Seorang Polisi Ditangkap Usai Sengaja Menutup 298 Kasus Orang Hilang di Pulau Jeju

Polisis ya g menangani kasus orang hilang di pulau Jeju telah menutur 298 kasus serupa.

Seorang Polisi Ditangkap Usai Sengaja Menutup 298 Kasus Orang Hilang di Pulau Jeju
Polisis yang menangani kasus orang hilang di Jeju.

INILAHKORAN, Bandung - Pada hari Selasa, 25 Agustus 2026, seorang polisi di Pulau Jeju akhirnya ditangkap terkait kasus 4 orang hilang yang ditemukan meninggal.

Seorang polisi Jeju ditangkap karena sengaja menutup kasus orang hilang, yang bukan hanya satu kasus melainkan 298 kasus orang hilang termasuk Jang Mi Ran yang ditemukan meninggal baru-baru ini.

polisi tersebut memberi tahu keluarga-keluarga korban bahwa orang-orang tercinta mereka aman, lalu diam-diam menghapus kasus-kasus tersebut dari sistem orang hilang di Pulau Jeju.

kasus ini terbongkar karena hilangnya Jang Mi Ran, yang ternyata mengungkap penyamaran yang jauh lebih besar.

Jang Mi Ran yang berusia 37 tahun, dilaporkan hilang pada tanggal 12 Mei 2026. Pacarnya melaporkannya, dan polisi yang ditugaskan ke kasus itu memberi tahu bahwa dia telah menghubunginya, menyebutkan Jang Mi Ran aman dan bahwa tidak ingin lokasinya dibagikan ke siapa pun, lalu kasus orang hilang itu ditutup pada malam yang sama. 

Kemudian terungkap bahwa tidak ada catatan polisi pernah benar-benar menghubungi Jang Mi Ran yang dinyatakan hilang sejak 12 Mei tersebut.

Setelah polisi itu diidentifikasi dan terseret, penyidik menelusuri kembali kasus-kasus lamanya. 

Dari tangga 22 hingga 24 Agustus 2026, mereka menemukan empat jenazah orang-orang yang pernah dilaporkan hilang termasuk Jang Mi-ran yang ditemukan 104 hari setelah dia hilang.

Jenazah Jang Mi Ran ditemukan hanya beberapa menit berjalan kaki dari tempat dia menginap di Pulau Jeju tersebut. 

Tiga jenazah lainnya adalah tiga orang pria, dua diantaranya berusia 60-an dan satu berusia 70 tahunan.

Sejak wewenang jaksa untuk melakukan penyelidikan tambahan dihapuskan, kecemasan publik semakin memuncak atas bagaimana seorang polisi tunggal bisa membunuh ratusan kasus dengan hampir tidak ada cara bagi siapa pun untuk mendeteksinya.

Dugaan keputusan petugas untuk menutup kasus tanpa memastikan keselamatan para korban dengan benar telah menjadi fokus utama penyelidikan. 

Pihak berwenang kini sedang meninjau kasus-kasus sebelumnya yang ditangani petugas tersebut untuk menentukan apakah kegagalan serupa terjadi di tempat lain.***


Editor : Irma Nurfajri