Peringati Hari Rabies Sedunia, Dispernakan KBB Targetkan Vaksinasi 2.000 Hewan

Dispernakan KBB menargetkan vaksinasi rabies gratis untuk 2.000 hewan dan membuka sterilisasi kucing bersubsidi dalam rangka Hari Rabies Sedunia 2026.

Peringati Hari Rabies Sedunia, Dispernakan KBB Targetkan Vaksinasi 2.000 Hewan
Petugas tengah memberikan vaksinasi rabies secara gratis untuk hewan peliharaan.

INILAHKORAN.ID- Dalam rangka memperingati Hari Rabies Sedunia 2026, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) meluncurkan rangkaian kegiatan pencegahan rabies yang menyasar seluruh lapisan masyarakat.

Salah satu program yang disiapkan yakni vaksinasi rabies gratis dengan target mencapai 2.000 ekor hewan.

Program tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan klinik hewan swasta, komunitas, serta sejumlah mitra korporasi seperti Indogrosir dan Me-O. Vaksinasi digelar di sejumlah titik, termasuk wilayah Padalarang dan Lembang.

Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti mengatakan, selain vaksinasi rabies gratis, pihaknya juga membuka program Sterilisasi Kucing bersubsidi.

"Program sterilisasi kucing bersubsidi juga dibuka dengan target 100 ekor jantan dan 100 ekor betina," kata Wiwin, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, biaya sterilisasi yang diberlakukan melalui program subsidi tersebut sebesar Rp185.000 untuk kucing jantan dan Rp260.000 untuk kucing betina.

Layanan tersedia di Klinik Hewan Cempakamekar dan Klinik Hewan Cisarua. Masyarakat dapat memperoleh informasi melalui nomor 0812 2116 1676 untuk Klinik Hewan Cempakamekar dan 0821 2050 0301 untuk Klinik Hewan Cisarua.

Wiwin menjelaskan, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum hewan menjalani sterilisasi. Hewan harus dalam kondisi sehat dan berusia minimal tujuh bulan.

Selain itu, hewan harus dipuasakan selama delapan jam sebelum tindakan. Untuk kucing betina, sterilisasi tidak diperuntukkan bagi hewan yang sedang bunting atau harus sudah berjarak minimal 1,5 bulan setelah melahirkan.

Tak hanya mengandalkan vaksinasi dan sterilisasi, Dispernakan KBB juga memperkuat sistem deteksi dini melalui jaringan kader zoonosis di tingkat desa.

"Kami (Dispernakan) juga memperkuat jaringan kader zoonosis di desa-desa sebagai mata dan telinga deteksi dini," sebutnya.

Wiwin mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan setiap kasus gigitan hewan yang berpotensi menularkan rabies.

Laporan tersebut diperlukan agar petugas dapat segera melakukan observasi dan investigasi terhadap kasus gigitan.

Menurutnya, keterlambatan pelaporan dapat meningkatkan risiko penularan karena keberadaan virus berpotensi tidak terdeteksi hingga penanganan menjadi terlambat.

"Kader adalah garda terdepan kami. Tanpa laporan cepat dari warga dan kader, kami tidak bisa bergerak cepat," imbuhnya.

Wiwin mengajak masyarakat turut berperan dalam upaya pencegahan rabies melalui vaksinasi hewan, pelaporan kasus gigitan serta kepedulian terhadap Kesehatan Hewan di lingkungan masing-masing.

"Mari bersama-sama wujudkan Bandung Barat dan Indonesia bebas rabies pada 2030," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana