Winazar Sukabumi Tembus Ekspor ke 4 Negara, Libatkan 95 Pengrajin Lokal
Winazar, UMKM perkakas kayu asal Sukabumi, menembus ekspor ke empat negara dan melibatkan 95 pengrajin lokal dengan 150 varian produk.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Produk lokal Jawa Barat membuktikan mampu bersaing di pasar modern hingga internasional. Salah satunya Winazar, merek perkakas rumah tangga berbahan kayu produksi CV Karya Winazar asal Sukabumi yang kini telah menembus pasar ekspor ke empat negara.
Produk UMKM besutan Asep Mulyadi tersebut menjadi salah satu dari 40 UMKM binaan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang meramaikan seminar bertajuk Produk Lokal Bermutu UMKM, Naik Kelas ke Ritel Modern di Cihampelas Walk (Ciwalk), Jumat (6/11/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Ritel Nasional (HRN) dan Bulan Mutu Nasional 2026 yang mengangkat isu keamanan pangan, kepercayaan pasar, serta kelancaran distribusi produk UMKM.
Asep mengatakan, Winazar saat ini memproduksi sekitar 150 varian perkakas rumah tangga berbahan kayu. Produknya mencakup cobek, talenan, rolling pin, hingga berbagai peralatan dapur lainnya.
Bahan baku yang digunakan berasal dari kayu mahoni, pinus, dan jati. Namun, produksi lebih banyak mengandalkan kayu mahoni dan pinus untuk memenuhi kebutuhan pasar.
“Ya, kami saat ini produsen dapur kayu asal Sukabumi, Jawa Barat. Setiap kali ikut pameran, alat dapur seperti cobek, talenan, rolling pin, dan ada 150 item varian yang sudah kami produksi sampai saat ini,” ujar Asep.
Winazar Ekspor ke Malaysia hingga Jepang
Perjalanan Winazar tidak hanya menyasar pasar tradisional. Dengan pendampingan BSN, produk tersebut mulai memperluas jangkauan pemasaran melalui reseller, distributor, pasar semimodern, hingga jaringan ritel modern.
Bahkan, sejak 2020, Winazar berhasil membuka pasar ekspor yang hingga kini menjangkau Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Jepang.
Menurut Asep, peningkatan kapasitas usaha tidak bisa dilepaskan dari pembenahan standar mutu dan legalitas produk. Pendampingan BSN membantu perusahaannya membangun sistem produksi dan administrasi yang lebih tertata.
Salah satu dukungan yang diperoleh yakni fasilitasi penerapan SNI ISO 9001:2015. Standar tersebut mendorong perusahaan memiliki prosedur operasional standar (SOP) yang lebih jelas, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan usaha.
“Kalau legalitas dari 2024, tadinya PIRT karena ada BTP, naik jadi MD. Ada fasilitas untuk SNI ISO 9001:2015, jadi secara administrasi lebih tertib, SOP, kemudian dari hulu ke hilir lebih jelas,” tuturnya.
Asep menilai, kepemilikan standar dan legalitas menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan pembeli. Terlebih, ketika produk UMKM mulai memasuki pasar ritel modern dan ekspor yang memiliki persyaratan lebih ketat.
“Selain itu, kami alhamdulillah ada SPLK juga. Dilengkapi SNI ISO 9001:2015 dari BSN ini. Dari situ buyer lebih percaya,” katanya.
Libatkan 95 Pengrajin Lokal Sukabumi
Dalam menjalankan produksi, Winazar turut melibatkan sekitar 95 pengrajin lokal di Sukabumi. Keterlibatan para perajin tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dari sisi harga, perkakas rumah tangga produksi Winazar dibanderol mulai Rp10.000 hingga Rp100.000, sehingga dapat menjangkau berbagai segmen konsumen.
Asep mengapresiasi kegiatan HRN dan Bulan Mutu Nasional 2026 yang mempertemukan pelaku UMKM dengan jaringan ritel dan calon pembeli. Menurutnya, tantangan UMKM bukan semata-mata kemampuan menghasilkan produk, melainkan juga membuka akses pemasaran yang lebih luas.
Dia berharap, kegiatan serupa lebih sering digelar dengan melibatkan lebih banyak pelaku usaha lokal. Dengan begitu, UMKM tidak hanya memperoleh pendampingan sertifikasi, tetapi juga kesempatan memperkenalkan produk secara langsung kepada calon pembeli.
“Kadang kami bisa memproduksi, tetapi terkadang sulit mendistribusikannya. Nah, kesempatan seperti ini menjadi wadah untuk langsung terkoneksi dengan para buyer,” ungkapnya.
Asep menyebut, produk Winazar kini telah memasuki sejumlah jaringan ritel. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa penguatan mutu, legalitas, dan merek dapat membuka jalan bagi produk lokal untuk bersaing di pasar yang lebih luas.
Ia pun menekankan pentingnya pelaku UMKM membangun identitas produk melalui merek sendiri, bukan sekadar mengandalkan kemampuan produksi.
Menurutnya, penguatan merek dan akses distribusi harus berjalan beriringan agar produk UMKM memiliki daya saing dan keberlanjutan usaha.
“Yang namanya merek, saya sangat mengapresiasi acara seperti ini. Harus sering dilaksanakan,” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

