Pemprov Jabar Masih Optimistis Laju Ekonomi Bertahan Meski Nilai Rupiah Melemah

Pemprov Jabar masih optimistis kondisi ekonomi daerah tumbuh kuat, meski nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah.

Pemprov Jabar Masih Optimistis Laju Ekonomi Bertahan Meski Nilai Rupiah Melemah
Sekda Jabar Herman Suryatman mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Jabar pada Triwulan I mencapai 5,79 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi daerah masih berada dalam kondisi yang sehat. (yuliantono)

INILAHKORAN.ID - Pemprov Jabar masih optimistis kondisi ekonomi daerah tumbuh kuat, meski nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah.

Sekda Jabar Herman Suryatman mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Jabar pada Triwulan I mencapai 5,79 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi daerah masih berada dalam kondisi yang sehat.

Menurutnya, sejumlah indikator utama perekonomian masih bergerak positif, mulai dari belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, investasi hingga kinerja perdagangan luar negeri.

"Kalau melihat nilai ekonomi Triwulan 1, laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat di angka 5,79 persen, di atas rata-rata nasional," ujar Herman di Kota Bandung, Rabu (17/6/2026).

Dia menjelaskan, pertumbuhan tersebut ditopang berbagai sektor ekonomi yang tetap berjalan baik. Belanja pemerintah masih bergerak, konsumsi masyarakat relatif terjaga, investasi tetap masuk, serta neraca perdagangan menunjukkan kinerja positif karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor.

"Artinya government spending jalan, konsumsi relatif bagus, kemudian investasi juga terjaga, dan ekspor-impor terjaga, di mana ekspor lebih besar dari impor," ujarnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Herman mengakui potensi PHK tetap ada. Namun, ia meyakini Jawa Barat memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan sejumlah daerah lain karena ditopang basis ekonomi yang besar.

"Kalau melihat ekonomi makro, Insya Allah Jawa Barat relatif bisa meminimalisasi kemungkinan-kemungkinan PHK," ucapnya.

Meski demikian, Herman tidak menutup mata terhadap dampak perlambatan ekonomi dunia yang dapat merambat ke tingkat nasional hingga daerah. Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi agar dampaknya terhadap dunia usaha dan tenaga kerja dapat ditekan semaksimal mungkin.

"Penduduknya juga paling besar, 51 juta, dan kue pembangunan serta produk domestik regional kita juga besar. Tapi kalau diperbandingkan dengan beban yang begitu besar, kita ikhtiarkan kalaupun ada, sangat minimal sekali," sambung Herman.

Dia menegaskan, tantangan yang dihadapi saat ini tidak terlepas dari situasi ekonomi global yang berpengaruh terhadap perekonomian nasional.

"Karena bagaimanapun juga ini dampak perekonomian global yang kemudian mempengaruhi nasional, yang pada akhirnya kita juga akan terdampak," ujarnya.

Terkait industri yang masih bergantung pada bahan baku impor dan rentan terhadap pelemahan rupiah, Herman menyebut Pemprov Jabar terus mendorong penguatan produk lokal dan peningkatan penggunaan komponen dalam negeri.

Kebijakan tersebut, kata dia, telah lama menjadi bagian dari strategi pemerintah, termasuk dalam mekanisme pengadaan barang dan jasa.

"Saya kira itu kan dari dulu kita lakukan bagaimana penguatan lokal, produk lokal menjadi prioritas," katanya.

Menurut Herman, keberpihakan terhadap produk lokal dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi instrumen penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.

"Saya kira dari dulu kita mendorong terus bagaimana meminimalisasi produk impor. Bahkan itu menjadi kebijakan dalam pengadaan barang dan jasa. Dan ini terus kita ikhtiarkan," tandasnya.

Nilai tukar rupiah hari ini Rp17.756 per 1 dolar. Bahkan sebelumnya sempat menyentuh angka Rp18 ribu lebih, imbas geopolitik global. 


Editor : Doni Ramdhani