Pelita Bening dan PMT jadi Cara Pemkab Bandung Barat Intervensi Tingginya Angka Stunting
Persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah yang belum bisa diselesaikan secara masif Pemerintah Daerah (Pemda) Bandung Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah yang belum bisa diselesaikan secara masif Pemerintah Daerah (Pemda) Bandung Barat.
Kendati begitu, upaya untuk menekan tingginya angka stunting yang mencapai 25,1 persen pada tahun 2023 dengan melakukan intervensi. Salah satunya melalui kegiatan Perangkat Daerah Peduli Ibu Hamil dan Balita Berisiko Stunting (Pelita Bening) dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
"Dalam kegiatan Pelita Bening dan PMT, Pemda Bandung Barat memberikan tambahan protein hewani berupa telur ayam dan makanan bergizi kepada masyarakat di Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat," kata Pj Bupati Bandung Barat Ade Zakir Hasyim, belum lama ini.
Menurut Ade, kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya Pemda Bandung Barat dalam menurunkan angka stunting di wilayahnya.
"Dalam pelaksanaan program Pelita Bening ini salah satunya adalah pemberian telur dan makanan bergizi," ucapnya.
Hingga saat ini, sebut Ade Zakir Hasyim, kasus stunting di Kabupaten Bandung Barat masih terbilang cukup tinggi yakni 25,1 persen. Namun angka stunting tersebut menurun 2,2 persen jika dibandingkan tahun lalu.
"Sasarannya ibu hamil, anak balita stunting jadi ada kriteria tersendiri bagi penerima bantuan yakni warga yang mengalami Kekurangan Energi Kronis," sebutnya.
Dalam kegiatan Pelita Bening itu, terang Ade, pihaknya bakal mendistribusikan protein hewani berupa telur yakni sebanyak kurang lebih 650.000 butir.
Dengan demikian, upaya penanganan stunting di wilayahnya bisa berjalan maksimal.
"Pemberian telur ini juga kita paksakan menganggarkan di perubahan. Jadi di tengah keterbatasan kita semua masih bisa memberikan telur," terangnya.
"Insya Allah kami optimis bisa menurunkan dari 25,10 persen. Kalau targetnya 17,5 persen," imbuhnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB, Ridwan Abdullah Putra mengatakan, jumlah sasaran yang dari kegiatan pemberian telur ayam ini sebanyak 34.334 warga di seluruh wilayah Kabupaten Bandung Barat.
"Balita Tidak Naik (weightfaltering) sebanyak 30.358 anak, diberikan 1 butir per hari selama 14 hari, Balita Berat Badan Kurang (underweight) sebanyak 2.734 anak, diberikan 1 butir per hari selama 28 hari dan Ibu hamil KEK/ beresiko sebanyak 1.242 orang, diberikan 2 butir per hari selama 60 hari," kata Ridwan.
Balita kurus (wasting) dan ibu hamil KEK, ungkap Ridwan, mendapat penanganan berupa PMT lokal dengan jumlah sasaran balita wasting yang mendapat PMT adalah seluruh masyarakat Kabupaten Bandung Barat yang berisiko stunting.
"Sebanyak 1.740 anak (sumber dana BOK) dan 300 anak (sumber dana APBD) serta 1.127 orang (sumber dana BOK) dan 200 orang (sumber dana APBD) Ibu hamil KEK / beresiko yang tersebar di 32 wilayah puskesmas," ujarnya.
Tujuan dari pemberian tambahan protein hewani dan PMT lokal tersebut, sambung Ridwan, untuk menambah asupan zat gizi terutama protein hewani yang sangat bermanfaat dalam pertumbuhan anak dan janin dalam kandungan.
"Oleh karenanya, jika kebutuhan gizinya terpenuhi, dapat mencegah terjadinya stunting. Kegiatan ini merupakan salah satu dari intervensi spesifik di Kabupaten Bandung Barat," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

