Rose Kembali Dituduh Abaikan BLACKPINK saat Dia Kembali Dukung Album Terbaru Bruno Mars
Rose kembali tunjukan dukungan untuk Bruno Mars yang tengah comeback dengan album baru namun dia malah me dapat kritikan netizen.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Rose BLACKPINK kini kembali dikritik hanya karena mendukung album baru Bruno Mars.
Baru-baru ini, Rose membagikan unggahan Instagram untuk mendukung teman dekat dan kolaborator musiknya, Bruno Mars.
Di mana Bruno Mars akan merilis album barunya yang dijadwalkan pada akhir bulan Februari 2026 ini.
Tindakan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai ungkapan persahabatan dan rasa hormat profesional, sampai tangkapan layar unggahan tersebut mulai beredar online, memicu gelombang kritik keras dari sebagian netizen terhadap Rose BLACKPINK..
Reaksi negatif tersebut membuat banyak penggemar dan pengamat netral bingung dengan kesalahan apa yang dilakukan Rose sehingga dia harus me dapat kritikan.
Setelah kesuksesan besar kolaborasi mereka 'APT', Rose dan Bruno Mars dipuji sebagai salah satu pasangan lintas industri yang paling serasi dan terkenal dalam musik internasional baru-baru ini.
Kecocokan musikal mereka mendapat pujian dari kritikus dan penonton, membuat dukungan publik Rose selama masa promosi Bruno Mars tampak sangat wajar.
Namun, beberapa pengguna online memilih untuk menafsirkan interaksi tersebut secara negatif, menuduh Rose "terlalu fokus" pada kolaborator di luar BLACKPINK.
Komentar yang lebih ekstrem bahkan sampai mengklaim bahwa dia mengabaikan atau kurang memperhatikan member grupnya BLACKPINK, interpretasi yang dengan cepat memicu gelombang komentar agresif dan kontroversi yang tidak perlu.
Sebagai tanggapan, banyak penggemar dan komentator netral turun tangan untuk membela Rose, dengan berargumen bahwa para artis, terlepas dari afiliasi grup mereka berhak atas hubungan pribadi, kehidupan sosial yang independen, dan jaringan profesional di luar band mereka.
Mendukung mantan kolaborator, kata mereka, bukan hanya praktik umum di industri musik tetapi juga tanda saling menghormati.
Para kritikus yang menanggapi reaksi negatif tersebut mempertanyakan apakah tingkat pengawasan yang diarahkan kepada Rose telah melampaui batas yang wajar.
Ketika setiap interaksi di media sosial dianalisis dan dianggap memiliki niat jahat, garis antara minat yang tulus dan kontrol yang berlebihan menjadi semakin kabur.
Insiden ini bukanlah hal yang unik. Rose, seperti banyak bintang papan atas lainnya, selalu berada di bawah pengawasan publik, di mana bahkan tindakan yang paling biasa pun dapat diperbesar menjadi kontroversi.
Situasi ini menyoroti ketegangan yang berulang dalam budaya penggemar modern, penggemar merayakan jangkauan global idola dan kolaborasi internasional mereka, namun terkadang bereaksi negatif ketika idola yang sama mengekspresikan individualitas di luar citra "berpusat pada grup" yang sudah dikenal.
Dilihat dari perspektif yang lebih luas, perdebatan seputar unggahan Instagram Rose mengungkap kontradiksi mendasar dalam fandom kontemporer.
Ada keinginan agar idola tumbuh, berkembang, dan berkolaborasi di panggung dunia, sementara pada saat yang sama diharapkan mereka tetap terbatas pada peran dan perilaku yang didefinisikan secara sempit.***
Editor : Irma Nurfajri


