Saat Bandung Kembali Menjadi Titik Temu Dunia
ASIA Africa Festival kembali menghidupkan wajah Kota Bandung. Tak sekadar perayaan budaya, festival ini juga memperkuat identitas kota di mata dunia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Dua hari pada 11–12 Juli 2026, kawasan Jalan Asia Afrika kembali dipenuhi warna-warni kostum, musik, dan langkah para peserta dari berbagai penjuru.
Bukan sekadar pesta budaya, Asia Africa Festival (AAF) 2026 kembali menghidupkan ingatan bahwa Bandung pernah menjadi titik lahir semangat persahabatan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
Festival tahunan itu menghadirkan ribuan peserta, seniman, komunitas, hingga delegasi dari berbagai negara.
Di tengah gegap gempita pertunjukan, Kota Bandung kembali memperlihatkan dirinya sebagai kota yang tak hanya kaya sejarah, tetapi juga mampu menjadikan warisan masa lalu tetap relevan di masa kini.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, AAF merupakan cara Kota Bandung menerjemahkan kembali semangat Konferensi Asia Afrika melalui pendekatan budaya yang lebih dekat dengan masyarakat.
"Asia Africa Festival adalah cara Kota Bandung meneruskan semangat persahabatan dan kerja sama antarbangsa melalui budaya. Nilai sejarah yang dimiliki Kota Bandung harus terus diterjemahkan dalam kegiatan yang relevan dengan perkembangan zaman," kata Farhan, Kamis (16/7).
Menurutnya, keberhasilan festival tidak hanya diukur dari banyaknya pengunjung yang datang, tetapi juga dari kemampuannya mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam satu ruang kolaborasi.
"Festival ini mempertemukan banyak unsur, mulai dari komunitas, seniman, generasi muda hingga delegasi internasional. Ini menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi jembatan untuk membangun hubungan yang lebih luas," ujarnya.
Salah satu magnet utama AAF 2026 adalah Asia Africa Carnaval. Sebanyak 23 komunitas, dua kabupaten/kota, serta peserta dari dua negara ambil bagian dengan total 1.380 peserta.
Karnaval tersebut juga dihadiri delegasi dari 28 negara dan disaksikan sekitar 9.800 pengunjung yang memadati kawasan Jalan Asia Afrika.
Semarak festival berlanjut di Gedung De' Majestik melalui Asia Africa Corner. Berbagai pertunjukan seni, pemutaran film, musik, teater, hingga diskusi kreatif berlangsung bergantian, menghadirkan ruang perjumpaan bagi seniman lokal dan tamu dari berbagai negara.
Bagi Farhan, kekuatan utama AAF justru lahir dari keterlibatan komunitas kreatif Bandung yang selama ini menjadi denyut kehidupan kota.
"Kota Bandung memiliki banyak komunitas kreatif yang menjadi aset penting kota ini. Melalui AAF, mereka mendapatkan ruang untuk menunjukkan karya sekaligus berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas," katanya.
Di balik panggung pertunjukan, festival juga menggerakkan roda perekonomian. Asia Africa Market yang diikuti 49 tenant dan 18 pengisi acara mencatat transaksi mencapai Rp795,68 juta, menunjukkan bahwa perayaan budaya juga mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM dan industri kreatif.
"Kegiatan berskala internasional harus mampu menghadirkan manfaat nyata. Ketika budaya berkembang, sektor ekonomi kreatif juga ikut bergerak," kata Farhan. (gin)
Editor : Inilahkoran

