INILAH, Malang – Napas kejuangan dan ekonomi Bung Tomo kini dititipkan di pundak pasangan calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Penyerahan rumah keluarga Bung Tomo di Jalan Ijen 6, Kota Malang, Jawa Timur, adalah buktinya.
Rumah keluarga tersebut didonasikan sebagai rumah pemenangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 ini. Wakaf rumah diterima Sandi dari Ratna Sulistami Sutomo, putri bungsu pahlawan nasional yang tampil heroik saat mengusir tentara Sekutu dari Surabaya pada pertempuran 10 November 1945 itu.
“Kami terima kasih kepada Bu Nana (Ratna Sulistami) dan keluarga besar Bung Tomo yang sudah mendonasikan rumahnya untuk perjuangan Prabowo-Sandi yang menghadirkan Indonesia adil dan makmur,” ungkap Sandi.
Sandi mengaku bergetar mendengarkan pidato Bung Tomo, saat menggelorakan semangat pemuda di Surabaya untuk melawan penjajah. Bung Tomo saat itu adalah sosok pemuda yang masih berusia 20 tahun, namun berani dan memiliki tekad berjuang untuk Indonesia merdeka.
“Saya bergetar tadi, ketika mendengar pidatonya Bung Tomo. Anak-anak muda saat itu, sudah menjadi bagian mempertahankan kemerdekaan. Kini saatnya, anak-anak muda sekarang turut mempertahankan kemerdekaan di sisi ekonomi,” harapnya.
Sandiaga juga mendengar, Bung Tomo memiliki kepedulian akan kedaulatan ekonomi Indonesia di masa itu. Dia mendirikan beragam usaha, salah satunya industri sabun yang dianggap mirip dengan program peningkatan kesejahteraan masyarakat yakni Oke Oce.
“Bung Tomo sampai bisa membeli rumah ini dari hasil usahanya. Mendirikan industri sabun dengan melibatkan abang becak, mirip dengan Oke Oce,” kata Sandiaga bangga.
Saat berkampanye di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Prabowo sengaja memperdengarkan pidato Bung Tomo saat melakukan orasi pada kampanye terbuka.
“Saya memang ingin diputarkan kembali pidato Bung Tomo, ini membuktikan kalau sekarang ini harus berjuang,” katanya saat orasi di hadapan ribuan peserta yang hadir.
Ia mengatakan, rakyat Indonesia ini tidak sebagaimana yang dipikirkan oleh sedikit elit yang ada di Jakarta.
“Saya tahu siapa mereka, saya kenal mereka dari kecil, saya saksi mata segala ulah mereka. Karena itu, saya tidak mau lagi bersama dengan mereka,” katanya.
Ia mengatakan, Bangsa Indonesia ini tidak hanya dikuasai elit yang tidak cinta negara, yang biasanya kumpul sore-sore. “Kekayaan Indonesia itu tidak tinggal di Indonesia. Kalau nggak ada duitnya ngapain pakai kartu ini itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rakyat Jatim dipelopori ulama kiai resolusi jihad yang berani berdiri dan melawan penjajah tidak menyerah pada ultimatum asing.
“Peringatan kalian posisi tertentu jangan lupa posisi itu pangkat berasal dari rakyat Indonesia. Tidak benar pejabat ancam rakyatnya sendiri. Ingat sumpah jenderal harus bela negara bangsa,” katanya.
Dirinya juga bangga, karena masyarakat percaya karena ibarat bermain sepak bola, harus ada sebelas orang ada yang jadi kiper, bek ada striker, ada tukang pijit semuanya satu tim.
“Semuanya harus bekerja terutama 17 April harus amankan TPS awasi TPS,” katanya.
Sementara itu, Calon Wakil Presiden Republik Indonesia Sandiaga Uno mengatakan, jika tujuh bulan semua pihak meragukan Prabowo Sandi.
“Tetapi saat ini kami menyaksikan lautan manusia rakyat Jatim sudah bangkit. Berubah, ekonomi lapangan kerja, harga stabil listrik turun, jangan salahkan yang lalu, (yang lalu) biarkan berlalu,” katanya.
Hadir dalam kesempatan itu, Zulkifli Hasan, Priyo Budi Santoso, Rahmawati Soekarno Putri, dan juga sejumlah kiai serta tokoh.