Saat Menyantap Makanan Terhambat Ritualitas Kamera

Tanpa disadari kesederhanaan menyantap makanan kini terhambat dengan rutinitas mendokumentasikan dengan kamera

Saat Menyantap Makanan Terhambat Ritualitas Kamera
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom

BEBERAPA waktu lalu saya makan bersama teman di sebuah rumah makan. Setelah menunggu cukup lama, pesanan akhirnya datang. Semangkuk soto masih mengepulkan asap, ayam goreng tampak menggoda, dan es teh dingin siap menghilangkan dahaga setelah perjalanan yang melelahkan.

Namun, tidak ada satu pun yang langsung menyentuh sendok. Ponsel justru lebih dulu terangkat. Ada yang mengatur posisi piring, ada yang menggeser gelas agar terlihat lebih estetik, dan ada pula yang meminta semua orang menunggu karena pencahayaan dianggap kurang mendukung.

Soto yang awalnya panas perlahan mulai dingin. Es teh yang semula segar mulai kehilangan kesegarannya. Kami datang untuk makan, tetapi beberapa menit pertama justru dihabiskan untuk sesi pemotretan makanan. Momen itu membuat saya teringat masa ketika makan hanyalah aktivitas sederhana. Ketika makanan datang, yang dicari adalah sendok, bukan kamera.

Dari Menikmati Menjadi Mendokumentasikan

Media sosial telah mengubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang dahulu bersifat pribadi kini menjadi konsumsi publik. makan, minum kopi, berlibur, hingga menghadiri acara keluarga hampir selalu disertai dokumentasi. Tidak ada yang salah dengan memotret makanan. foto dapat menjadi kenangan dan sarana berbagi pengalaman. Namun persoalan muncul ketika dokumentasi justru mengambil porsi lebih besar dibanding pengalaman itu sendiri.

Kita sering melihat orang lebih sibuk mencari sudut foto terbaik dibanding menikmati makanan yang ada di depannya. Bahkan tidak sedikit yang merasa sebuah pengalaman belum lengkap sebelum diunggah ke media sosial. Seolah-olah sebuah momen baru dianggap benar-benar terjadi setelah memperoleh tanda suka dan komentar dari orang lain.

Media Sosial sebagai Panggung Pertunjukan

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Dramaturgi dari Erving Goffman. Menurut teori ini, kehidupan sosial menyerupai sebuah panggung pertunjukan. Setiap individu berusaha menampilkan citra tertentu kepada audiensnya. Pada era media sosial, panggung tersebut menjadi jauh lebih luas. Setiap unggahan merupakan bagian dari pertunjukan identitas yang kita bangun.

foto makanan bukan lagi sekadar menunjukkan apa yang sedang dimakan. Di baliknya terdapat pesan yang ingin disampaikan. Ada yang ingin terlihat produktif, ada yang ingin dianggap mengikuti tren, dan ada pula yang ingin menunjukkan gaya hidup tertentu. Makanan akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga menjadi simbol komunikasi.

Mencari Pengakuan di Ruang Digital

Teori Uses and Gratifications menjelaskan bahwa seseorang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Kebutuhan itu dapat berupa hiburan, interaksi sosial, pencarian informasi, hingga pengakuan dari lingkungan. Ketika seseorang mengunggah foto makanan, ia mungkin sedang mencari respons dari orang lain. Komentar, tanda suka, dan jumlah penonton menjadi bentuk umpan balik yang memberikan kepuasan psikologis.

Kehadiran fitur tanda suka, komentar, dan jumlah tayangan membuat media sosial bekerja layaknya ruang evaluasi publik. Tanpa disadari, banyak orang mulai mengukur nilai sebuah pengalaman berdasarkan respons yang diterimanya di dunia maya. Sebuah foto makanan terasa lebih menyenangkan ketika mendapatkan banyak tanda suka. Sebaliknya, unggahan yang sepi respons sering kali dianggap kurang menarik meskipun pengalaman yang dialami sebenarnya sama.

