Waktu Makan Berpengaruh pada Kesehatan, Ini Waktu dan Menu yang Lebih Baik
Waktu makan ternyata berpengaruh terhadap kesehatan. Simak waktu makan yang ideal, pilihan sarapan sehat, dan dampak makan terlalu larut malam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – waktu makan ternyata turut berpengaruh terhadap kesehatan. Tubuh cenderung memproses makanan lebih efisien pada pagi hingga siang hari, sehingga kebiasaan makan dalam jumlah besar atau mengonsumsi makanan tidak sehat pada malam hari dapat mengganggu ritme alami tubuh dan kualitas tidur.
Selain waktu makan, kualitas makanan juga menjadi faktor penting. pola makan tinggi gula, garam, lemak jenuh, serta makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan sejumlah jenis kanker.
pola makan yang buruk juga dapat memengaruhi kesehatan sistem pencernaan dan kondisi mental.
Sarapan tetap dapat menjadi bagian penting dari pola makan sehat. Namun, jenis makanan yang dikonsumsi perlu diperhatikan.
Sarapan idealnya mengandung protein, biji-bijian utuh, buah atau sayuran, serta lemak sehat. Beberapa pilihan yang dapat dikonsumsi antara lain telur, kacang-kacangan, yoghurt, roti gandum, dan buah.
Sebaliknya, sarapan yang tinggi gula dan karbohidrat olahan dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah.
Jika kondisi tersebut terjadi berulang kali dan disertai pola makan yang tidak sehat, risiko terjadinya resistensi insulin dan diabetes tipe 2 dapat meningkat.
Kebiasaan makan dalam jumlah besar terlalu larut malam juga dinilai kurang ideal bagi tubuh.
Aktivitas pencernaan setelah makan dapat berinteraksi dengan ritme sirkadian tubuh. makan larut malam juga dapat memengaruhi respons insulin dan menunda pelepasan melatonin, hormon yang berperan dalam mengatur waktu tidur.
Karena itu, mengatur waktu makan agar tidak terlalu dekat dengan waktu tidur dapat menjadi salah satu bagian dari kebiasaan hidup yang lebih sehat.
Tidak semua orang memiliki pola makan yang sama. Beberapa orang menerapkan intermittent fasting atau puasa berselang yang membatasi waktu makan, sehingga waktu makan pertama baru dilakukan sekitar pukul 11.00 atau lebih siang.
Namun, bukti mengenai manfaat kesehatan intermittent fasting masih beragam dan pola tersebut tidak cocok untuk semua orang.
Kelompok tertentu, seperti ibu hamil, anak-anak, serta orang yang mengonsumsi obat tertentu, sebaiknya tidak mengubah pola makan atau waktu makan secara sembarangan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing.
Pada akhirnya, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kapan seseorang makan. Kualitas makanan dan pola makan secara keseluruhan juga memiliki peran penting.
Jika tidak sempat sarapan, makanan praktis dengan kandungan gizi lebih baik seperti yoghurt, pisang, dan muesli dapat menjadi pilihan dibandingkan makanan tinggi gula dan lemak.
Dengan mengatur waktu makan, memilih makanan bergizi, dan menjaga pola makan secara keseluruhan, seseorang dapat membantu menjaga kesehatan metabolisme sekaligus mendukung kualitas tidur dan kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Sumber: The Conversation
Editor : Ahmad Sayuti


