Sikap Kami: Pulanglah Dedi

Di tengah bencana yang melanda sebagian wilayah Jawa Barat, sewajarnyalah Gubernur Dedi Mulyadi meninggalkan Sumatera dan kembali ke Tanah Pasundan.

Sikap Kami: Pulanglah Dedi

DI Sumatera Barat, sebuah lagu populer pernah muncul. Pulanglah Uda, judulnya. Pertama kali dilantunkan penyanyi asal Tanah Sunda, Hetty Koes Endang. Kini, dia makin populer setelah dibawakan ulang Ria Amelia, istri politisi Gerindra yang pernah memimpin DPRD Kota Bukittinggi.

Uda kanduang di rantau urang/Pulanglah Uda di Tanah Jao/Rindulah lamo indak basuo/Apo ka dayo. Begitu bagian liriknya.

Lagu itu, rasanya, patut dipelesetkan kini: Pulanglah Dedi. Ya, yang kita maksud adalah Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, yang kemarin datang ke Padang di Tanah Minang, untuk mengirimkan bantuan terhadap korban bencana.

Tentu saja, niat baik Dedi membantu korban bencana di Sumatera, kita apresiasi. Membawa donasi yang dikumpulkan dari banyak pihak sejumlah Rp7 miliar, dibelanjakan di Padang, dan disalurkan kepada korban bencana.

Bahwa Dedi datang ke lokasi bencana juga tak perlu diungkit. Meski, tak sedikit pihak yang mempertanyakan, tidakkah lebih baik menyalurkannya melalui utusan gubernur atau bahkan melalui lembaga donatur yang sudah ada. Buat kita, tak soal itu.

Menjadi soal bagi kita karena kebetulan saat Dedi berada di Sumatera untuk membantu korban bencana, di Jawa Barat juga sedang terjadi bencana alam. Banjir rob melanda wilayah Subang, kabupaten tempat Dedi lahir. Lebih seribu KK terdampak. Di Bandung Barat, longsor dan banjir bandang melanda.

Hemat kita, bencana yang juga terjadi di sebagian Jawa Barat, semestinya menjadi perhatian lebih serius dari Demul, sapaan akrab sang gubernur. Dalam skala prioritas, ini menjadi bagian yang lebih penting dia datangi. Berempati bersama warga yang mempercayanya jadi pemimpin.

Sejak awal, kedatangan Dedi ke lokasi bencana di Sumatera, memang memunculkan dua suara berbeda. Ada yang mendukung, ada juga yang tak setuju karena siklus iklim yang bisa menghadirkan bencana juga tengah menuju Jawa Barat.

Tak hanya itu, kita meyakini Dedi pun paham betapa tingginya ancaman bencana di Jawa Barat. Bukankah dia pernah mengatakan 80% hutan di Jawa Barat dalam kondisi rusak? Jelas, itu potensi pemicu bencana.

Terbukti, tepat saat Dedi menginjakkan kakinya di Bandara Minangkabau di Padang, sebagian wilayah Jabar diterjang bencana. Sebagai kepala daerah, sepatutnya dia mendahulukan warganya.

Maka, kita sarankan kepada Dedi Mulyadi, untuk segera pulang ke Tanah Pasundan. Lebih baik mengurus kondisi warga Jawa Barat yang terdampak bencana tanpa mengurangi rasa empati terhadap korban bencana di Sumatera. (*)


Editor : Zulfirman