Penelitian Terbaru Sebut Kurangi Konsumsi Protein Bisa Bikin Awet Muda

Benarkah mengonsumsi lebih sedikit protein bisa memperpanjang usia? Penelitian terbaru ungkap pembatasan asam amino bantu cegah penuaan dini

Penelitian Terbaru Sebut Kurangi Konsumsi Protein Bisa Bikin Awet Muda
Penelitian Terbaru Sebut Kurangi Konsumsi Protein Bisa Bikin Awet Muda

INILAHKORAN.ID - Banyak orang berasumsi bahwa mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi selalu berdampak baik bagi kesehatan tubuh. Namun, temuan ilmiah terbaru justru mengungkapkan fakta sebaliknya terkait proses penuaan dan umur panjang (longevity).

​Berdasarkan laporan penelitian terbaru yang dilansir dari Healthline, membatasi asupan protein—khususnya jenis asam amino tertentu—dapat mendukung proses penuaan yang lebih sehat (healthy aging) serta membantu memperpanjang usia harapan hidup.

​Analisis Lebih dari 350 Penelitian

​Tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Cell Press Blue menganalisis lebih dari 350 studi laboratorium dan uji coba pada hewan. 

Para peneliti menemukan bahwa pengurangan asupan protein secara moderat memberikan sejumlah manfaat signifikan bagi tubuh, antara lain:

​Meningkatkan Fungsi Metabolisme: Membantu mengoptimalkan cara tubuh mengolah energi.

​Meredakan Peradangan (Inflamasi): Mengurangi risiko penyakit kronis yang kerap muncul seiring bertambahnya usia.

​Mengurangi Kerusakan Selular: Mendorong proses autofagi, yaitu kemampuan alami tubuh untuk membersihkan dan memperbarui sel-sel yang rusak.

​Peran Asam Amino Tertentu dalam Penuaan

​Dalam penelitian tersebut, fokus pembatasan ditujukan pada asam amino esensial seperti metionin, isoleusin, dan valin.

​Asam amino ini jika dikonsumsi berlebihan dapat memicu jalur biologi pertumbuhan (growth pathways) yang terus-menerus aktif. Jalur pertumbuhan yang berlebihan saat usia dewasa justru dapat meningkatkan risiko obesitas, penuaan sel dini, dan peradangan.

​Pada uji coba terhadap hewan pengerat, pembatasan asam amino valin bahkan terbukti mampu memperpanjang usia harapan hidup tikus jantan hingga 23 persen. Selain itu, penyesuaian asupan ini memicu peningkatan hormon FGF21 yang berperan penting dalam pembakaran energi dan menekan stres oksidatif.

​Apakah Aturan Ini Berlaku untuk Semua Orang?

​Meskipun hasil penelitian pada hewan dan uji klinis jangka pendek menunjukkan tren positif terhadap penurunan kadar gula darah dan lemak tubuh, para ahli mengingatkan bahwa asupan protein harus disesuaikan dengan kebutuhan individu.

​Orang Dewasa Muda dan Sedentari: Kebanyakan orang dengan aktivitas fisik rendah (sedentary) cenderung mengonsumsi protein melebihi kebutuhan harian yang disarankan. Kelompok ini berpotensi mendapatkan manfaat positif dari pembatasan asupan protein.

​Lansia (Lanjut Usia): Sebaliknya, lansia justru memerlukan asupan protein yang lebih tinggi (sekitar 1,0 - 1,2 gram per kg berat badan) untuk mencegah penurunan massa otot (sarkopenia) dan menjaga kekuatan tulang.


Editor : Firda Rachmawati