Peringati Hari Pangan Sedunia XLII, Pemprov Jabar Gelar Pangan Murah dan Pecahkan Rekor MURI
Dalam rangka memeringati Hari Pangan Sedunia XLII, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama stakholder terkait menggelar pangan murah di 40 titik secara serentak, yang tersebar pada 27 kota/kabupaten dan berujung dengan memecahkan rekor MURI
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Dalam rangka memeringati Hari Pangan Sedunia XLII, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama stakholder terkait menggelar pangan murah di 40 titik secara serentak, yang tersebar pada 27 kota/kabupaten dan berujung dengan memecahkan rekor MURI. Salah satunya di Kiara Artha Park, Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Selasa 8 November 2022.
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul ulum mengapresiasi, dengan adanya partisipasi sejumlah stakeholder dalam mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Hadirnya gelar pangan murah di sejumlah daerah kabupaten/kota diharapkan dapat memberi banyak manfaat bagi masyarakat, dalam memenuhi kebutuhan pokok.
“Syukur alhamdulillah, hari ini kita bisa melaksanakan peringatan Hari Pangan Sedunia di Kota Bandung. Mudah-mudahan masyarakat Jawa Barat dapat menikmati kegiatan ini, dengan adanya pangan murah. Harapannya, masyarakat Jawa Barat yang 50 juta jiwa lebih ini bisa terpenuhi pangannya selama-lamanya. Tidak kurang pangan dalam bentuk apapun,” ujarnya usai kegiatan.
“Definisi masyarakat yang sejahtera adalah dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Itu adalah tugas pemerintah. Tetapi Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak bisa sendiri dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya pangan. Syukur alhamdulillah banyak yang membantu dalam ketersediaan pangan di Jawa Barat, baik itu pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional, pemerintah kota/kabupaten serta lain-lain,” imbuhnya.
Pak Uu –sapaan Uu Ruzhanul Ulum menambahkan, stok pangan di Jawa Barat pada saat ini dipastikan aman, bahkan sanggup menyuplai kebutuhan bagi provinsi lain salah satunya DKI Jakarta. Prestasi tersebut kata dia, berujung dengan hadirnya sejumlah penghargaan dari pemerintah pusat kepada Pemprov Jawa Barat, akan hadirnya program-program dalam menjaga ketahanan pangan.
“Untuk stok pangan, bukan hanya di Jawa Barat tetapi kita juga memberikan penyediaan terhadap provinsi lain terutama Jakarta. Sehingga Jawa Barat termasuk daerah penghasil pangan untuk wilayah nasional, termasuk disitu bahan pokok utama yaitu beras. Sehingga barusan juga tadi Badan Pangan Nasional mengucapkan terimakasih ke Pemprov Jawa Barat, karena bukan hanya sebagai penyedia, tetapi juga pengolah lewat inovasi-inovasi. Maka penghargaan yang diberikan pemerintah pusat kepada Jawa Barat, bukan hanya mampu produksi pangan yang melimpah tetapi juga inovasi dan lainnya,” ucapnya.
Dia melanjutkan, pihaknya berharap kegiatan gelar pangan murah dapat direplikasi daerah lain sehingga masyarakat dapat turut merasakan manfaat adanya Hari Pangan Sedunia. Selain itu, Pak Uu turut menghimbau kepada masyarakat untuk menuntut harga pangan yang terlampau murah, karena dikhawatirkan berimbas dengan petani.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat merambat ke daerah yang lain, sehingga masyarakat bisa merasakan adanya Hari Pangan Sedunia yang menghadirkan panga murah, sehat dan bergizi. Kemudian yang harus saya sampaikan juga, bahan pangan itu jangan terlalu murah yang penting terjangkau. Kalau terlalu murah, kasihan para petani, nanti mereka tidak semangat lagi untuk produksi. Terus nanti kita makan apa? Jadi tolong kepada masyarakat, jangan selalu minta harga bahan pokok murah, yang penting terjangkau. Dengan kenaikan ekonomi, sedikit inflasi dan kalau perlu inflasi jauh dibawah. Sehingga semua bisa terbantu, masyarakat juga petani,” terangnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat Mohamad Arifin Soedjayana menambahkan, dalam gelar pangan murah yang tersebar di 40 titik pada 27 kota/kabupaten, ada 11 bahan pokok yang dijual kepada masyarakat, dengan harga miring. Sehingga harapannya dapat meringankan masyarakat, dalam memenuhi kebutuhan pokok harian.
“Ini ada 11 bahan pokok yang ada di gelar pangan murah. Harganya beragam, ada yang turun Rp4000, ada juga yang Rp2000 lebih murah dari yang ada di pasaran biasa,” jelasnya.
Sementara Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menerangkan, rangkaian acara tersebut tidak lepas dari instruksi Presiden Joko Widodo untuk terus waspada terkait krisis pangan. Dia berharap, dengan adanya gelar pangan murah dapat menjaga pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di Jawa Barat.
