Sampah Organik Kota Bandung Capai 35 Ton per Hari
Program pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat di Kota Bandung menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Program pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat di Kota Bandung menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Lonjakan terjadi seiring meluasnya partisipasi kelurahan dalam program Gaslah. Aktivasi itu mendorong peningkatan volume sampah organik yang diolah di kawasan Pasar Induk Gedebage, Kota Bandung.
Direktur Utama PT Prosignal Karya Lestari Aldi Ridwansyah mengatakan, saat ini tren pengiriman sampah organik dari berbagai wilayah di Kota Bandung terus meningkat secara konsisten. Dalam sebulan terakhir, peningkatan tersebut bahkan cukup terasa dibandingkan periode sebelumnya.
“Grafik tonase Gaslah di seluruh Kota Bandung saat ini sudah mencapai 92 ton. Dalam sebulan terakhir, ada peningkatan cukup signifikan. Dulu hanya berkisar 20-25 ton per hari, sekarang sudah mencapai 30-35 ton per hari,” kata Aldi Ridwansyah, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, peningkatan tersebut tidak lepas dari bertambahnya wilayah yang aktif berpartisipasi dalam pengiriman sampah organik. Saat ini, sedikitnya enam kecamatan sudah rutin mengirimkan sampah setiap hari ke fasilitas pengolahan di Gedebage.
Pihaknya menjelaskan, keterlibatan wilayah baru menjadi salah satu faktor utama naiknya volume sampah yang masuk. Meski begitu, kontribusi antarwilayah masih belum merata.
“Peningkatan ini dipicu bertambahnya wilayah yang aktif mengirimkan sampah organik. Saat ini sudah ada enam kecamatan yang rutin berkontribusi setiap hari,” ucapnya.
Dari sejumlah wilayah tersebut, Kecamatan Kiaracondong tercatat sebagai salah satu penyumbang terbesar dalam program Gaslah. Sementara itu, beberapa kelurahan lain juga mulai menunjukkan konsistensi dalam pengiriman sampah organik.
Aldi menyebut, beberapa kelurahan yang sudah rutin berpartisipasi di antaranya berasal dari Kiaracondong, Mekar Mulya, Panyileukan, Gedebage, Cicendo dan Sukajadi. Namun, masih terdapat sejumlah wilayah yang belum terpetakan secara optimal dalam sistem pengumpulan.
“Untuk wilayah sekitar Gedebage relatif sudah optimal. Tapi untuk wilayah yang lebih jauh, kemungkinan masih terkendala distribusi atau pengolahan di wilayah masing-masing,” ujar dia.
Dia menyebut, tantangan utama yang masih dihadapi adalah pemerataan partisipasi antarwilayah. Terutama bagi daerah yang memiliki jarak cukup jauh dari fasilitas pengolahan. Kondisi itu, membuat sebagian wilayah belum rutin mengirimkan sampah organik.
Meski demikian, pihak pengelola mencatat kapasitas fasilitas di Gedebage masih memungkinkan untuk peningkatan volume sampah. Bahkan, masih tersedia ruang tambahan untuk menampung pengiriman baru dari wilayah lain.
Aldi juga optimistis, tren peningkatan ini akan terus berlanjut jika lebih banyak kelurahan ikut terlibat aktif dalam program Gaslah. Potensi peningkatan volume pengolahan, masih cukup besar jika sistem berjalan lebih merata.
“Kalau semua wilayah sudah optimal, potensi peningkatan sangat besar. Ini bisa mencapai tambahan hingga 40 ton per hari, dan menjadi solusi nyata mengurangi beban sampah kota,” tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

