Ridwan Kamil, Nur Rubaidah, dan Museum Tsunami Aceh

Ridwan Kamil, Nur Rubaidah, dan Museum Tsunami Aceh. Apa kaitannya tiga hal yang disebut di atas? Ternyata menyentuh hati...

Ridwan Kamil, Nur Rubaidah, dan Museum Tsunami Aceh

INILAHKORAN, Bandung- Museum Tsunami Aceh dirancang untuk tiga fungsi sekaligus. Sebuah rancangan yang menggugah emosional.

Nur Rubaidah nama perempuan itu. Sudah tak muda lagi. Usianya masuk 53 tahun. “Mata saya sudah mulai kabur,” kata wanita yang menghabiskan hamper seluruh usianya di makam kuburan Belanda di Kota Banda Aceh.

Tapi, pria itu masih tetap dia ingat. Padahal, peristiwa itu sudah lama terjadi. “Bapak itu hadir pada peletakan baru pertama pembangunan museum ini. Saya masih ingat wajahnya,” katanya, menjelang sore, Jumat 24 Desember 2021 lalu.

Baca Juga: Bisa 20 Kali Gajian! Fakta Terkait Gaji Karyawan Pertamina yang Keukeuh Mogok Kerja

Pria yang dia maksud itu adalah Ridwan Kamil. Sekitar 14 tahun lalu, Ridwan Kamil, datang ke Banda Aceh saat itu.

Bukan siapa-siapa. Belum jadi Wali Kota Bandung. Belum jadi Gubernur Jawa Barat. Dia pria yang baru lulus kuliah manajemen tata kota di Amerika Serikat dan memenangkan sayembara desain dan aristektur pembangunan Museum Tsunami Aceh.

Jumat lalu, Ridwan Kamil kembali datang ke museum ini. Kedatangan pertamanya sejak lima tahun lalu.

Baca Juga: Ridwan Kamil Bakal Gencar Keliling Indonesia Tahun Depan, Urusan Pilpres 2024?

Dia kembali ke salah satu bangunan karya arsitektur yang dia akui paling menguras emosionalnya.

“Selain desain bangunan Monumen Pahlawan Covid-19 Jawa Barat, ini desain yang sangat menguras emosional saya,” katanya di bawah Lorong Doa, sebuah bagian bangunan dengan cerobong di atasnya.

Dia masih ingat betapa peristiwa yang terjadi pada 26 Desember 2004 itu adalah bencana maha dahsyat di Tanah Air.

Di ujung utara Sumatera itu, lautan mengamuk. Ombak berketinggian hingga 51 meter tidak hanya menghajar kawasan pantai, tapi juga menyapu Kota Banda Aceh.

Itu terjadi setelah muncul pergeseran lempeng di Kawasan Samudera Pasifik. Peristiwa yang merenggut sekitar 220 ribu nyawa masyarakat Aceh. Hanya dalam sekejap.

Sebuah gempa berkekuatan 9,1 skala Richter, gempa terkuat ketiga di dunia sepanjang yang bisa dicatat dalam sejarah.

Baca Juga: Wejangan untuk Shin Tae Yong Usai Timnas Indonesia Melaju ke Final Piala AFF 2020

Sebagai arsitek, Emil berkisah betapa pergulatan emosional dia alami saat merancang desain bangunan museum dengan luas 2.500 meter ini. “Saya sering meneteskan air mata dalam rancang sketsanya,” katanya.

Duka itulah yang dia bawa kembali saat berada di Lorong Doa. Terutama saat dia melihat kembali daftar nama-nama sebagian korban yang ditorehkan di Lorong tersebut.

Museum Tsunami Aceh sendiri dia gambarkan sebagai bangunan yang multifungsi. Tentu saja, salah satu yang utama, adalah untuk mengenang bencana yang menyita perhatian seantero dunia itu.

Baca Juga: Lagi Viral! Kronologi Pemain Timnas Indonesia Ditantang Duel Suporter Singapura di Piala AFF 2020

“Ini sekaligus menjadi taman bermain. Jadi, jika ada pengunjung yang tak masuk ke dalam museum, dia bisa bermain di taman-taman di sekeliling museum,” katanya.

Fungsi lainnya adalah sebagai sarana pendidikan. Itu sebabnya, sebelum Lorong Doa, pengunjung bisa menikmati potongan film-film tentang tsunami tersebut.

“Sebagian pengunjung adalah anak-anak sekolah,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Aceh, Jamaluddin.

Tiap hari, sebutnya, Museum Tsunami bisa dikunjungi sampai seribu orang. Tapi, sejak pandemi, jumlah pengunjung turun hingga 30%. Sebab, sebagian calon pengunjung, yakni para pelajar, memang tidak bersekolah langsung.

Pembelajaran yang penting dari museum ini juga ada di Lorong Doa ini. Apa itu? Ridwan Kamil kemudian menunjuk cerobong itu.

“Bagaimanapun kita, pada akhirnya kita harus menunjuk kepada satu yang di atas. Apa itu?” tanya sambil menunjuk ke bagian tertinggi lorong tersebut sekaligus bagian tertinggi museum ini.

Baca Juga: Heboh Muncul Varian Delmicron Setelah Omicron, Pakar Kesehatan Beri Pesan Penting Ini

Di sana, tertulis lafaz Allah. Diawali dari ruang yang gelap, kemudian ditaburi sinar matahari, lafas tersebut terlihat dengan jelas.

Tetapi, fungsi paling utama museum ini adalah juga menjadi ruang penyelamatan. Itulah sebabnya, pada bagian teratas museum ini dibangun pelataran yang luas.

“Jadi, kalau ada peristiwa serupa, masyarakat bisa langsung naik ke atas untuk penyelamatan,” sebutnya.

Itulah sebabnya, sejak awal, Ridwan Kamil menyebut rancangannya sebagai Rumoh Aceh and Escape Hill. Sebuah rancang bangunan berkonsep rumah masyarakat Aceh sekaligus sebagai lokasi penyelamatan jika terjadi bencana tsunami lagi.

Baca Juga: Link Live Streaming Thailand vs Vietnam Malam Ini, Timnas Indonesia Tunggu Lawan di Final Piala AFF 2020

Bangunan ini, dalam kajian teori Charles Jencks, layak menjadi bagian arsitektur post-modern, dengan ragam pemahaman cara, rupa, bentuk, dan sebagainya. Dia juga jadi bagian dari penampilan hybrid exression.

Bagi Ridwan Kamil, bangunan Museum Tsunami Aceh ini adalah juga lambang pertalian hubungan antara Jawa Barat dan Aceh.

Sebuah pertalian yang sudah berlangsung lama, bahkan sebelum negeri ini merdeka.

“Kita sangat menghormati masyarakat Aceh sebagai saudara sebangsa dan setanah air,” katanya.

Baca Juga: Karyawan Pertamina Akan Mogok Kerja, Para Ojol Menyindir: Harusnya Bersyukur Gajinya Besar!

Itulah sebabnya, tangan-tangan yang membangun museum itu, kebanyakan juga didatangkan dari Jawa Barat.

Tenaga kerja saat membangun museum juga sebagian di antaranya dari Tanah Pasundan.

“Bahkan batu-batu bulat itu kita datangkan dari Padalarang. Diangkut dari Padalarang menggunakan truk sampai ke Aceh,” katanya.

Sebuah pertalian yang harus terus dilekatkan. Dia kemudian menggambarkan bagaimana Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap menjaga, merawat, dan melakukan renovasi terhadap Makam Tjut Nyak Dien, pejuang wanita asal Aceh yang dimakamkan dalam pembuangan di Sumedang.

Baca Juga: Terungkap, Ini Dia Sosok Aris Layangn Putus Dalam Kehidupan Nyata

Pertalian yang bisa digambarkan dengan pelukan bersahabat Ridwan Kamil dan Nur Rubaidah seusai kunjungan Emil ke Museum Tsunami Aceh itu.

“Mudah-mudahan ibu selalu sehat-sehat saja,” doa Emil untuk wanita yang tak pernah melupakan kehadirannya sejak museum itu mulai dibangun.***(zufirman)

 


Editor : inilahkoran