Dalam situasi tertentu, muncul pula fenomena yang dikenal sebagai fear of missing out atau FOMO. Perasaan khawatir tertinggal dari pengalaman orang lain mendorong individu untuk terus membagikan aktivitasnya. Ketika linimasa dipenuhi foto kuliner, tempat wisata, atau kafe yang sedang populer, muncul dorongan untuk melakukan hal serupa agar tetap dianggap mengikuti tren. Akibatnya, aktivitas mendokumentasikan makanan tidak lagi sekadar menjadi kebiasaan, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan eksistensi di ruang digital.

Lambat laun, aktivitas tersebut menjadi kebiasaan. Kita mulai memikirkan bagaimana sebuah pengalaman akan terlihat di layar ponsel sebelum benar-benar menikmatinya secara langsung.

Ketika Kehadiran Menjadi Langka

Ironisnya, semakin banyak pengalaman yang didokumentasikan, semakin sedikit pengalaman yang benar-benar dihayati. Saya pernah melihat sekelompok anak muda duduk bersama di sebuah kafe. Mereka datang bergerombol, bercanda, dan tertawa. Namun ketika makanan datang, suasana mendadak berubah. Masing-masing sibuk dengan ponselnya. Mereka hadir secara fisik, tetapi perhatian mereka berada di ruang digital. Pemandangan semacam ini semakin sering dijumpai. Kita terhubung dengan banyak orang melalui media sosial, tetapi terkadang kurang terhubung dengan orang yang berada tepat di depan kita.

Perubahan ini sesungguhnya menunjukkan pergeseran cara manusia memaknai pengalaman. Dahulu, pengalaman dianggap bernilai karena dirasakan secara langsung. Kini, pengalaman sering kali memperoleh nilai tambahan ketika berhasil didokumentasikan dan dibagikan kepada orang lain. Tidak sedikit orang yang merasa perjalanan wisata belum lengkap tanpa unggahan foto, atau merasa makanan yang disantap kurang menarik jika tidak sempat dipotret. Dalam kondisi seperti itu, pengalaman tidak lagi berdiri sendiri. Pengalaman membutuhkan audiens.

Ironisnya, ketika terlalu fokus mendokumentasikan momen, kita berisiko kehilangan sebagian pengalaman itu sendiri. Kita hadir secara fisik, tetapi pikiran sibuk memikirkan caption, sudut pengambilan gambar, atau respons yang akan muncul setelah unggahan dipublikasikan.

Menikmati Momen Tanpa Validasi

Saya tidak sedang mengajak siapa pun meninggalkan media sosial. Saya juga tidak sedang meromantisasi masa lalu. Media sosial telah memberikan banyak manfaat dan menjadi bagian penting dari kehidupan modern. Namun, mungkin sesekali kita perlu mengambil jeda. Sesekali kita perlu menikmati makanan selagi masih hangat tanpa memotretnya terlebih dahulu. Sesekali kita perlu menikmati secangkir kopi tanpa memikirkan apakah tampilannya cukup menarik untuk diunggah.

Mungkin karena itulah saya mulai merindukan masa ketika makan tidak harus difoto terlebih dahulu. Bukan karena masa lalu selalu lebih baik, melainkan karena ada kesederhanaan yang perlahan menghilang. Kesederhanaan untuk menikmati sesuatu apa adanya tanpa merasa perlu membuktikannya kepada siapa pun.

Karena tidak semua pengalaman harus menjadi konten. Ada momen yang lebih indah ketika dinikmati daripada dipublikasikan. Ada kebahagiaan yang tidak memerlukan tanda suka. Dan ada kenangan yang nilainya tidak ditentukan oleh jumlah penonton. Barangkali itulah kemewahan yang mulai langka di era digital: kemampuan untuk benar-benar hadir dalam sebuah momen tanpa merasa perlu membagikannya kepada seluruh dunia.

 Oleh: Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta

 


Editor : Ahmad Sayuti