Sikap Kami: Rindu Tebal Pengamen Bandung
KOTA Bandung itu selalu istimewa. Di sini, pernah “lahir” Asian Heroes, bukan Asian values. Seorang yang tajam nyaris sepanjang hidupnya, kecuali 9-10 tahun terakhir ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
KOTA Bandung itu selalu istimewa. Di sini, pernah “lahir” Asian Heroes, bukan Asian values. Seorang yang tajam nyaris sepanjang hidupnya, kecuali 9-10 tahun terakhir ini.
Siapa? Dia memang tidak lahir di Bandung, melainkan di Jakarta. Tapi, semangat perlawanannya tumbuh dan berkembang di Kota Kembang. Saat dia menjadi pengamen.
Tak salah lagi. Dia Virgiawan Liestanto. Namanya sangat populer sebagai Iwan Fals. Mungkin karena daya kritisnya yang tinggi itu pula dia sempat berniat jadi wartawan. Kuliah di Kampus Tercinta, di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) di Lenteng Agung, Depok.
Sebagai penyanyi balada, kekuatan Iwan ada pada lirik-lirik lagunya. Lirik lagunya membuat merah padam wajah penguasa Orde Baru. Apalagi kalau lagunya seperti Polda Sederhana, Mbak Tini, Siti Sang Bidadari, sampai beredar.
Tetapi, Iwan sejatinya tak hanya menyerang rezim. Dia juga mengingatkan perilaku, adab, dan moralitas kita semua. Dan, itu abadi hingga saat ini.
Simak bagian syair Rindu Tebal, lagu di album Sugali keluaran 1984 ini. “Seekor kambing kucuri/Milik tetangga tuk makan sekeluarga/Bapak tak mau mengerti/Hilang satu anak tuk harga diri/Aku pergi meninggalkan coreng hitam di muka bapak/Yang membuat malu keluargaku/Ku ingin kembali mungkinkah mereka mau terima/Rinduku”.
Betapapun sudah berusia 40 tahun, lagu itu kontekstual dengan zaman ini. Saat orang, terutama mereka para penguasa, tak lagi punya malu. Abai terhadap harga diri. Malah membela anak sendiri meski melakukan kesalahan. Mencarikan status meski itu melanggar aturan.
Ayah-ayah zaman itu malu punya anak pencuri karena itu menodai harga diri. Sekarang? Bahkan tak sedikit yang menghidupi keluarga dengan hasil curian. Tak tahu malunya, harta curian pun dipakai untuk pamer. Flexing.
Rasa-rasanya, negeri ini telah dan terus kehilangan harga dirinya. Sebab, para petinggi negeri, pejabat negara, memberikan contoh yang buruk. Tak malu jadi pencuri. Malah masih tersenyum ketika tertangkap aparat penebas korupsi.
Kita butuh orang-orang seperti Iwan Fals sepanjang perjalanan negeri ini. Orang-orang yang mengingatkan penguasa tentang perilaku yang baik, adab, dan moralitas yang tinggi.
Bahkan, semestinya seseorang yang suaranya lebih keras dibanding Iwan Fals. Sebab, kerusakan perilaku, adab, dan moralitas, percaya atau tidak, sudah jauh lebih parah dibanding orde yang wajahnya dibuat merah padam oleh Iwan Fals.
Rindu kita sudah sedemikian tebalnya. “Pagi yang kutelusuri riuh tak bernyanyi, Malam yang aku jalani sepi tak berarti”. (*)
Editor : Zulfirman