Selain itu, dia juga mengapresiasi Pemprov Jawa Barat yang berhasil swasembada pangan dan bahkan menjadi salah satu daerah penyuplai kebutuhan pokok bagi provinsi lain di Indonesia. Arief berharap, hadirnya Jawa Barat bersama daerah lain yang menjadi lumbung pangan dapat menjaga stabilitas kebutuhan pokok nasional.
“Ada 40 titik (gelar pangan murah), sehingga Pemprov Jabar bisa mendapatkan rekor MURI. Kegiatan ini juga atas perintah dari Pak Presiden, bahwa kita harus terus waspada untuk masalah pangan. Dengan adanya tiga krisis di dunia hari ini, yaitu krisis energi, krisi pangan dan krisis keuangan. Khusus bidang pangan, hari ini kita memastikan bahwa harga kebutuhan pokok terjangkau di masyarakat. Inflasi harus tetapi dijaga supaya tidak terlalu jauh dengan pertumbuhan ekonomi. Hari ini Jawa Barat membuktikan, menjadi salah satu daerah yang bisa mengontrol inflasi,” kata Arief.
“Kita juga mengapresiasi teman-teman di Jawa Barat, karena daerah konsumsi seperti Jakarta itu enggak akan bisa hidup tanpa pangan, salah satunya dari Jawa Barat. Jawa Barat merupakan lumbung pangan nasional, salah satu yang baik. Ketersediaan juga sudah kita hitung dan cukup hingga akhir tahun. Yang perlu sama-sama kita waspadai adalah mengenai harga. Maka kita akan terus monitoring dan melakukan intervensi. Seperti hari ini, beras sedikit naik. Maka kita lakukan operasi pasar di seluruh Indonesia, dengan rata-rata 200 ribu ton. Ini akan terus kita lakukan sampai panen berikutnya. Jadi tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan pangan nasional,” tambahnya.
Sedangkan mengenai ketersediaan jelang natal dan tahun baru (Nataru), Arief mengatakan pihaknya tengah mengkaji dan berupaya bersiap dalam memastikan terjaminnya jumlah stok. Termasuk dengan upaya mendatangkan dari daerah lain, dalam memenuhi kebutuhan sejumlah wilayah yang diprediksi kurang tercukupi.
“Lonjakan Nataru, kita hitung sama-sama. Harus kita persiapkan dari sekarang, termasuk produk yang ketersediaannya dari daerah lain. Sehingga kita bisa lakukan percepatan mobilisasi stok,” ucapnya.
Menyikapi kenaikan harga kedelai yang dikeluhkan oleh pengrajin tahu dan tempe, Arief menjelaskan pihaknya telah memberikan subsidi kepada pelaku usaha tersebut agar dapat terus berproduksi. Subsidi ini tambah dia, akan dilakukan hingga akhir Desember mendatang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk tahu dan tempe.
“Khusus kedelai, kita berikan subsidi Rp1000 kepada seluruh pengrajin yang ada. Tentunya ada mekanisme validasi dari Kementerian Koperasi dan UMKM. ini diberikan sampai 31 Desember 2022. Untuk stok kedelai, memang di hitungan kami hanya akan mencukupi sampai pertengahan Desember. Tetapi kita akan melakukan percepatan untuk ketersediaannya dari luar. Tentunya dengan mengajak BUMN di bidang pangan dalam memenuhi kebutuhan nasional yang sampai 3 juta ton,” paparnya.
“Tetapi memang sesuai arahan Pak Presiden, dalam pengadaannya kita nomor satukan produk dalam negeri. Termasuk percepatan kita untuk memproduksi produk-produk yang bisa kita produksi dalam negeri, contohnya kedelai. Sehingga perintahnya Pak Presiden kepada Menteri Pertanian adalah untuk mulai mengurangi ketergantungan impor, termasuk kedelai,” sambungnya.
Sedangkan PLT Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Bambang Pramono menerangkan, upaya-upaya seperti gelar pangan murah diharapkan dapat menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi terhadap laju inflasi. Dia pun memastikan, pihaknya akan terus hadir dalam membantu pemerintah untuk menjaga stabilitas agar laju inflasi tidak semakin tinggi.
“Alhamdulillah, kemarin pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat tertinggi se-Indonesia. Inflasi juga turun. Inflasi ini adalah musuh bersama secara global. Jadi kita harus bersama-sama berbagai cara dalam menjaga, melalui momentum yang terus dilakukan. Saat ini ketersediaan pasokan alhamdulillah cukup banyak. Jangan sampai produsen tidak mau produksi lagi, karena harganya terus turun. Ini harus ada upaya bersama, supaya petani dan konsumen terjaga daya belinya. Kami bersama OJK dan lembaga di sektor ekuangan siap membantu Pemprov, dalam menjaga untuk jangan sampai terjadi inflasi yang tinggi,” tandasnya. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti

