PTM 100 Persen di Kota Bandung Mulai Digelar Besok, Ini yang Harus Dijaga Siswa dan Guru

PTM 100 Persen di Kota Bandung sedianya akan dilaksanakan pada Senin 10 Januari 2022 besok. Hal ini harus dicermati warga sekolah.

PTM 100 Persen di Kota Bandung Mulai Digelar Besok, Ini yang Harus Dijaga Siswa dan Guru
PTM 100 Persen di Kota Bandung mulai digelar besok. Ini yang harus diperhatikan siswa dan guru.

INILAHKORAN, Bandung - PTM 100 Persen di Kota Bandung sedianya akan dilaksanakan pada Senin 10 Januari 2022 besok. Bagaimana kesiapan guru, tenaga kependidikan, dan siswa-siswinya?

Kepala Badan Bimbingan dan Konseling dan Pengembangan Karir Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Yusi Riksa Yustiana menyoroti rencana PTM 100 Persen di Kota Bandung. Dia menyebutkan, ada lima poin penting yang harus dicermati warga sekolah.

Dalam pelaksanaan PTM 100 Persen di Kota Bandung itu hal pertama yang kudu diperhatikan yakni menjaga diri dan menjaga orang lain. Dia mengatakan, dalam konsep pendidikan itu ada yang disebut self direction.

Baca Juga: Jelang PTM 100 Persen di Kota Bandung, FAGI Jabar Tuntut Kebijakan Khusus untuk Kantin Sekolah

"Misalnya, kalau kita menerapkan menggunakan masker, artinya pada saat kita menjaga diri dan menjaga orang lain itu bahwa dimanapun kita berada, kita sama-sama untuk menggunakan masker. Selain itu dalam pelaksanaan PTM 100 Persen di Kota Bandung itu harus secara sadar menetapkan pada saat ramai saat berkerumunan, kita menjaga jarak dan lainnya," kata Yusi, Minggu 9 Januari 2022.

Poin kedua yakni mengembangkan perilaku asertif-tegas pada diri sendiri dan orang lain untuk saling menjaga. Misalnya, temannya tidak memakai masker, dan maskernya disimpan, lalu mengajak untuk tidak memakai masker. Secera tegas, dia harus mengatakan harus memakai masker, dan tidak boleh dibuka maskernya.

"Jadi dia tegas sama diri sendiri dan sama orang lain. Intinya itu," singkatnya.

Baca Juga: Pakar : Mau PTM 100 Persen? Penuhi Dulu Syaratnya

Ketiga, mengembangkan sikap empathy karena kondisi pademi Covid-19. Masker itu hanya bertahan 4 jam. Artinya, kalau sekolah 8 jam pelajaran, maka dia wajib memakai masker lebih dari satu.

"Kita harus memiliki sikap empahty, kepada siapapun. Saya pikir anak-anak itu lebih tulus ketimbang orang dewasa," ucapnya.

Keempat, mengembalikan kegembiraan bersekolah. Setelah sekian lama di rumah karena pembelajaran jarak jauh (PJJ), kondisi ini membuat sesuatu yang agak kaku. Mungkin, sesuatu bermain, belajar bersama, itu bisa dibangun lagi bersama teman-teman.

Baca Juga: PTM 100 Persen di Kota Bandung Dilakukan Bertahap

"Mungkin loss learning, jadi anak-anak itu kehilangan gairah untuk belajarnya, karena anak-anak itu belajarnya sambil tidur, terus ketiduran dan lain sebagainya. Jadi semangat untuk mencintai belajarnya tidak terjadi," ujarnya.

Poin terakhir atau kelima adalah, mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dalam berelasi sosial yang sehat.

"Mungkin kita berfikir kalau kita ngobrol memakai masker itu nggak sopan, padahal bukan itu persoalannya, bukan sopan dan tidak sopan, tapi persoalan kita saling menjaga. Jadi artinya apa yang kita lakukan dengan prokes itu tidak membuat hati kita jauh dengan orang lain," jelas Yusi. (Okky Adiana)


Editor : inilahkoran