Puhun Pusaka Karatuan, Ritual Penyerahan Pusaka yang Tersembunyi di Goa Pawon

Ritual Puhun Pusaka Karatuan jadi salah satu peninggalan budaya yang masih dijalankan di Kawasan Karst Gunung Masigit.

Puhun Pusaka Karatuan, Ritual Penyerahan Pusaka yang Tersembunyi di Goa Pawon
Ritual Pusaka Karatuan i di Kawasan Karst Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

INILAH, Ngamprah - Alam Bandung Barat seakan menyimpan banyak misteri yang masih tersembunyi di dalamnya.

Salah satunya di Goa Pawon yang berlokasi di Kawasan Karst Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Selain situs manusia purba yang tersohor, di kawasan ini diyakini sebagai lokasi ritual khusus (ritus) para leluhur menyerahkan pusaka (senjata) pada keturunannya.

Di zamannya, menurunkan pusaka dari leluhur kepada keturunan harus dilakukan dengan ritual khusus. Hal itu pula yang dilakukan para leluhur yang menguasai Gunung Masigit yang menurunkan pusaka melalu ritual Puhun Pusaka Karatuan.

Sesepuh Goa Pawon, H. Elan Sumarna menceritakan, zaman dahulu Goa Pawon sering dipakai tempat ziarah para pendekar silat.

Baca Juga: Upacara Panyinglar Wiyasa, Tradisi Unik Warga Desa Nyalindung untuk Tolak Bala

"Di sana, ditemukan susuhunan (susunan) nama karuhun 41 Rama dan 25 Ibu. Dari deretan nama susunan Rama dan Ratu tersebut, diantaranya sering dipakai ziarah Susuhunan Ratu
Nyimas Ratu Sobrah Kancana, Nyimas Ratu Lereng Sintung, Nyimas Ratu Cucuk Konde, Nyimas Ratu Karembong Mayang," tuturnya.

Menurutnya, nama empat Susuhunan Ratu dari 25 keseluruhan yang ada tersebut identik dengan nama perkakas wanita yang kemudian dipakai senjata untuk bela diri pencak silat.

“Sebenarnya, itu parabot istri (perkakas wanita), tapi bisa dipakai senjata pencak silat. Seperti cucuk konde dan sobrah (gelung palsu) dan Karembong (selendang),” bebernya.

Kendati hanya perkakas wanita, kata dia, namun ketika digerakan dengan kekuatan ilmu, mampu menumbangkan lawan.

"Untuk menguasai ilmu pencak silat, tentunya keturunan dari para leluhur ini sebelumnya digembleng hingga benar-benar menguasai ilmunya," katanya.

Baca Juga: Memetik Pelajaran Berharga Dibalik Tradisi Hajat Arwah di Desa Nyalindung, Cipatat, KBB

Ia menilai, saat dipandang cukup mampu menggerakkan perkakas wanita menjadi senjata bela diri, maka diselenggarakan ritual penyerahan pusaka itu.

"Kini penyerahan pusaka tersebut dikulik kembali oleh para inohong Sunda seperti Nanu Munajar Dahlan atau kerap dipanggil Abah Nanu yang sekaligus sebagai menggagas melakukan ritual Panuhun Pusaka Karatuan di Goa Pawon," paparnya.

Sementara itu, Abah Nanu mengungkapkan, dari sekian keratuan, yang bisa diaktualisasikan pada saat ini dalam gerakan pencak silat, baru sobrah, cucuk konde dan karembong.

"Penggagas gerak silat menggunakan pusaka tersebut adalah salah satu seniman Sunda, yakni almarhumah Hj. Enni," ungkapnya.

Ia menuturkan, dalam sebuah acara almarhumah Hj. Enni tampil di Singapura dengan menggunakan perkakas tersebut lantaran peralatan yang biasa digunakan tertinggal.

“Saat mau ngibing, beliau lupa tidak bawa senjata seperti biasanya. Jadi dia pergunakan sobrah, tusuk konde dan selendang untuk dijadikan senjatanya,” tuturnya.

Ia menjelaskan, gerakan yang dilakukan almarhumah tersebut, lebih bersifat spontan. Kemudian dikembangkan oleh Padepokan Pasir Ipis di Jayagiri Kecamatan Lembang, Pimpinan Abah Asep.

"Saat kali pertama diadakan Upacara Panuhun Pusaka Karatuan di Goa Pawon ini, ibing tersebut dipertontonkan di hadapan para kasepuhan, termasuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Usup Suherman mengatakan, pihaknya berencana untuk mereview Goa Pawon agar menjadi Kawasan Geopark Rajamandala.

"Saya akan mencoba mengeksplor kembali bagaimana pengembangan di Goa Pawon. Karena saya melihat potensi di Gua Pawon potensinya bagus dikembangkan,” katanya.

Baca Juga: Menapaki Jejak Sejarah Kewedanan Cililin

Pada tahun 2022, sebut dia, pihaknya telah mengajukan anggaran untuk rencana kelanjutan pengembangan Museum Gua Pawon ke Provinsi Jawa Barat sebesar Rp20 miliar.

Pasalnya, pembangunan Museum Goa Pawon selama ini vakum, bahkan mangkrak. Sehingga perlu dilanjutkan kembali lantaran museum tersebut sangat dibutuhkan untuk menyimpan artefak di sana.

"Untuk pengembangan Goa Pawon, bisa diadakan pagelaran-pagelaran, berupa festival sesuai yang diharapkan para sesepuh dan inohong," tandasnya. *** (agus satia negara).

 


Editor : inilahkoran