Sekolah Rusak Perbaikan Mendesak
RETAKAN dinding dan fasilitas yang rusak menjadi wajah SMPN 2 Ngamprah. Pemerintah kini bergerak agar ruang belajar itu kembali aman dan nyaman.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Agus Satia Negara
Pecahan kaca masih menyisakan cerita di sejumlah jendela. Dinding dan pintu yang rusak, plafon yang bermasalah, lantai yang tak lagi rata, hingga tembok yang retak membuat ruang belajar di SMP Negeri 2 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, tak lagi senyaman yang seharusnya.
Kondisi sarana dan prasarana sekolah itu kini mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Sejumlah kerusakan dinilai sudah cukup mendesak karena menyangkut kenyamanan dan keselamatan siswa, sekaligus kelancaran kegiatan belajar mengajar.
Kondisi tersebut bahkan terasa kontras dengan jejak sekolah yang pernah meraih penghargaan Adiwiyata tingkat nasional. Lingkungan yang semestinya menjadi ruang belajar tentang kebersihan dan kelestarian justru masih terlihat kotor di sejumlah titik.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat Edy Syafrudin turun langsung memantau kondisi sekolah atas arahan Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail.
Beberapa persoalan yang sebelumnya disampaikan sekolah mulai bergerak menuju perbaikan. Papan tulis, misalnya, telah diganti.
“Yang pertama terkait papan tulis. Kemarin kepala sekolah menyampaikan akan segera diganti. Hari ini sudah diganti,” kata Edy, Kamis (20/8).
Toilet juga mulai dibenahi. Sekolah telah melakukan pengukuran untuk memasang pintu kamar mandi yang sebelumnya belum tersedia. Perbaikan itu memang belum selesai, tetapi setidaknya menjadi langkah awal mengembalikan ruang yang seharusnya memberikan kenyamanan dan privasi bagi siswa.
Namun, persoalan sekolah tidak berhenti pada fasilitas yang terlihat rusak. Kebersihan lingkungan juga menjadi catatan. “Saya minta dalam tiga hari, lingkungan sekolah sudah bersih kembali,” tegas Edy.
Tenggat tersebut menjadi perhatian tersendiri karena sekolah pernah menyandang predikat Adiwiyata tingkat nasional. Bagi Edy, penghargaan itu seharusnya tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tercermin dalam keseharian sekolah.
Di balik persoalan kebersihan dan fasilitas kecil, terdapat kerusakan bangunan yang membutuhkan penanganan lebih besar. Plafon rusak, lantai tidak rata, serta tembok retak menjadi bagian dari kondisi sekolah yang dinilai masuk kategori kerusakan sedang.
Untuk kerusakan ringan, sekolah masih dapat menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana tersebut sebelumnya telah dimanfaatkan untuk memperbaiki dinding, tempat duduk, hingga kabel listrik.
Namun, kemampuan BOS memiliki batas. Kerusakan yang lebih luas membutuhkan intervensi pemerintah daerah.
“Untuk kerusakan kategori sedang, anggaran BOS tidak mencukupi sehingga membutuhkan intervensi pemerintah daerah,” ujar Edy. (gin)
Editor : Inilahkoran

