Prihatin Ada Anak Muda Terpapar Ideologi Terlarang, Juragan Jabar Gencar Berikan Pemahaman dan Makna Pancasila 

Relawan JURAGAN atau Jaringan Rakyat Untuk Ganjar berinisiatif menggelar workshop yang melibatkan puluhan anak muda di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Prihatin Ada Anak Muda Terpapar Ideologi Terlarang, Juragan Jabar Gencar Berikan Pemahaman dan Makna Pancasila 

INILAHKORAN, Ngamprah - Maraknya generasi muda yang kerap terjebak dalam ideologi yang menolak atau anti Pancasila menuai keprihatinan sejumlah pihak.

Akibatnya, banyak dari mereka yang kehilangan arah sehingga nekat melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri dan masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, relawan JURAGAN atau Jaringan Rakyat Untuk Ganjar berinisiatif menggelar workshop yang melibatkan puluhan anak muda di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

"Saya tengah konsen terhadap generasi z atau anak-anak dimana mereka hari ini tidak paham sama sekali tentang ideologi bangsanya," kata Koordinator Relawan JURAGAN Jabar, Riani Soedarmo saat ditemui disela kegiatan workshop di Saung Coet di Desa Cigugur Girang, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat.

Riani mengakui dirinya memulai kegiatan workshop tersebut dari desanya sendiri, yakni Desa Cigugur Girang dan beberapa melaksanakan kegiatan yang sama, termasuk bekerja sama dengan pihak Kecamatan Parongpong.

Tujuannya satu, yakni ingin terus menggulirkan atau membumikan ideologi Pancasila kepada anak-anak muda yang memang sekarang ini mereka tidak mendapatkan pengetahuan tentang itu.

"Di sekolah kan udah gak ada pelajaran tentang Pancasila itu. Nah, kebetulan saya juga dibantu oleh sahabat-sahabat saya dari Jaka Tarub atau Jaringan Kerja Antar Umat Beragama," jelasnya.

"Saya bekerjasama dengan mereka yang memang siap dan bersedia membantu," sambungnya.

Kendati begitu, Riani menegaskan, kegiatan workshopnya tidak hanya dilakukan pada momen-momen politik seperti saat ini. Namun, bakal terus berlanjut, khususnya untuk di KBB.

"Saya sudah berhasil di Parongpong, mudah-mudahan nanti kecamatan lainnya," ujarnya.

Riani mengaku miris dengan kondisi anak-anak muda sekarang yang tidak memahami ideologi bangsanya sendiri. Hal itu diketahui lantaran dalam kegiatan tersebut ada tiga orang peserta yang terpapar ideologi ekstrem.

Kendati demikian, ketiganya kembali kepada ideologi Pancasila lantaran merasa tidak sejalan dengan hati nurani mereka.

"Kita rangkul semua dan membuat WhatsApp Grup (WAG)nya. Nantinya, Cigugur Girang bakal dijadikan Desa Pancasila," ujarnya.

Riani melanjutkan, berdasarkan pengakuan ketiga peserta yang sempat terpapar ideologi anti Pancasila mengaku di desanya merupakan basis salah satu organisasi transnasional yang sudah dibubarkan pemerintah.

"Mereka terpaparnya di desa sini (Cigugur Girang). Jadi, dalam kegiatan ini kami mengundang 25 orang anak-anak muda dari semua desa di Kecamatan Parongpong," sebutnya.

"Di sini mereka mendapatkan pemahaman tentang ideologi bangsa, kenapa Pancasila, kenapa negara ini memiliki ideologi Pancasila dan berbagai edukasi lainnya yang berkaitan dengan ideologi bangsa," tandasnya.

Di tempat yang sama, Aktivis Dialog Lintas Iman, Wawan Gunawan mengaku melihat fenomena yang diriset oleh pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali menyebut bahwa 10 tahun terakhir yang pro Pancasila menurun 10 persen dan sebaliknya yang anti Pancasila naik 10 persen.

"Itu artinya kalau dibiarkan bakal semakin buruk karena saya mengikuti riset ini dari 2011," ucapnya.

"Jadi guru-guru yang anti Pancasila yang asalnya 12 persen, belakang bisa 50-60 persen. Itu risetnya PPIM Jakarta.Tapi, intinya ada tren orang melupakan Pancasila dan bercita-cita tentang negara syariat," sambungnya.

Wawan menyebut, saat ini ada tiga fenomena yang muncul dalam keagamaan, salah satunya munculnya kelompok-kelompok ekstrem.

"Bahkan, dalam isu politiknya mereka mencita-citakan sebuah negara agama, sehingga lahir kelompok ekstrem dan  kita tahu terorisme banyak di kita," ungkap yang juga narasumber dari Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jaka Tarub) ini.

Kedua, lanjut Wawan, bertumbuhnya kelompok keagamaan yang memonopoli tafsir agama dan tafsir tersebut diperuntukkan untuk membela kepentingan ekonomi dan politik.

"Terkadang seringkali anti kemanusiaan, misalnya gara-gara beda pilihan politik jenazahnya gak mau ada yabg menguburkan," ujarnya.

Ketiga, sambung Wawan, tumbuhnya paham keagamaan yang tidak selaras dengan paham kebangsaan. Alhasil, seolah-olah agama dan negara itu berdiri sendiri.

"Jadi, kita harus bela agama tapi tidak bela negara. Padahal, founding father kita dalam mendirikan negara itu sudah punya jawaban, yakni Pancasila," tegasnya.

Wawan menerangkan, Pancasila mengajarkan agar bangsa ini tidak berwawasan keagamaan yang ekstrem lantaran ada banyak agama yang diakui di negara ini.

"Kalau ingin agama kita dihormati, maka agama lain juga harus dihormati," imbuhnya.

Sebab, ungkap Wawan, dengan Pancasila para kyai dan ulama terdahulu ingin mengajarkan bela agama dan bela negara itu satu tarikan nafas.

"Dengan Pancasila juga kita mengakomodir semua tafsir agama yang  ada. Makanya, munculah di situ Bhineka Tunggal Ika," ungkapnya.

Atas keprihatinan itu, sebut Wawan, Teh Riani mengajak dirinya untuk mengadakan workshop seperti ini dengan menyasar anak muda.

"Itu sangat baik sekali karena mereka yang akan menjadi pemimpin-pemimpin dimasa yang akan datang," pungkasnya. *** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti