Sempat Vakum Lantaran Pandemi Covid-19, Perajin Rotan di Kabupaten Cirebon Mulai Beraktivitas

Para pelaku UMKM khususnya perajin rotan di Kabupaten Cirebon kini mulai beraktivitas kembali pasca berhenti lantaran pandemi Covid-19

Sempat Vakum Lantaran Pandemi Covid-19, Perajin Rotan di Kabupaten Cirebon Mulai Beraktivitas
Geliat ekonomi pada level Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Cirebon mulai bergairah. Salahsatunya dirasakan para perajin rotan di Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.

 

INILAHKORAN, Cirebon - Geliat ekonomi pada level Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Cirebon mulai bergairah. Salahsatunya dirasakan para perajin rotan di Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.

Para perajin rotan mulai kembali beraktivitas pasca sempat mandeg saat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Tercatat, hampir dua tahun lebih UMKM di Kabupaten Cirebon sempat tidak bisa bangkit.

Saat ini, perajin rotan  sedikit sedikit mulai bangkit dan mulai mengerjakan pesanan. Pasalnya, beberapa perusahaan rotan di Kabupaten Cirebon, mulai banyak orderan dari luar negeri, terutama pangsa pasar eropa. Hal itu membuat mereka bisa kembali mencari penghasilan tambahan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Empat Pejabat Promosi Jadi Kepala Dinas, Ini Pesan Bupati Bogor Ade Yasin

"Lumayan mas, sekarang sudah bisa kembali membuat keranjang dari rotan lagi. Mulai lancar sih sejak awal tahun kemarin," ungkap  Daryati (62 tahun) salah seorang pengrajin di desa setempat, Senin 21 Maret 2022.

Menurutnya, walau dalam menjalankan aktivitas membuat anyaman rotan, hanya sebatas sampingan namun dirasa sangat membantu kebutuhan hidup sehari-hari.

"Ini sih hanya sampingan saja, sambil mengisi waktu luang daripada  nganggur," ungkapnya.

Daryati mengatakan, jika hanya mengandalkan penghasilan keseharian dari aktivitasnya hanya sebatas  buruh tani dinilai belum mencukupi. Sehingga penghasilan dari membuat kerajinan rotan pun dinilai cukup bisa membantu kebutuhan hidup bersama seorang anaknya.

Baca Juga: Terapkan Kurikulum Anti Korupsi di Jawa Barat, Para Jaksa Bakal 'Mengajar' di Sekolah

"Sehari saya hanya mampu membuat minimal 3 sampai 5 keranjang rotan saja dan itupun dibantu anak saya.

Satu keranjang dihargai 8 ribu rupiah oleh pengepul. Lumayan saja bisa diambil per minggu uangnya bisa mencapai 300 ribu," ucapnya.

Pengrajin lainnya, Abdul Walik (35 tahun) turut merasakan geliat warga setempat yang bisa mendapatkan penghasilan lebih dari membuat anyaman rotan. Meski dirinya tidak tahu persis penyebab bisnis kerajin dan fornitur sempat vacum selama pandemi, namun dampak ekonomi bisa dirasakan dari sisi penghasilan.

"Tapi gak tau ya apa penyebabnya kerajinan rotan sempat berhenti. Saya sih hanya berharap kepada pemerintah untuk bisa menjaga kestabilan ekonomi sehingga ekonomi bisa terus tumbuh," tukasnya. (maman suharman)


Editor : inilahkoran