Perajin Perahu Khas Cikao Bandung, Hidup Segan Mati Tak Mau
Sebagian besar masyarakat di Indonesia, sepertinya sudah tak asing dengan yang namanya Perahu. Ya, alat transportasi air terbuat dari pilahan kayu ini mungkin masih menjadi salah satu andalan keperluan mobilitas warga. Apalagi, mereka yang bermukim di sekitar bantaran sungai ataupun danau buatan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Purwakarta – Sebagian besar masyarakat di Indonesia, sepertinya sudah tak asing dengan yang namanya Perahu. Ya, alat transportasi air terbuat dari pilahan kayu ini mungkin masih menjadi salah satu andalan keperluan mobilitas warga. Apalagi, mereka yang bermukim di sekitar bantaran sungai ataupun danau buatan.
Tahu nggak, ternyata salah satu alat transportasi ini pernah mengharumkan nama Desa Cikao Bandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Bahkan, konon desa yang lokasinya persis berada di bawah Bendungan Ir H Djuanda (Jatiluhur) itu dulunya merupakan pusat kerajinan perahu terbesar.
Sebelum banyak kendaraan bermotor, perahu merupakan satu-satunya alat transportasi yang paling digemari masyarakat di wilayah tersebut. Namun, seiring perkembangan zaman waktu, masa kejayaan perahu Cikao pun bengangsur sirna.
Karena, sudah mulai tak adanya peminat, satu persatu, para perajin yang ada di desa itu memilih gulung tikar. Saat ini, jumlah perajin yang masih bertahan hanya menyisakan beberapa orang, yang salah satunya adalah Abah Aca (70).
Menurut Kakek yang memiliki 16 cucu itu, dulu Cikao Bandung sempat termashyur. Bahkan, desa tersebut jauh lebih terkenal dari Purwakarta. Kondisi ini terjadi, karena di desa ini ada centra perajin perahu yang memang saat itu menjadi alat transportasi yang digemari.
“Di desa kami, dulu ada ratusan perajin perahu. Karena, saat itu perahu merupakan satu-satunya alat transportasi massal yang digemari,” ujar Bah Aca, belum lama ini.
Aca menuturkan, menurut cerita, Sungai Cikao yang ada di desanya itu dulunya menjadi satu-satunya akses penghubung antara Batavia ke Purwakarta dan daerah sekitarnya. Karena menjadi desa pelabuhan inilah, kata dia, masyarakat Cikao Bandung pun akhirnya tertarik dengan membuat perahu.
“Dulu, Cikao Bandung merupakan pelabuhan. Sehingga saat itu, Cikao Bandung menjadi wilayah paling ramai disinggahi para pedagang dan saudagar dari luar daerah, hingga luar negeri,” jelas dia.
Adapun ketertarikan warga untuk membuat transportasi ini berawal dari meniru perahu yang singgah di bibir sungai tersebut, hingga pada akhirnya keterampilan membuat perahu pun dikuasai oleh masyarakat Cikao. Aca sendiri mengaku, dirinya telah menggeluti usaha perahunya itu sejak 45 tahun silam.
Seiingatnya, dulu hampir semua kepala keluarga (KK) mampu membuat perahu. Selain digunakan sendiri, perahu tersebut banyak diminati oleh pembeli dari luar. Saat itulah, perahu Cikao banyak dicari orang dari peloksok daerah. Sehingga, Cikao Bandung juga terkenal dengan sebutan Kampung Perahu.
Namun, sambung dia, sebutan kampung perahu ini pun sirna. Seiring dibangunnya Bendung Walahar (Karawang) pada 1918 silam. Sehingga, arus air dari Sungai Citarum menuju hilir menjadi tertutup. Dengan kondisi ini, perahu tak bisa lagi menyusuri Sungai Citarum yang tembus ke Sungai Cikao.
Sejak saat itu, Sungai Cikao mulai sepi dari arus lalulintas perahu. Adapun perahu yang masih bertahan, adalah perahu yang mengangkut pasir ataupun bambu. Itupun, penggunanya adalah masyarakat di sekitar bantaran sungai tersebut.
“Di tutupnya Bendung Walahar tersebut, membuat peminat perahu menjadi berkurang,” kenang Aca.
Apalagi, sambung dia, saat ini kondisi sungai mengalami perubahan, karena terjadi pendangkalan dan sedimentasi. Kedua hal itu, membuat lesunya usaha kerajinan perahu, yang sebagian besar menjadi mata pencaharian masyarakat Cikao Bandung. Masa kejayaan perahu pun, mulai redup sejak 80-an.
Sejak awal 1990, dia menambahkan, usaha perahu yang digeluti masyarakat Cikao Bandung pun mengalami kemunduran parah. Hal itu, menyebabkan kerajinan perahu tak lagi diminati oleh generasi penerus. Karena, prospeknya dianggap kurang menjanjikan. Bahkan, di tahun milenium ini, pembeli perahu sangat jarang.
Kondisi redupnya nama Kampung Perahu ini pun diperparah dengan sepi order dan tak berminatnya generasi muda terhadap kerajinan perahu. Makanya, keberadaan kampung parahu ini bak pribahasa 'hidup segan mati tak mau'. (Asep Mulyana)
Editor : Bsafaat

