Penjelasan Buya Yahya Soal Hukum Tahlilan 7, 40, dan 100 Hari Kematian, Ternyata...

Tahlilan, tradisi mendoakan orang meninggal dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan salawat, telah lama membaur dalam budaya masyarakat Islam Indonesia.

Penjelasan Buya Yahya Soal Hukum Tahlilan 7, 40, dan 100 Hari Kematian, Ternyata...
Penjelasan Buya Yahya Soal Hukum Tahlilan 7, 40, dan 100 Hari Kematian, Ternyata...

INILAHKORAN, Bandung – Tahlilan, tradisi mendoakan orang meninggal dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan salawat, telah lama membaur dalam budaya masyarakat Islam Indonesia.

Namun, tahlilan 7, 40, dan 100 hari sering kali menjadi perdebatan, dengan pertanyaan tentang dasar hukumnya dalam Islam.

Buya Yahya, dalam salah satu ceramahnya, menjelaskan bahwa tahlilan secara umum diperbolehkan dalam Islam.

Merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW, beliau menerangkan bahwa pahala amal sholeh, termasuk doa dan bacaan Al-Qur'an, dapat dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal.

"Tahlilan itu boleh, tidak ada masalah. Membaca Al-Qur'an, mendoakan, itu semua boleh. Pahalanya sampai kepada orang yang meninggal,” jelas Buya Yahya.

Lebih lanjut, Buya Yahya menuturkan pendapat para ulama tentang tahlilan 7, 40, dan 100 hari.

Beliau menjelaskan bahwa tidak ada dasar Hukum yang spesifik dalam Islam untuk menentukan hari-hari tersebut. Angka-angka tersebut lebih merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat.

"Memang tidak ada dalil yang spesifik tentang 7 hari, 40 hari, 100 hari. Itu lebih kepada tradisi," ungkap Buya Yahya.

Namun, Buya Yahya menegaskan bahwa tradisi tahlilan 7, 40, dan 100 hari memiliki makna dan manfaat yang positif.

Tradisi ini menjadi momen untuk mendoakan orang yang telah meninggal, mengenang kebaikannya, dan mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan kerabat.

"Meskipun tidak ada dalil spesifik, tahlilan tetap memiliki makna dan manfaa. Kita mendoakan orang tua, mendoakan keluarga yang sudah meninggal, dan mempererat silaturahmi,” ujar Buya Yahya.

Buya Yahya pun berpesan agar tahlilan dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam.

Hindari bid'ah dan khurafat, serta fokuslah pada mendoakan orang yang meninggal dan memperbanyak amal sholeh untuk mereka.

"Yang penting, tahlilan dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai syariat," pesan Buya Yahya.

"Jangan sampai ada bid'ah atau khurafat. Fokuslah pada mendoakan dan beramal sholeh untuk orang yang telah meninggal,” tandasnya.***


Editor : Yosep Saepul Ramadan