Pemkot Bandung Perkuat Guru BK Atasi Masalah Kesehatan Mental Siswa
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, kesehatan mental pelajar kini menjadi salah satu prioritas kebijakan publik di Kota Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, kesehatan mental pelajar kini menjadi salah satu prioritas kebijakan publik di Kota Bandung.
Hasil survei yang dilakukan sesuai amanat Kementerian kesehatan, menemukan sekitar 75 ribu pelajar dari tingkat SD hingga SMA mengalami masalah kesehatan mental mulai dari stres ringan hingga depresi berat.
“Kita tidak bisa menutup mata. Angka ini menunjukkan bahwa kesehatan mental anak-anak kita sedang menghadapi tantangan serius. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung harus hadir dengan solusi yang sistematis,” kata Farhan, Selasa 3 Maret 2026.
Menurut ia, langkah yang ditempuh Pemkot Bandung adalah memperkuat kapasitas guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah. Dinas Pendidikan (Disdik) bekerja sama dengan psikolog melatih guru BK agar mampu melakukan assessment awal terhadap kondisi mental siswa. Hasil assessment tersebut, kemudian dikonsultasikan dengan psikolog dan jika diperlukan siswa akan dirujuk ke puskesmas.
Farhan menekankan, setiap puskesmas di Kota Bandung kini wajib memiliki layanan psikologi klinis. “Sekolah tidak bisa berdiri sendiri. Kita bangun sistem rujukan yang jelas, dari guru BK ke psikolog lalu ke puskesmas. Dengan begitu, anak-anak yang membutuhkan bantuan bisa segera ditangani,” ucapnya.
Sambung ia, solusi bukan sekadar menambah jumlah psikolog di sekolah. Melainkan meningkatkan kapasitas guru BK agar lebih handal. “guru BK adalah garda terdepan. Mereka yang paling dekat dengan siswa sehari-hari. Maka yang harus kita lakukan adalah memperkuat kemampuan mereka,” ujar dia.
Faktor penyebab masalah kesehatan mental pelajar di Kota Bandung, dikemukakan Farhan cukup beragam. Mulai dari persaingan akademik yang semakin ketat, tekanan sosial, tuntutan yang meningkat hingga fenomena digital seperti fear of missing out (FOMO). Ia menilai, tantangan tersebut tidak bisa diatasi dengan pendekatan parsial.
“Kita harus melihat ini sebagai isu kebijakan publik. Pendidikan, kesehatan dan keluarga harus bergerak bersama. Pemerintah hadir sebagai penghubung agar semua pihak bisa berkolaborasi,” jelasnya.
Dengan kebijakan tersebut, pihaknya berharap dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sehat di mana sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik. Tetapi juga ruang aman bagi tumbuh kembang mental siswa.
“kesehatan mental pelajar adalah investasi jangka panjang. Jika anak-anak kita sehat secara mental, maka kualitas sumber daya manusia Kota Bandung di masa depan akan jauh lebih baik," tandas dia.***
Editor : JakaPermana


