Saat Saguling Tertutup Selimut Eceng Gondok

APA yang tampak hijau di permukaan Waduk Saguling ternyata menyimpan ancaman.

Saat Saguling Tertutup Selimut Eceng Gondok
TAK TERKENDALI: Warga tampak membersihkan eceng gondok di Waduk Saguling yang makin tak terkendali. Pemkab Bandung Barat mendorong kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup.

APA yang tampak hijau di permukaan Waduk Saguling ternyata menyimpan ancaman. Eceng gondok yang terus berkembang mulai melumpuhkan fungsi waduk dan mengganggu aktivitas warga.

 Hamparan hijau yang menutupi permukaan Waduk Saguling sekilas tampak menenangkan. Namun, warna hijau itu bukan pertanda alam yang sehat.

 Di baliknya, eceng gondok terus berkembang tanpa kendali, menutup aliran air dan perlahan menggerus fungsi waduk yang selama ini menjadi nadi kehidupan masyarakat.

 Perahu-perahu nelayan semakin sulit bergerak. Jalur transportasi air menyempit. Di sela-sela rumpun tanaman yang mengapung, nyamuk berkembang biak, menghadirkan ancaman penyakit bagi warga sekitar.

 Kondisi itulah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Bandung Barat memperkuat langkah penanganan dengan menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup.

 Persoalan tersebut disampaikan langsung Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail saat bertemu Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat di Kota Bandung, Sabtu (11/7).

 Asep mengakui, berbagai upaya yang selama ini dilakukan pemerintah daerah belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan eceng gondok yang terus meluas.

 "Eceng gondok kini telah menyumbat aliran perairan, melumpuhkan sebagian aktivitas perikanan dan transportasi warga, serta menjadi sarang nyamuk yang berpotensi memicu wabah penyakit," kata Asep dalam keterangannya, Senin (13/7).

 Selama ini, pembersihan sebenarnya tidak pernah berhenti. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bersama Balai Besar Wilayah Sungai, Indonesia Power, Program Citarum Harum, komunitas Pager Saguling, dan masyarakat rutin bergotong royong mengangkat eceng gondok dari permukaan waduk.

 Namun, tanaman air itu tumbuh lebih cepat daripada kemampuan manusia membersihkannya. Karena itu, menurut Asep, penanganan tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan daerah semata.

 "Kekuatan daerah saja tidak cukup. Kami butuh dukungan kebijakan, teknologi penanganan yang tepat, serta pendanaan dari pusat agar penanganan menyentuh akar masalah, terintegrasi, dan berkelanjutan," jelasnya.

 Dalam pertemuan tersebut, Pemkab Bandung Barat juga menyampaikan persoalan lain yang tak kalah mendesak, yakni pengelolaan sampah di sejumlah wilayah.

 Menanggapi hal itu, Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat memastikan pemerintah pusat siap memberikan dukungan, mulai dari pendampingan teknis, fasilitasi program, hingga membuka akses terhadap skema pembiayaan yang dibutuhkan daerah.

 Dia juga memperkenalkan Gerakan Tobat Ekologi, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat memulihkan hubungan dengan alam melalui perubahan perilaku yang berlandaskan nilai moral dan spiritual.

 "Gerakan ini akan digalakkan serentak bertepatan dengan peringatan Hari Danau," kata Jumhur.

 Semangat kolaborasi itu akan segera diterjemahkan di tingkat daerah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat, Ibrahim Aji, mengatakan penanganan persoalan lingkungan akan melibatkan seluruh unsur melalui pendekatan Pentahelix yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

 "Hal itu dilakukan agar setiap pihak berkontribusi sesuai kapasitasnya," ujarnya. (agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran