Pj Wali Kota Bogor Apresiasi BPBD dan OPD Terkait Dalam Penanganan juga Mitigasi Bencana
Penjabat (Pj) Wali Kota Bogor, Hery Antasari meminta agar jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait kebencanaan tetap siaga ditengah cuaca ekstrim yang kerap terjadi di wilayah Kota Bogor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Penjabat (Pj) Wali Kota Bogor, Hery Antasari meminta agar jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait kebencanaan tetap siaga ditengah cuaca ekstrim yang kerap terjadi di wilayah Kota Bogor.
Hery Antasari mengatakan, dari sisi prosedur BPBD Kota Bogor sudah sangat berpengalaman dalam melakukan mitigasi dan penanganan kebencanaan.
"Termasuk juga apa yang sudah dilakukan dari unsur kewilayahan, Dinsos, semua, termasuk unsur media, dalam rangka kami menyebarluaskan informasi kepada masyarakat untuk kewaspadaan dan kesiapsiagaan serta penanganan yang dilakukan oleh Pemkot Bogor," ungkap Hery kepada INILAHKORAN pada Kamis 9 Mei 2024.
Hery memaparkan, mengenai sistem peringatan dini atau Early Warning System, seharusnya bisa dilakukan untuk mengantisipasi ataupun meminimalisir dampak bencana. Namun meski itu sudah berjalan, peristiwa bencana, musibah, seringkali terjadi diluar dari apa yang sudah diprediksi.
"Sehingga yang terpenting adalah bahwa tidak ada korban jiwa. Dan kalaupun ada korban luka, seperti yang kemarin di lokasi longsor dan rumah ambruk) ada satu pemilik rumah mengalami luka itu sudah ditangani dengan baik. Alhamdulillah sudah baik-baik saja, saya sudah tengok dan ada di tempat relokasi sementara)," paparnya.
Hery menjelaskan, dirinya memastikan kondisi warga yang terkena bencana ditangani dengan baik, tentunya Pemkot Bogor cepat menyalurkan bantuan berupa paket sembako dan juga uang tunai untuk membantu meringankan apa yang dialami korban bencana.
"Kami sudah melakukan penanganan tanggap darurat pada longsor dan rumah ambruk milik Ma Acih yang dihuni dua kepala keluarga (KK) dan tiga jiwa di RT 004/008 Kelurahan Bondongan dilakukan dengan memasang terpal, pembersihan lokasi dari puing-puing dan membongkar sisa material yang bisa membahayakan warga sekitar oleh BPBD bersama petugas gabungan," jelasnya.
Hery membeberkan, sementara itu, di lokasi TPT Longsor bantaran sungai di Jalan Raya Cilebut, Kelurahan Sukaresmi, pihaknya melakukan inspeksi terhadap peristiwa bencana yang berdampak pada menyempitnya akses mobilitas kendaraan di Jalan Raya Cilebut, yang menyebabkan kendaraan dari arah Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor menuju Stasiun Cilebut, Kabupaten Bogor harus bergantian.
"Ini akses dua daerah yang sangat krusial, sehingga ada potensi bila tidak ditangani segera maka ini akan menjadi bencana lanjutan, akan semakin tergerus badan jalan, yang dikhawatirkan lama-lama jalur ini putus. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi longsor susulan, BPBD Kota Bogor sudah memasang terpal untuk menghalau air hujan agar tidak langsung mengenai tebing," bebernya.
Hery menambahkan, penanganan tanggap darurat juga dilakukan dengan membersihkan puing di lokasi agar tidak menyumbat aliran air sungai Cisadane. Selanjutnya, dalam upaya penanganan secara permanen, Pemkot akan mengirimkan surat kepada pihak Provinsi Jawa Barat. Sebab, akses jalan dan TPT berada dibawah kewenangan Provinsi Jawa Barat.
"Iya, jadi kami akan berkirim surat ke untuk penanganan bersamanya ini seperti apa. Tentunya, dalam melakukan antisipasi ataupun penanganan Pemkot Bogor hadir di tengah masyarakat. Saya mengapresiasi peran dari wilayah, BPBD, PUPR serta berbagai dinas teknis lainnya. Meski kami menyadari dalam melakukan penanganan dan penanggulangan untuk jangka panjang perlu dilakukan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut, karena hal teknis dan kewenangan yang perlu dikoordinasikan," tambahnya.
Seperti halnya penanganan warga terkena bencana atau warga di lokasi rawan bencana dengan dilakukan relokasi ke tempat permanen, Hery mengatakan bahwa itu tidak bisa dilihat satu persatu, namun lebih dari itu perlu perencanaan secara menyeluruh untuk penataan yang lebih besar.
"Kalau jangka panjang tentu kita terus berupaya menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan dan membangun di bantaran sungai. Yang sudah okelah sudah, nanti coba kita cari solusi. Tapi untuk ke depan kalau bisa kita tidak lagi (tinggal dan mendirikan bangunan) di bantaran sungai karena berisiko. Itu saya kira yang terbaik untuk jangka panjang dan jangka menengah," katanya.
Ia juga mengatakan, pada musim penghujan di tengah cuaca yang tak menentu ini pihaknya sudah menyampaikan kepada RT/RW untuk selalu waspada, serta bekerjasama dengan kewilayahan dan BPBD mengenai informasi apabila terindikasi air sungai meninggi.
"Jadi ketika di hulu sudah hujan, itu harus mulai ada imbauan kepada masyarakat di bantaran untuk waspada. Antisipasi. Jadi siskamlingnya tidak hanya tengah malam, tapi siskamling siang untuk mengingatkan kalau cuaca seperti ini misal di hulunya sudah mulai hujan, ada berita di berbagai saluran. Berarti wilayah bantaran sungai harus lebih waspada, jangan sampai meninggalkan orangtua sendiri di rumah, dan sebagainya," pungkasnya.*** (Yuliantono)
Editor : JakaPermana


