Pemprov Jabar Dorong Industri Animasi
Pemprov Jabar mendorong industri kreatif animasi agar terus berkembang. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Iendra Sofyan memastikan, pihaknya sudah melakukan beberapa dukungan kepada industri ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pemprov Jabar mendorong industri kreatif animasi agar terus berkembang. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Iendra Sofyan memastikan, pihaknya sudah melakukan beberapa dukungan kepada industri ini.
Bahkan, kerja sama atau pelibatan langsung dengan para rumah produksi animasi juga sudah dilakukan.
"Saat ini beberapa studio animasi telah bekerjasama dengan beberapa SMK di Jawa Barat, beberapa program magang dan vokasi juga telah dimulai. Contohnya SMK di Cimahi dan Karawang," ujar Iendra baru-baru ini.
Meski Pemprov Jabar belum memberikan insentif khusus untuk industri animasi, tetapi kata dia sejumlah fasilitas lain turut diberikan sejak 2024 lalu.
"Untuk akses pembiayaan, secara khusus tidak ada, namun di tahun 2024 Pemprov Jabar melalui Disparbud Jabar mempertemukan studio animasi terkurasi melalui Indonesia Game Developer Index, dengan pasar/pembiayaan project dengan negara Prancis," ucapnya.
Saat itu, pemerintah provinsi menggandeng rumah produksi animasi lokal dan mengundang keterwakilan pelaku sektor serupa dari Amerika Serikat untuk kerja sama. Adapun hal ini dirasakannya masuk dalam sektor pengembangan untuk para pelaku animasi Jabar.
"Vokasinya dengan mitra kita juga Ayena Studio, dukungan lain akhir tahun lalu kita buat acara di Cimahi terkait animasi serta ngundang produser animasi Amerika ke Disparbud membuat workshop," kata dia.
Soal tantangan ke depan, Iendra memastikan soal pembiayaan memang masih menjadi kendala saat ini, namun di sisi lain untuk calon pekerja animasi ya g berstandar industri juga masih minim.
"Tantangan di lapangan selain akses pembiayaan, kurangnya calon pekerja animasi yg berstandar industri, serta kita masih dominan mengandalkan animasi luar untuk konsumsi kami, diharapkan intelektual properti (hak cipta) berbasis animasi diperkenalkan ke masyarakat/pasar dalam negeri," kata dia.
Dari segi pendidikan, sekolah animasi di Jabar cukup mendapatkan tempat di masyarakat, di mana banyak masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke sekolah dengan keahlian animasi ini. Seperti di SMK Telkom Bandung, meskipun baru dibuka dua tahun kemarin. Kini ada banyak siswa yang menempuh program ini.
Meski begitu, Kepala Program Keahlian animasi, SMK Telkom Bandung Redy N Saputra mengatakan, hal ini masih tergolong sedikit dibandingkan beberapa program keahlian lainnya.
"Kalau dilihat dari peminat, tentu animasi ini kalau di Indonesia ini masih jadi barang baru ya. Masih dianggap barang baru, kemudian berdampak kepada animo yang terlihat peminatnya itu sedikit," ujar Redy.
Sisi lain, dari segi SDM tenaga pengajar juga masih belum banyak untuk keahlian di animasi ini. Kemudian juga soal kebijakan pemerintah masih belum terlihat besar terhadap salah satu sektor industri kreatif tersebut.
"Ya memang dirasakan sangat kurang dari segi SDM, dari segi kebijakan aja ya, kebijakan dari pemerintah, kemudian dilihat dari struktur kurikulum di mana jam tambahan masih disamakan dengan keahlian SMK lainnya," kata dia.
Senada dengan Redy, Wakil Kepala Sekolah bidang Humas Hubin SMKN 2 Bandung Agus Hendrik Rivai mengatakan, persoalan SDM masih menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. Di sisi lain, untuk animo pendaftar tergolong tinggi pada keahlian animasi.
"Tantangannya ada dua, yang pertama adalah SDM, yang keduanya sarana. Karena kita ketahui, pertama SDM ya, SDM masih sangat cukup sedikit lah guru maupun tenaga ahli dalam bidang animasi yang mau bekerja di sekolah," kata Agus.
Adapun, dalam segi serapan alumni menjadi tenaga kerja ke beberapa perusahaan industri animasi di Indonesia punya cukup besar. SMKN 1 Bandung yang kini memiliki dua kelas untuk keahlian animasi, sudah menghasilkan beberapa alumni di perusahaan dengan klien luar negeri.
"Memang berdasarkan hasil survei internal gitu ya, tenaga internal, untuk siswa animasi ini 60 persen sampai 70 persen itu menyebabkan keperluan tinggi. Selebihnya bekerja dan berwira swasta sebagai animator," katanya.
"Kami juga bekerja sama dengan PT Patopo yang bergerak dalam industri kreatif, animasi. Di mana mereka turut menarik tenaga kerja dari kami dan itu sudah ada MoU," jelasnya.
Editor : Doni Ramdhani

