Pemkab Garut Kesulitan Mengembalikan Pamor Jeruk Garut

Kendati mampu menyediakan bibit unggul, Pemkab Garut hingga kini masih kesulitan mendongkrak populasi tanaman jeruk Garut. Padahal, jeruk jenis keprok itu dulu sempat populer dan menjadi komoditas andalan petani Kota Dodol.

Pemkab Garut Kesulitan Mengembalikan Pamor Jeruk Garut
net

INILAH, Garut - Kendati mampu menyediakan bibit unggul, Pemkab Garut hingga kini masih kesulitan mendongkrak populasi tanaman jeruk Garut. Padahal, jeruk jenis keprok itu dulu sempat populer dan menjadi komoditas andalan petani Kota Dodol.

Pada 2011 lalu, Pemkab Garut sempat menargetkan penanaman satu juta pohon jeruk namun tak pernah tercapai. Bahkan, pemerintah pusat sebelumnya sempat membentuk tim kelompok kerja nasional jeruk. Targetnya, selama 2006-2011 pohon jeruk itu ditanam empat juta pohon.

Jeruk Garut pun ditetapkan sebagai varietas unggulan nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 760/KPTS.240/6/99 tanggal 22 Juni 1999.

Dinas Pertanian Kabupaten Garut mencatat, dari populasi tanaman jeruk sebanyak 678.701 pohon pada 2018 itu hanya sekitar 20-30% itu jeruk keprok garut. Selebihnya, pohon yang ditanam itu didominasi jenis jeruk siam.

Pada era sebelum 1950-an, diperkirakan populasi pohon jeruk keprok Garut mencapai jutaan pohon. Saat itu, selain ditanam dalam satu hamparan areal kebun pohon jeruk pun mudah dijumpai sebagai tanaman pekarangan rumah. Pada 1987, populasinya sempat mencapai 1,3 juta pohon di atas lahan seluas 2.600 hektare dengan jumlah produksi sekitar 26.000 ton.

Namun, pada 1964 populasi pohon jeruk keprok Garut mulai merosot tajam. Varietas pohon itu pun dinyatakan hampir punah akibat serangan penyakit terutama citrus vein phloem degeneration (CPVD). Kondisi itu diperparah dengan keadaan bentang alam pasca-letusan Gunung Galunggung pada 1982.  

Pohon jeruk Garut itu pun kini tak lagi menghiasi pekarangan rumah penduduk maupun perkantoran. Keberadaannya kalah pamor dengan jenis tanaman buah lain seperti mangga.

Pada 1992, dari jutaan itu populasi pohon jeruk Garut hanya 52.000 pohon dengan produksi sekitar 520 ton saja.

Menurut Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Garut Rahmat Jatnika, petani lebih memilih jenis siam karena pohonnya cepat berbuah. Setidaknya, pada umur 2,5 tahun saja tanaman itu mulai belajar berbuah dan produktivitas buahnya pun relatif lebih tinggi. Sedangkan, jeruk Garut membutuhkan waktu 3-3,5 tahun untuk berbuah pertama kali.

“Kondisinya, petani kan membutuhkan perputaran modal lebih cepat. Sedangkan, membudidayakan jeruk Garut perlu waktu relatif lebih lama dan biaya lebih tinggi. Padahal, sebenarnya kalau dilihat dari nilai ekonomi dan permintaan konsumen itu jeruk Garut jauh lebih prospektif,” kata Rahmat, Rabu (27/11/2019).

Sejauh ini, Rahmat menuturkan perbanyakan bibit jeruk Garut hanya dilakukan dengan kultur jaringan dari mata tunas dari pohon induk yang dititipkan di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika di Tlekung Jawa Timur. Mata tempel dengan batang bawah biasanya red lemon itu dipelihara selama enam bulan di Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) untuk diperbanyak. Ujungnya, bibit-bibit tersebut disebar ke penangkar.

Dia mengakui, penyediaan jumlah bibit jeruk Garut tersebut hingga kini masih relatif terbatas.

“Di sisi kebutuhan, para penangkar bibit terhadap mata tempel jeruk Garut itu sekitar 200.000 per tahun. Tapi, kebutuhan itu tidak terpenuhi karena populasi dan produksinya masih sedikit. Makanya, nggak aneh bila buah jeruk Garut sulit ditemukan di pasaran. Buah jeruk Garut yang masih di pohonnya saja sudah habis dipesan konsumen,” ujar Rahmat.

Sebenarnya, dia menyebutkan budidaya tanaman jeruk itu dikembangkan di 14 kecamatan se-Kabupaten Garut. Terutama di Kecamatan Wanaraja, Karangpawitan, Sucinaraja, Samarang, dan Bayongbong. (Zainulmukhtar)


Editor : Doni Ramdhani