Sekolah di AS Mulai Batasi Laptop di Kelas, Pembelajaran Kembali Minim Layar
Sekolah di Amerika Serikat mulai membatasi penggunaan laptop di kelas. Teknologi tetap dipakai sebagai pendukung, bukan alat utama belajar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Semakin banyak sekolah di Amerika Serikat mulai membatasi penggunaan laptop di ruang kelas. Perangkat digital kini hanya digunakan ketika benar-benar mendukung proses pembelajaran, bukan lagi menjadi alat utama belajar setiap hari.
Hingga akhir Juli 2026, sedikitnya 17 negara bagian membahas aturan pembatasan penggunaan layar di sekolah, dan enam negara bagian telah mengesahkan kebijakan baru. Fokus utama kebijakan tersebut adalah mengurangi paparan gawai pada siswa usia dini.
Sejumlah distrik sekolah telah menerapkan aturan yang lebih ketat. Distrik Sekolah Los Angeles melarang penggunaan layar bagi siswa prasekolah hingga kelas satu. Sementara itu, sekolah-sekolah di Georgia menerapkan kebijakan laptop tetap tertutup dan hanya digunakan saat benar-benar diperlukan dalam kegiatan belajar.
Di Utah, pemerintah menghentikan program satu laptop untuk satu siswa bagi peserta didik jenjang taman kanak-kanak hingga kelas tiga.
Teknologi Dinilai Tidak Selalu Meningkatkan Hasil Belajar
Perubahan kebijakan ini didorong oleh semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan teknologi tidak selalu membuat proses belajar menjadi lebih efektif.
Para ahli pendidikan menilai manfaat teknologi sangat bergantung pada cara penggunaannya. Laptop dinilai bermanfaat jika digunakan untuk mencari informasi, memecahkan masalah, melakukan riset, atau mengerjakan proyek kolaboratif.
Sebaliknya, penggunaan laptop hanya untuk melihat materi pelajaran atau mengerjakan tugas rutin dinilai tidak memberikan manfaat yang signifikan dibanding metode belajar konvensional.
Interaksi Langsung Lebih Penting untuk Anak Usia Dini
Bagi siswa usia dini, aktivitas seperti berdiskusi, menulis tangan, bermain, bergerak, serta belajar secara langsung tanpa layar dinilai lebih efektif dalam mendukung perkembangan kemampuan berpikir, komunikasi, dan keterampilan sosial.
Karena itu, banyak sekolah mulai mengembalikan metode pembelajaran yang lebih menekankan interaksi antara guru dan siswa dibanding penggunaan perangkat digital secara terus-menerus.
Keterampilan Digital Tetap Dibutuhkan
Meski penggunaan laptop dibatasi, sekolah tetap menilai literasi digital sebagai kemampuan penting yang harus dimiliki siswa.
Peserta didik tetap diajarkan memahami teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pengolahan data, serta berbagai keterampilan digital yang relevan dengan dunia kerja di masa depan.
Dengan kebijakan baru tersebut, teknologi diposisikan sebagai pelengkap pembelajaran, bukan pengganti interaksi langsung antara guru dan siswa.***
Editor : JakaPermana


