Penumpukan Sampah Bisa Diantisipasi, Bandung Percepat Program Pengiriman ke Luar Kota
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mempercepat pengiriman sampah ke luar kota, sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi penumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti. Langkah itu, menjadi penting menyusul penghentian sementara operasional insinerator sesuai instruksi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mempercepat pengiriman sampah ke luar Kota, sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi penumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti. Langkah itu, menjadi penting menyusul penghentian sementara operasional insinerator sesuai instruksi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Kepala DLH Kota Bandung, Darto menjelaskan, program pengiriman sampah ke luar Kota tersebut dijalankan sebagai cadangan pengolahan. "Program ini dijalankan sebagai backup plan, kalau misalnya TPA Sarimukti mengalami kendala pengolahan. Belum lagi ditambah penghentian sementara operasional insinerator sesuai instruksi oleh KLH. Kita kan belum optimal sepenuhnya. Jadi, kalau ada kendala, kita tidak boleh sampai berhenti begitu saja," kata Darto, Senin 26 Januari 2026.
pengiriman sampah Kota Bandung dilakukan ke beberapa lokasi, termasuk Cibinong dan Bekasi. Di Bekasi, sampah terlebih dahulu diolah menjadi refuse derived fuel (RDF) sebelum dimanfaatkan kembali. Selain itu, beberapa sampah juga dikirim ke Indocement untuk pengolahan industri langsung tanpa proses tambahan.
Saat ini, volume sampah yang dikirim ke luar Kota mencapai sekitar 50-100 ton per hari meskipun kapasitas program belum penuh. "Saat ini kita sudah berjalan di angka 50 ton per hari, tapi belum penuh. Artinya, tidak semua kuota terpakai," ucapnya.
Menurut ia, frekuensi pengiriman tergantung pada kondisi sampah sehingga tidak selalu dilakukan setiap hari. Kebutuhan pengiriman tersebut, menjadi mendesak setelah sejumlah insinerator berhenti beroperasi. "Pengganti insinerator, karena 15 insinerator itu setidaknya ada 110 hingga 120 ton yang diserap oleh insinerator dan itu harus segera dicarikan pengganti," ujar dia.
Kata Darto, pengolahan sementara dilakukan dengan dua cara. Sampah yang dikirim ke Indocement bisa langsung diolah secara industri, sementara sampah yang dikirim ke Bekasi diolah terlebih dahulu menjadi RDF. "Kita ke Indocement, jadi kita punya dua plan kan. Yang satu industri itu bisa langsung tanpa pengolahan. Kalau yang Bekasi diolah," jelasnya.
Program tersebut, ditambahkan ia dimulai sekitar Oktober atau November 2025. Langkah itu, dinilai sangat penting agar pengolahan sampah di Kota Bandung tetap berjalan meskipun insinerator belum beroperasi secara penuh. "Dengan pengiriman sampah keluar kota, potensi penumpukan yang dapat mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat dapat diminimalisir," tandas dia.***
Editor : JakaPermana

