Puluhan Tahun Lapuk Dimakan Usia, Masjid di Gununghalu KBB ini Bakal Direlokasi 

Rasa syukur tak henti terucap dari mulut Abah Dede (57) salah satu tokoh Kampung Ciharendong, RT 03/04 Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) lantaran Masjid Al-Barokah tempat warganya beribadah mendapatkan bantuan dari Tim Jelajah Mesjid Nusantara (JMN) Yayasan Mesjid Nusantara (YMN).

Puluhan Tahun Lapuk Dimakan Usia, Masjid di Gununghalu KBB ini Bakal Direlokasi 
Masjid Al-Barokah di Gunung Halu Kabupaten Bandung Barat mendapatkan bantuan dari Tim Jelajah Mesjid Nusantara (JMN) Yayasan Mesjid Nusantara (YMN)./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Ngamprah - Rasa syukur tak henti terucap dari mulut Abah Dede (57) salah satu tokoh Kampung Ciharendong, RT 03/04 Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) lantaran Masjid Al-Barokah tempat warganya beribadah mendapatkan bantuan dari Tim Jelajah Mesjid Nusantara (JMN) Yayasan Mesjid Nusantara (YMN).

Dipilihnya relokasi mesjid Al-Barokah di pelosok Bandung Barat oleh Tim JMN dari Yayasan Masjid Nusantara lantaran kondisinya yang sangat memprihatinkan.

Bangunan berupa rangka kayu, papan semen dan atap genteng itu telah lapuk dimakan usia hingga nyaris roboh. Ironisnya, saat turun hujan warga khawatir bangunan roboh sehingga kegiatan keagamaan hanya dilakukan saat cuaca bagus.

Abah Dede (57) mengatakan, mesjid Al-Barokah berukuran 6x5 meter sudah berusia puluhan tahun. Mesjid tersebut dibangun swadaya masyarakat dan rangka kayu sudah lapuk dimakan rayap, plafon juga hancur diterpa air hujan dari atap yang bocor.

"Mesjid Al-Barokah ini sudah tak aman, bagian dinding dari kayu sudah lapuk termakan rayap, bagian atap juga sudah bocor, mau kita perbaiki khawatir malah roboh," katanya kepada wartawan.

Menurutnya, mesjid Al-Barokah menjadi satu-satunya tempat kegiatan ibadah warga mulai dari salat berjamaah, pembelajaran anak ba'da magrib, pengajian mingguan dan kegiatan hari besar Islam.

"Mesjid ini dibangun swadaya warga, dindingnya dari GRC dan rangka kayu," ungkapnya.

"Dengan kondisi saat ini kegiatan keagamaan warga hanya dilakukan jika cuaca sedang tidak hujan, kalau hujan bocor dan khawatir roboh menimpa jamaah. Kalau untuk membangun warga juga bingung," sambungnya.

Abah Dede menyebut, warga sangat berharap bisa memiliki mesjid yang lebih nyaman dan aman lantaran mesjid terdekat berjarak 2 kilometer dari kampung Ciharendong melalui perkebunan teh dan persawahan.

"Warga juga sebenarnya ingin memperbaiki, tetapi kalau mengandalkan swadaya belum mampu," ucapnya.

Ketua RT setempat, Hasan (35) menjelaskan, kampung Ciharendong dihuni 52 Kepala Keluarga (KK) dengan 150 jiwa dan berada di tengah perkebunan teh Montaya.

Selain itu, mayoritas mata pencaharian warga petani Sereh Wangi, namun pendapatan mereka tidak menentu apalagi dengan harga jual minyak sereh yang sangat minim.

"Kalau untuk membangun mesjid warga belum mampu, untuk kebutuhan sehari-hari saja masih kurang," paparnya.

Secara geografis, sambung Hasan, kampung Ciharendong berada di tengah perkebunan Montaya berjarak 8 kilometer dari kantor Kecamatan Gununghalu. 

Untuk bisa mencapai lokasi harus melintasi Gunung Datar Nangka, akses jalan masih berbatu melalui beberapa bukit terjal.

"Ada dua akses jalan, jika melalui jalan perkebunan 8 kilometer, tapi kalau jalan memutar bisa 16 kilometer ke kantor kecamatan Gununghalu," bebernya.

Sementara itu, Direktur YMN, Pras Purworo menuturkan, sejak 2012 pihaknya telah memperbaiki dan membangun 84 masjid di pelosok Indonesia dengan total donasi Rp 11,2 miliar.

"Dipilihnya relokasi mesjid Al-Barokah di pelosok Bandung Barat karena bangunan yang ada saat ini cukup memprihatinkan," ujarnya .

Padahal, kata Pras, mesjid ini keberadaannya sangat dibutuhkan masyarakat untuk kegiatan ibadah dan pengajaran anak-anak.

"Kami berencana merelokasi bangunan mesjid ke lokasi yang baru setelah Abah Dede mewakafkan tanahnya, Insya Alloh bangunan mesjid baru berukuran 9x9 meter, sehingga bisa digunakan Salat Jumat," bebernya.

Pras berharap, rencana pembangunan mesjid menggugah budaya gotong royong warga serta meningkatkan minat warga untuk memakmurkan mesjid.

"Tim kami sudah memulai pembangunan, dalam waktu dua bulan mungkin bangunan mesjid baru sudah berdiri dan memberi kenyamanan warga untuk beribadah," pungkasnya.***(agus satia negara)


Editor : JakaPermana