Slava UMKM Alas Kaki dari Katapang yang Berkembang Pesat ditengah Pandemi Covid 19
Para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terbukti tangguh menghadapi berbagai tantangan, termasuk mampu bertahan dan berkembang ditengah pandemi Covid 19. Banyak pelaku UMKM yang justru maju dan berkembang pesat ditengah badai ekonomi yang disebabkan pandemi Covid 19.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Soreang - Para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terbukti tangguh menghadapi berbagai tantangan, termasuk mampu bertahan dan berkembang ditengah pandemi Covid 19. Banyak pelaku UMKM yang justru maju dan berkembang pesat ditengah badai ekonomi yang disebabkan pandemi Covid 19.
Seperti yang dirasakan oleh Bainil Makhin (38) dan Muhamad Yunus (28), pelaku UMKM dibidang alas kaki di Jalan Raya Katapang Wetan Desa Pangauban Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung yang justru bangkit dan berkembang pesat ditengah pandemi Covid 19 yang melanda dunia tiga tahun lalu.
"Saya menekuni usaha ini sudah lebih dari 10 tahun. Kebanyakan melayani makloon atau pesanan dari pelaku usaha lain atau B to B yah. Saat pendemi tiba, seperti usaha lainnya saya pun terkena dampak pesanan mulai menurun. Saya memikirkan keberlangsungan usaha ini, karena para pekerja saya juga harus tetap bekerja, kasihan keluarganya kalau tidak ada pekerjaan," kata Bainil di Katapang, Minggu 20 April 2025.
Bainil berpikir, harus memiliki produk dengan merek sendiri yang langsung dijual kepada konsumen. Namun, ia juga harus memikirkan bagaimana caranya melakukan penjualan langsung kepada konsumen agar tepat sasaran. Sedangkan ia tak memiliki pengalaman yang cukup dibidang penjualan (marketing). Apalagi disaat itu pandemi Covid 19 sedang melanda dunia yang memengaruhi perekonomian.
"Pendidikan saya jurusan Desain dan Teknologi Sepatu di salah satu perguruan tinggi di Jojga. Saya juga punya pengalaman panjang bekerja dibidang sepatu. Tapi saya yang jago membuat sepatu ini belum tentu jago menjualnya, nah tiga tahun lalu atau saat pandemi itulah saya mengajak Muhamad Yunus bergabung, dia ini memang jago dibidang pemasaran," ujarnya.
Kolaborasi keduanya yang saling melengkapi ini, kata, Bainil, ternyata membawa perubahan yang luar biasa. Semula usaha pembuatan alas kaki itu lebih besar memenuhi pesanan makloon dari pelaku usaha lain. Namun saat ini porsi penjualan produk kepada konsumen langsung sudah setara atau setengahnya dari total produksi.
"Produk yang kami jual awalnya semua jenis sepatu dan sandal untuk orang dewasa dan anak-anak. Namun, berdasarkan database yang kami punya 70 persen penjualan adalah produk alas kaki anak. Dari sanalah kami lebih concern menjual sepatu dan sandal untuk anak-anak," katanya.
Dikatakan Bainil, pandemi Covid 19 yang terjadi tiga tahun lalu itu, telah merubah cara berdagang dan berbelanja masyarakat. Dari semula perdagangan konvensional dengan tatap muka langsung, sebagian besar beralih pada perdagangan secara daring. Kehadiran market place menjadi sarana yang tepat dan efektif sebagai tempat pertemuan antara penjual dan pembeli.
"Nah Muhamad Yunus ini dia ahli dibidang digital marketing. Sehingga semua perdagangan online dia dan timnya yang mengurus, dan memang perdagangan online melalui market place ini luar biasa sekali dampaknya untuk kami, apalagi setiap Ramadan tiba, ribuan pesanan kami terima. Sampai akhirnya kami sendiri yang membatasi karena kewalahan takut tidak bisa memenuhi pesanan malah nanti kami kena penalti," katanya.
Bainil bersyukur dengan adanya penjualan langsung melalui market place ini, ia dan rekannya Muhamad Yunus ini bisa menjaga keberlangsungan usaha mereka. Dengan begitu, ada sekitar 35 orang pegawai yang terlibat dalam usahanya ini bisa tetap menafkahi keluarga mereka di rumah.
"Perubahan habit belanja masyarakat dari konvensional ke market place ini benar-benar luar biasa. Selama ada akses internet, dimana saja orang itu berada bisa belanja dengan mudah. Saya rasa habit ini akan terus berkembang dan semakin maju," ujarnya.
Sebenarnya, lanjut Bainil, usaha yang mereka geluti ini bukan tanpa ada kedala dan hambatan. Hambatan yang biasa dialami oleh para pelaku UMKM yakni permodalan pun dirasakan betul oleh keduanya. Ini terasa ketika ingin meningkatkan jumlah produksi untuk memenuhi pesanan konsumen. Namun dengan kemampuan keuangan yang ada mereka mampu berjalan dan berkembang hingga pada tahap ini.
"Kami memang tidak mau pakai modal pinjaman dari bank. Jadi kami berkembang dengan kemampuan sendiri. Seperti menjelang Ramadan, itu kami sudah-siap mengumpulan semua kemampuan keuangan kami untuk modal. Ini memang agak berat yah ketika peluang penjualan besar, tapi kami belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Tapi kami tetap bersyukur sampai sejauh ini usaha ini berkembang dan produk alas kaki Slava punya tempat tersendiri dihati konsumen," katanya.
Bainil melanjutkan, sepatu dan sandal anak yang ia jual dengan merek Slava ini, menyasar segmen para orang tua kalangan milenial. Dimana sepatu dan sandal yang ia buat memiliki desain dan warna kekinian sesuai dengan karakter para orang tua muda milenial yang stylis. Maka tak heran jika produk sepatu dan sandal anak Slava ini lebih banyak menggunakan warna-warna dasar, seperti hitam, putih, abu-abu dan lainnya.
"Jadi ini sepatu dan sandal dewasa yang gaul milenial dibuat kecil untuk anak-anak. Alhamdulilah respon pasar sangat bagus yah, karena banyak orang tua yang gaul dan ingin apa yang dia pakai dipakai juga sama anaknya, segmen itu yang kami bidik," katanya.
Kualitas dari produk alas kaki anak-anak yang mereka jual pun terbilang premium alias cukup berkualitas. Dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mencapai 70 persen. Harga yang ditawarkannya pun terjangkau untuk semua kalangan.(rd dani r nugraha)
Editor : Ahmad Sayuti

