SDN Girimukti Cikalongwetan Direvitalisasi, Pagar dan Lapangan Masih Jadi PR
SDN Girimukti Cikalongwetan mendapat bantuan revitalisasi Rp1,2 miliar. Namun, pagar, lapangan olahraga, dan halaman sekolah masih membutuhkan perhatian lanjuta
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Harapan baru hadir bagi 121 siswa SDN Girimukti di Kampung Rajamandala, RT 03/RW 12, Desa Mandalamukti, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Sekolah yang berdiri sejak 1980 itu sebelumnya menjadi perhatian publik setelah kondisi bangunannya mengalami kerusakan cukup parah. Dari tujuh ruang utama, satu ruang dinyatakan tidak layak, tiga mengalami kerusakan berat, sedangkan tiga lainnya rusak ringan.
Kini, sekolah tersebut mendapat bantuan revitalisasi dari pemerintah senilai sekitar Rp1,2 miliar. Namun, bantuan tersebut belum sepenuhnya menjawab seluruh kebutuhan SDN Girimukti.
Kepala SDN Girimukti Mudrikah mengatakan, bantuan tersebut menjadi angin segar bagi sekolah dan para siswa. Saat ini, SDN Girimukti memiliki enam rombongan belajar, ditambah ruang kantor, UKS, dan perpustakaan.
"Alhamdulillah ketika sempat viral sekolah Girimukti Cikalongwetan, sekarang sudah dapat bantuan dari pemerintah revitalisasi dengan jumlah nominal sekitar Rp1,2 miliar," kata Mudrikah saat ditemui di lokasi, Selasa (29/9/2026).
Dana tersebut digunakan untuk merevitalisasi empat ruang yang mengalami kerusakan berat dan tiga ruang dengan kerusakan ringan. Selain itu, terdapat alokasi sekitar Rp122 juta untuk pengadaan perabot sekolah, pembangunan sumur bor, serta tiang bendera.
Pekerjaan revitalisasi kini telah berjalan sekitar 20 persen. Proyek tersebut ditargetkan selesai dalam waktu 120 hari atau sekitar tiga bulan.
"Sekarang sudah mulai pembangunan, progresnya sekitar 20 persen. Mudah-mudahan lancar dan selesai dalam waktu tiga bulan, agar anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman," ujarnya.
Selama proses revitalisasi berlangsung, kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Girimukti tidak sepenuhnya berhenti. Pada dua minggu pertama, pembelajaran dilakukan secara daring.
Setelah itu, pihak sekolah mencari sejumlah lokasi alternatif di sekitar lingkungan sekolah. Para siswa kemudian belajar di Balai RW, majelis taklim, hingga rumah warga dan orang tua siswa yang memiliki tempat memadai.
Upaya tersebut dilakukan agar enam rombongan belajar tetap mendapatkan pendampingan guru secara langsung. Siswa juga tetap dapat mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG) tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
"Kami menyiasati agar anak-anak tidak putus belajar. Ada yang di majelis taklim, di Balai RW, ada di rumah orang tua. Walaupun jam belajarnya tidak maksimal seperti biasanya, setidaknya mereka tetap bertemu guru dan teman-temannya," jelas Mudrikah.
Pagar dan Lapangan Jadi Pekerjaan Rumah
Di tengah proses revitalisasi bangunan, SDN Girimukti masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah. Kebutuhan yang paling mendesak adalah pembangunan pagar, pengerasan halaman, serta penyediaan sarana olahraga.
Mudrikah mengatakan, kebutuhan tersebut belum termasuk dalam cakupan bantuan revitalisasi senilai Rp1,2 miliar.
"Yang paling urgen itu adalah pagar. Tanah di belakang sudah dipakai warga karena tidak ada batasnya. Kami ingin mengembalikannya untuk kebutuhan sekolah, terutama sarana olahraga," katanya.
Selain pagar, lapangan upacara SDN Girimukti juga masih berupa tanah sehingga membutuhkan pengerasan agar lebih aman dan nyaman digunakan siswa.
"Lapangan upacara pun masih tanah, belum ada pengerasan. Semoga ada tambahan bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat agar ini bisa terwujud," tegasnya.
Guru kelas 4 sekaligus koordinator penempatan kelas sementara, Fauzi Gorib, menambahkan, SDN Girimukti berdiri di atas lahan seluas 1.555 meter persegi yang berstatus hak guna pakai milik desa.
Namun, lahan tersebut belum memiliki pagar pembatas yang jelas. Kondisi itu membuat sebagian area belakang sekolah dimanfaatkan warga karena tidak terdapat batas fisik yang menandai wilayah sekolah.
"Sebagian area di bagian belakang telah dimanfaatkan warga karena tidak ada batas fisik yang menandai batas wilayah sekolah," ungkap Fauzi.
Menurutnya, lapangan olahraga yang sebelumnya tersedia kini sudah tidak layak digunakan dan dinilai rawan. Sementara area depan yang biasa digunakan untuk upacara bendera juga masih berupa tanah.
Karena itu, pembangunan pagar bagian depan menjadi salah satu prioritas agar akses keluar-masuk sekolah dapat dikendalikan. Selanjutnya, pagar bagian belakang dan penataan halaman diharapkan dapat dilakukan agar siswa memiliki ruang yang aman untuk beraktivitas.
"Revitalisasi gedung memang sudah datang, tapi lingkungannya belum tertata. Ini belum selesai sepenuhnya. Kami berharap ada perhatian lanjutan, agar SDN Girimukti bukan hanya bangunannya yang indah, tapi juga lingkungannya tertata rapi, aman dan layak menjadi tempat tumbuh 121 putra-putri warga Mandalamukti," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

