Peneliti Pustaka IPB University Sarankan GLOW KRB Dihentikan

Peneliti IPB University menyarankan cahaya artifisial di wisata malam GLOW KRB dihentikan lantaran berdampak negatif kepada kehidupan satwa.

Peneliti Pustaka IPB University Sarankan GLOW KRB Dihentikan
Cahaya artisifial di wisata malam GLOW KRB berdampak negatif terhadap kehidupan satwa.


INILAHKORAN, Bogor - Hasil studi pustaka peneliti dari IPB University menyebutkan jika cahaya artifisial atau Artificial Light at Night (ALAN) yang digunakan wisata malam GLOW di Kebun Raya Bogor (KRB) berdampak negatif terhadap kehidupan tumbuhan dan satwa.

"Jadi pengaruh cahaya artifisial akan mengganggu ekofisiologi tumbuhan, perilaku satwa dan dapat meningkatkan mortalitas pada satwa di KRB," ungkap Ketua Tim Peneliti Pustaka IPB University, Damayanti dalam keterangan tertulis pada Minggu 26 Desember 2021.

Damayanti melanjutkan, tim peneliti Pustka IPB University awalnya hendak melaksanakan studi terhadap GLOW dalam waktu singkat, namun pada akhirnya melakukan studi pustaka atau literature review terhdap cahaya artifisial yang digunakan pada GLOW.

"Dari kajian ilmiah yang hadir sejauh ini, banyak studi terhadap cahaya artifisial terhadap flora fauna. Di samping itu, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor 2011-2031, KRB merupakan kawasan kelestarian alam untuk perlindunhan plasma nutfah. Jadi ketika sudah masuk kawasan pelestarian, ada konsekuensi bila akan dikembangkan untuk usaha komersial," terangnya.

Baca Juga: bank bjb dan IPB University Sepakati Kerja Sama Layanan Perbankan

Damayanti membeberkan, apabila wisata malam GLOW diberlakukan, cahaya artifisial yang dihasilkan bisa menyebabkan gangguan lingkungan. Hal itu dikarenakan mengubah ritme jam biologi, khususnya tumbuhan yang ada di KRB. Apabila ada cahaya artifisial pada malam hari, akan terjadi fotosintesis yang akan menurunkan laju pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.

"Apalagi pada tumbuhan sukulen atau kaktus, yang ada di Taman Meksiko yang menjadi salah satu kawasan GLOW. Dimana pengikatan CO2 di udara pada malam gelap bisa berkurang. Cahaya artifisial ini juga mengganggu interaksi tumbuhan dan koordinatornya. Bisa serangga, kelelawar. Bahkan beberapa studi menunjukkan akan ada perbuahan metabolisme dalam sel-sel tersebut. Bahkan bisa menuju pada kematian pada pohon berusia ratusan tahun," bebernya.

Ia juga menambahkan, tidak hanya pada tumbuhan, hadirnya cahaya artifisial dari GLOW dapat berdampak pada satwa liar baik dari sisi ekologi maupun fisiologi. Serta berpengaruh pada serangga, dan serangga penyerbuk.

"Semisalnya pada serangga yang mudah beradaptasi. Serangga bisa mengubah perilakunya yang biasanya aktif di malam hari, justru menjadi inaktif karena ada cahaya artifisial. Dengan adanya studi pustaka ini, tim peneliti IPB University menyarankan agar KRB mengentikan kegiatan GLOW yang menggunakan cahaya artifisial," tambahnya.

Baca Juga: Duh...13 Kios IPB Dramaga Hangus Dilalap Api

Damayanti menekankan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga harus memenuhi syarat-syarat yang tertera dalam Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan UU No 32 Tahun 2009 yaitu melakukan studi kelayakan (feasibility study) tentang kajian dampak lingkungan hidup (AMDAL) berdasarkan sains yang solid dan kuat.

"Yang masih jadi pertanyaan, apakah proyek GLOW sudah didahului oleh feasibility study?. Sejauh mana cahaya artifisial berdampak terhadap fisiologi tumbuhan, komunitas satwa, dan bahkan mengancam integritas KRB sebagai suatu ekosistem?," tegasnya.

Sementara itu, anggota tim peneliti, Triadiati memaparkan, pihaknya juga melaksanakan penelitian langsung di lokasi GLOW KRB. Bersama dengan tim dari KRB yang juga disetujui oleh BRIN dari proposal yang diajukan. Penelitian itu, dilakukan selama empat jam setiap akhir pekan, dalam enam bulan ke depan. Dengan tujuan, dampak yang dihasilkan nyata, sesuai dengan rencana dibukanya GLOW nanti.

Baca Juga: Geger Jenazah Mahasiswa IPB Tergeletak di Kebun, Ada Bekas Gigitan Ular di Tubuhnya

"Jadi mohon ditunggu. Itu paling cepat bisa kamj lakukan jntuk bisa mengambil data, itu kajian untuk melihat perubahan metabolisme dalam sel. Kalau dilihat pada sel ada perubahan, pasti di level individu akan ada perubahan," tuturnya.

Terapisah, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB, Ernan Rustiadi, mengatakan kajian ini sebelumnya sudah disampaikan ke lingkup pimpinan IPB secara internal. Serta disampaikan ke Wali Kota Bogor yang meminta kajian soal GLOW di KRB.

"Kami berharap semua bisa melihat pandangan IPB secara formal melalui kajian ini yang berbasis pada perspektif ilmiah. Hasil kajian ini juga dibuat buku, dibagikan terbuka kepada publik," pungkasnya. *** (Rizki Mauludi)


Editor : inilahkoran