Ribuan Siswa NTT Belajar dalam Kondisi Darurat
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Pagi biasanya dimulai dengan langkah anak-anak menuju sekolah. Namun gempa mengubah kebiasaan itu. Ruang kelas yang sebelumnya menjadi tempat belajar harus ditinggalkan, sementara kegiatan pendidikan dipaksa mencari tempat lain agar tetap berjalan.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), ribuan anak kini menjalani masa belajar dalam situasi darurat. Gempa bumi berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten, dengan 177.678 peserta didik serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan ikut terdampak.
Pemerintah berupaya memastikan gempa tidak memutus langkah anak-anak menuju pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai mendistribusikan 100 tenda ruang kelas darurat yang ditargetkan dapat digunakan untuk belajar mulai pekan depan.
“Saat ini, kami sedang mendistribusikan 100 tenda ruang kelas yang diharapkan bisa mulai digunakan minggu depan,” kata Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat dalam konferensi pers daring BNPB, Kamis (20/8).
Tenda-tenda itu menjadi ruang belajar sementara ketika bangunan sekolah belum memungkinkan digunakan. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, ruang sederhana tersebut diharapkan dapat mengembalikan rutinitas belajar anak-anak.
Sebab bagi mereka, sekolah bukan hanya tentang dinding, meja, dan papan tulis. Sekolah juga berarti bertemu teman, mendengar guru, bermain saat jeda, dan merasakan kembali kehidupan yang perlahan kembali normal.
Kondisi di lapangan memang beragam. Sebanyak 923 satuan pendidikan masih melaksanakan pembelajaran dari rumah. Sebanyak 171 sekolah menggunakan pola pembelajaran lainnya, 35 sekolah telah memanfaatkan kelas darurat, sedangkan 30 sekolah masih dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka.
Pemerintah pun tidak hanya mengirimkan tempat belajar. Sebanyak 5.000 school kit, 1.500 family kit, 3.196 papan tulis, serta 123.522 buku disiapkan untuk membantu menghidupkan kembali aktivitas pendidikan.
Namun, ada luka yang tidak terlihat di balik kerusakan bangunan dan hilangnya fasilitas belajar. Anak-anak yang mengalami bencana juga membutuhkan ruang untuk memulihkan perasaan. (gin)
Editor : Inilahkoran

