Pemprov Jabar Berbenah, Hadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi di Penghujung 2024

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar apel kesiapsiagaan, berbenah menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di penghujung 2024.

Pemprov Jabar Berbenah, Hadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi di Penghujung 2024

INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar apel kesiapsiagaan, berbenah menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di penghujung 2024.

Sebab, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung memprediksi, puncak musim hujan akan terjadi di November 2024 hingga April 2025.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, per Oktober ini ada 473 kecamatan dari total 627 kecamatan atau 75,44 persen memiliki potensi pergerakan tanah skala menengah dan tinggi.

Maka dari itu, persiapan dan koordinasi harus dilakukan guna mencegah terjadinya korban jiwa pada potensi bencana yang akan terjadi selama fase ini.

Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat bey machmudin mengatakan, ada sejumlah daerah yang harus meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.

Antaranya Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi dan Jabar Selatan seperti Pangandaran.

"Ini bagian dari Pemprov melakukan simulasi bencana, ancaman bencana. BPBD provinsi dan koordinasi dengan kabupaten/kota, relawan, Polri siap siaga menghadapi bencana. Menghadapi bencana harus siap siaga," ujar bey machmudin usai apel di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu 30 Oktober 2024.

Dia meminta pemerintah kabupaten/kota dan masyarakat tidak lengah, karena ancaman bencana ini dapat memberi dampak berbahaya.

"Karena dari simulasi tadi, angkanya cukup mengerikan. Harus siap menghadapi bencana," ucapnya.

Soal anggaran, Pemprov Jabar kata bey machmudin telah menyiapkan dari alokasi Belanja Tidak Terduga (BTT). Dimana angkanya kini di akhir tahun di Rp125 miliar.

"Itu dari sisa anggaran. Tahun depan lebih besar lagi (disiapkan)," terangnya.

Sementara Kepala BMKG Stasiun Bandung Teguh Rahayu menuturkan, pihaknya akan selalu memberi update terkait prakiraan cuaca, mulai H-7 hingga beberapa jam sebelum kejadian untuk wilayah terdampak.

Dimana ini dapat menjadi bahan bagi masyarakat, untuk melakukan mitigasi terhadap dampak dari aktivitas hidrometeorologi yang terjadi.

Terlebih seluruh Jawa Barat akan memasuki tingkat curah hujan yang tinggi, dalam waktu dekat.

"Puncaknya November sampai April," imbuhnya.

Dalam apel kesiapsiagaan ini, BPBD Jabar bersama kabupaten/kota, TNI, Polri dan stakehokders terkait melakukan sejumlah simulasi penanganan bencana, seperti memasang tenda darurat dan lain-lain.

Tujuannya, untuk meminimalisir jumlah korban jiwa yang terdampak akibat bencana hidrometeorologi. (Yuliantono)


Editor : Ahmad Sayuti