Pemerintah Dorong Pelestarian Bahasa Daerah

Pemerintah Dorong Pelestarian Bahasa Daerah
PEMBINAAN BAHASA: Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Hafidz Muksin di Kota Bengkulu, Minggu (6/9).(Foto: ANTARA/ANGGI MAYASARI)

INILAH, Bengkulu - Bahasa daerah tak hanya hidup dalam percakapan sehari-hari. Ia juga tersimpan dalam cerita, buku, dan karya sastra yang menjadi jejak kebudayaan sebuah daerah.

Karena itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong keterlibatan komunitas dan para pegiat sastra dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah.

Komunitas yang selama ini aktif melestarikan bahasa daerah diberikan dukungan dan pembinaan agar perannya semakin kuat. Kerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi juga terus diperkuat untuk memperkaya bahan bacaan bermutu.

“Yang kita upayakan juga adalah meningkatkan peran para pegiat dan pelestari bahasa daerah. Komunitas pegiat dan pelestari kita berikan pembinaan untuk meningkatkan peranserta mereka,” kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen Hafidz Muksin di Kota Bengkulu, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (6/9).

Menurut Hafidz, komunitas dapat menjadi ruang untuk menghasilkan bacaan berbahasa daerah sekaligus menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Cara ini membuat karya tidak berhenti pada pembaca yang memahami bahasa daerah, tetapi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Langkah tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya daerah kepada generasi yang lebih beragam.

Bengkulu menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian dalam upaya tersebut. Sejumlah bahasa daerah seperti bahasa Enggano, Rejang, dan Bengkulu dinilai perlu terus dijaga agar tidak kehilangan ruang di tengah perubahan zaman.

Pelestarian juga dilakukan melalui program revitalisasi bahasa daerah yang menyasar peserta didik sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pendekatannya dibuat lebih dekat dengan dunia anak, sehingga bahasa daerah tidak hadir sebagai pelajaran yang kaku.

Anak-anak dapat mengenalnya melalui lomba menyanyi, pidato, komedi tunggal, menulis cerita pendek, hingga kegiatan bercerita menggunakan bahasa daerah.

Pendekatan semacam itu diharapkan membuat bahasa daerah tetap menjadi bagian dari keseharian generasi muda. Bahasa tidak hanya dipelajari, tetapi digunakan, dimainkan, dan diceritakan kembali dengan cara yang mereka sukai.

Upaya pelestarian juga mulai mengikuti perubahan cara masyarakat membaca. Pemerintah mendorong digitalisasi bahan bacaan agar karya yang memuat bahasa daerah dapat menjangkau pembaca melalui berbagai platform pembelajaran digital.

“Kami juga mendorong digitalisasi bahan bacaan melalui platform pembelajaran digital. Buku-buku yang memuat bahasa daerah diharapkan dapat diakses masyarakat secara lebih luas melalui buku digital,” ujar Hafidz. (gin)


Editor : Inilahkoran