Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Budaya Mengakar Generasi Bersinar

BUDAYA tumbuh dari generasi muda. Anak-anak menjadi penjaga warisan Sunda.

Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Budaya Mengakar Generasi Bersinar
WARISAN BUDAYA: Seorang anak tampil pada kegiatan bertema “Ngamumule Budaya Sunda, Ngawangun Generasi Emas” di Teater Tertutup Dago Tea House, Kota Bandung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 untuk memperkuat peran anak sebagai generasi penerus, sekaligus penjaga warisan budaya daerah.

Oleh: Yuliantono

Suara pupuh mengalun dari panggung. Gerak lincah Tari Merak berpadu dengan ketegasan jurus pencak silat, sementara tawa dan tepuk tangan mengiringi penampilan anak-anak dari berbagai penjuru Jawa Barat. Di Teater Tertutup Dago Tea House, Kota Bandung, budaya Sunda tak sekadar dipentaskan, tetapi diwariskan kepada generasi yang kelak akan menjaganya.

Melalui Festival Kreasi Budaya Anak Jawa Barat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sekaligus memperkuat peran anak sebagai generasi penerus bangsa.

Mengusung tema "Ngamumule Budaya Sunda, Ngawangun Generasi Emas", festival tersebut menjadi ruang bagi ribuan anak mengekspresikan bakat, kreativitas, sekaligus mengenal lebih dekat akar budaya yang menjadi identitas mereka di tengah derasnya arus modernisasi.

Peringatan Hari Anak Nasional tingkat Provinsi Jawa Barat tahun ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Antusiasme anak-anak terlihat dari tingginya angka partisipasi pada berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Sebanyak 1.381 peserta mengikuti Pasanggiri Biantara Bahasa Sunda, Arab, dan Inggris. Sementara lebih dari 1.000 anak terlibat dalam kegiatan edukasi dan advokasi hak anak melalui program Ngopi Sahabat Goes to School.

Tak hanya itu, 774 anak mengikuti berbagai perlombaan seni dan budaya, mulai dari Tari Merak, Pencak Silat, Ngawih Pupuh, hingga Pemandu Acara. Puncak festival diikuti 893 perwakilan anak dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, mulai jenjang PAUD hingga SMA/SMK.

Salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut adalah pengukuhan Forum Anak Daerah Jawa Barat periode 2026–2028. Pada kesempatan yang sama, anak-anak juga membacakan Suara Anak Jawa Barat, yang berisi aspirasi mengenai perlindungan anak, pemenuhan hak-hak mereka, serta harapan akan lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat, Siska Gerfianti, yang membacakan sambutan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mengatakan pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dengan memastikan hak-hak anak terpenuhi.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen menghadirkan kebijakan dan program yang berpihak pada kepentingan terbaik anak. Festival Kreasi Budaya Anak Jawa Barat menjadi salah satu bentuk nyata pemberian ruang partisipasi bagi anak sekaligus upaya melestarikan budaya Sunda melalui kreativitas generasi muda,” ujar Siska.

Menurutnya, anak merupakan aset strategis yang akan menentukan kualitas masa depan bangsa. Karena itu, seluruh pihak memiliki tanggung jawab memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang.

Senada dengan itu, Staf Ahli Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bidang Hubungan Kelembagaan, Indra Gunawan, mengingatkan bahwa peringatan Hari Anak Nasional tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. 

Momentum tersebut harus menjadi pengingat bersama untuk memperkuat perlindungan anak dari berbagai ancaman, mulai dari kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, hingga perkawinan usia anak.

Dukungan juga datang dari Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Siti Muntamah. Menurutnya, menyediakan ruang yang aman dan positif bagi anak merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang berkualitas. (gin) 


Editor : Inilahkoran