Pulau Jeju Tidak Aman? 4 Orang Hilang Ditemukan Tewas Misterius dalam 3 Hari
4 orang yang hilang di Pulau Jeju ditemukan meninggal secara misterius dalam waktu 3 hari.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Saat ini nama Pulau Jeju tengah menjadi perbincangan di media sosial usai viralnya berita orang hilang yang ditemukan tewas.
Pulau Jeju, destinasi wisata populer di Korea Selatan, menjadi sorotan tajam setelah ditemukannya jenazah empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang antara tanggal 22 dan 24 Agustus 2026.
Penemuan ini memicu kekhawatiran luas di dunia maya, terutama karena terjadi di tengah skandal kepolisian yang melibatkan seorang petugas yang dituduh menutup kasus orang hilang secara tidak benar.
Namun, terlepas dari meningkatnya spekulasi tentang kemungkinan adanya pembunuh berantai atau kejahatan terorganisir, pihak berwenang belum menemukan hubungan antara keempat kematian tersebut. Hingga saat ini, kasus-kasus tersebut masih dalam penyelidikan.
kasus yang paling banyak dipantau melibatkan Jang Mi Ran, wanita berusia 37 tahun, yang menghilang dan memunculkan pertanyaan serius tentang bagaimana laporan orang hilang ditangani oleh polisi.
Jang Mi Ran dilaporkan hilang setelah meninggalkan tempat tinggal jangka panjangnya di Hallim-eup, Kota Jeju, pada 12 Mei 2026.
Pacarnya melaporkan kehilangannya ke polisi, tetapi penyelidik kemudian menemukan bahwa petugas yang ditugaskan untuk kasusnya diduga telah menutup kasus tersebut sebelum waktunya tanpa benar-benar memastikan keselamatannya.
Petugas tersebut dilaporkan mengatakan kepada pacarnya bahwa dia telah berbicara dengan Jang Mi Ran dan bahwa dia tidak ingin keberadaannya diungkapkan.
Penyelidik kemudian menemukan bahwa tidak ada catatan panggilan telepon tersebut yang berkaitan dengan Jang Mi Ran.
Keluarga Jang Mi Ran kemudian mengajukan laporan lain, yang mendorong pihak berwenang untuk melanjutkan pencarian.
Kemudian, pada tanggal 24 Agustus 2026, lebih dari 100 hari setelah menghilang, tubuhnya ditemukan di hutan sekitar satu kilometer dari tempat penginapan yang dia tinggali.
polisi kemudian mengkonfirmasi melalui catatan gigi bahwa jenazah tersebut adalah Jang Mi Ran. Analisis DNA tambahan sedang dilakukan, sementara pihak berwenang terus menyelidiki penyebab pasti kematiannya.
Karena jenazah sudah sangat membusuk, polisi mengatakan sulit untuk menentukan apakah ada tanda-tanda trauma eksternal.
Selain itu, dilaporkan tidak ada indikasi langsung adanya tindak kejahatan berdasarkan kondisi jenazah tersebut.
Kontroversi tersebut menjadi semakin serius setelah pihak berwenang menemukan bahwa petugas yang sama diduga telah salah menangani kasus orang hilang lainnya.
Korban kedua adalah seorang pria berusia 60-an yang dilaporkan hilang pada tanggal 2 Juli 2026. Dia ditemukan meninggal 51 hari kemudian, pada tanggal 22 Agustus 2026.
Para penyelidik dilaporkan menyimpulkan bahwa petugas tersebut juga telah menutup kasus ini sebelum waktunya tanpa memverifikasi keberadaan pria tersebut dengan benar.
Petugas tersebut kemudian ditangkap karena dicurigai melakukan berbagai pelanggaran, termasuk kelalaian dalam menjalankan tugas, memalsukan catatan elektronik resmi, dan menghalangi tugas resmi melalui penipuan.
Mungkin detail yang paling mengkhawatirkan adalah banyaknya kasus yang sebelumnya ditangani oleh petugas tersebut.
Pihak berwenang mengkonfirmasi bahwa dia telah menangani 298 laporan orang hilang selama masa tugasnya di Kantor polisi Jeju Barat.
Badan Kepolisian Nasional telah memerintahkan peninjauan komprehensif terhadap semua 298 kasus untuk menentukan apakah ada kasus lain di mana laporan orang hilang ditutup secara tidak benar.
Oleh karena itu, pengungkapan ini telah menggeser sebagian besar fokus publik dari spekulasi tentang kematian itu sendiri ke pertanyaan tentang kegagalan sistemik dalam prosedur penanganan orang hilang di Jeju.
Situasi menjadi semakin mengkhawatirkan ketika ditemukan mayat tambahan di sekitar Jeju selama periode yang sama.
Pada tanggal 23 Agustus 2026, seorang pria yang diyakini berusia 70-an ditemukan tewas di perairan lepas Jocheon-eup, Kota Jeju, setelah seorang nelayan di daerah tersebut menemukan mayat tersebut.
Seorang pria lain yang hilang ditemukan tewas di dekat sebuah lembah di Aewol pada tanggal 24 Agustus 2026.
Bersama dengan mayat Jang Mi Ran dan mayat pria berusia 60-an yang ditemukan pada tanggal 22 Agustus, penemuan tersebut menjadikan total empat mayat dalam tiga hari.
Pada tahap ini, belum ada bukti yang terkonfirmasi bahwa keempat kasus tersebut saling terkait. Waktu penemuan tersebut, dikombinasikan dengan dugaan kesalahan penanganan dua kasus orang hilang oleh petugas polisi, telah memicu spekulasi daring.
Beberapa pengguna media sosial telah mengemukakan teori yang melibatkan kemungkinan pembunuh berantai, perdagangan manusia, atau kejahatan terorganisir.
Namun, teori-teori ini masih belum terbukti kebenarannya. Pihak berwenang sedang menyelidiki setiap kasus secara terpisah, dan belum ada konfirmasi resmi bahwa kematian tersebut disebabkan oleh pelaku atau organisasi kriminal yang sama.
Kontroversi ini sangat mengkhawatirkan karena jenazah Jang Mi Ran ditemukan sangat dekat dengan tempat tinggalnya. Fakta bahwa lebih dari tiga bulan berlalu sebelum jenazah ditemukan menimbulkan pertanyaan apakah pencarian yang lebih awal dan lebih menyeluruh dapat menghasilkan hasil yang berbeda.
Dugaan keputusan petugas untuk menutup kasus tanpa memastikan keselamatan Jang Mi Ran dengan benar telah menjadi fokus utama penyelidikan.
Pihak berwenang kini sedang meninjau kasus-kasus sebelumnya yang ditangani petugas tersebut untuk menentukan apakah kegagalan serupa terjadi di tempat lain.***
Editor : Irma Nurfajri

