rizki mauludi)

INILAHKORAN.ID - Universitas Ibn Khaldun UIKA Bogor bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk menyiapkan lulusan yang siap bekerja. 

Kolaborasi itu ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam momentum Studium Generale bersama Menteri Ketenagakerjaan Yassierli di Auditorium Prof Abdullah Siddiq, UIKA Bogor, Senin (4/5/2026). 

Yassierli menegaskan, dunia kerja saat ini sedang mengalami perubahan besar yang tidak bisa dihindari.

"Dunia kerja sedang berubah drastis. Pekerjaan akan selalu ada, bahkan terus bertambah. Tapi persoalannya, apakah talenta kita siap untuk mengisinya. Berdasarkan laporan global, sekitar 92 juta pekerjaan akan hilang atau tergantikan pada tahun 2030. Namun di sisi lain, akan muncul sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan yang berbeda," ungkap Yassierli. 

Yassierli memaparkan, kondisi itu menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Saat ini, sekitar 86,9% angkatan kerja masih berpendidikan maksimal SMA/SMK dan lebih dari 55% bekerja di sektor informal. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan nyata antara kebutuhan industri dan kesiapan tenaga kerja di lapangan.

"Di sisi lain, peluang kerja terus terbuka lebar. Realisasi investasi nasional yang mencapai Rp498,8 triliun pada triwulan pertama 2026 mampu menyerap lebih dari 700 ribu tenaga kerja dalam waktu singkat. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh talenta yang memiliki kesiapan dan kompetensi yang sesuai," paparnya. 

Dia menjelaskan, tren rekrutmen saat ini mulai bergeser, dunia industri tidak lagi hanya melihat ijazah, tetapi lebih menekankan pada keterampilan nyata atau skill akan menjadi kunci utama. Karena itu, pentingnya membangun future-ready talent, yaitu generasi yang tidak hanya memiliki keterampilan digital, tetapi juga human skills seperti berpikir kritis, komunikasi, adaptasi, dan empati.

"AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan AI yang akan tertinggal. Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk mengembangkan growth mindset serta pola pikir kewirausahaan agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang baru di tengah perubahan zaman," jelasnya. 

Sementara itu, Rektor UIKA Bogor Prof E Mujahidin menyampaikan kolaborasi itu merupakan langkah konkret dalam menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. UIKA tidak hanya menyiapkan lulusan yang kuat secara akademik, tetapi juga memastikan mereka siap masuk ke dunia kerja dengan kompetensi yang relevan. 

"Kesepahaman ini akan berlaku selama lima tahun dan akan ditindaklanjuti dengan berbagai program kerja konkret yang berdampak langsung bagi mahasiswa. Langkah ini sekaligus mempertegas posisi UIKA Bogor sebagai kampus Islam unggul yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga pada masa depan lulusannya," terangnya. 

Dia menambahkan, ditengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, UIKA Bogor hadir bukan sekadar sebagai tempat belajar, tetapi sebagai tempat di mana masa depan karier mulai dibentuk sejak hari pertama kuliah.


Editor : Doni Ramdhani