SMAN 1 Bandung Kekurangan 88 Meja Gegara Penambahan Rombel, Dedi Mulyadi Siap Rogoh Kocek Pribadi Lengkapinya
Penambahan rombongan belajar (Rombel) dari program Penanggulangan Anak Putus Sekolah (PAPS), sudah mulai efektif pada hari pertama masuk sekolah, Senin 14 Juli 2025.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Penambahan rombongan belajar (rombel) dari program Penanggulangan Anak Putus Sekolah (PAPS), sudah mulai efektif pada hari pertama masuk sekolah, Senin 14 Juli 2025.
Namun terjadi dinamika, dimana di SMAN 1 Kota Bandung kekurangan meja. Dari 11 ruang kelas, tiap kelasnya kekurangan delapan meja atau total keseluruhannya 88 meja.
Merespon hal ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan SMAN 1 Bandung tidak perlu pusing. Tinggal melapor dan kebutuhan tersebut akan dipenuhi.
Bahkan tak ragu Dedi mengaku siap merogoh kocek pribadinya, untuk melengkapi sarana belajar berupa meja di SMAN 1 Bandung tersebut. Tanpa harus menunggu pembelian dari anggaran APBD 2025.
"Kemarin laporan ke saya cukup. Tapi kalau hari ini kurang, ya kita supporting. Enggak usah (menunggu APBD), dibeliin sama saya aja," ujar Dedi di Gedung Negara Pakuan, Kota Bandung, Senin 14 Juli 2025.
"Pokoknya gini, kekurangan tinggal lapor aja ke Sekda (Herman Suryatman), gubernur dan Dinas Pendidikan. Kita penuhi, enggak usah nunggu APBD," imbuhnya.
Jangankan soal meja maupun kursi kata dia, soal pendingin ruangan pun secara bertahap telah direalisasikan swadaya tanpa APBD.
Dimana dari 801 SMA dan SMK di Jabar, dengan ruang kelas X sebanyak 8.727 kelas, ada 384 kelas yang mengalami penambahan rombel dan bakal mendapatkan pendingin ruangan. Tiap kelas yang mengalami penambahan rombel, dimungkinkan dari 36 siswa hingga ke 50.
"Dua hari ini sudah 150 AC (air conditioner atau pendingin ruangan), dari target 800 yang akan kita pasang. AC aja kita bayarin tuh, hampir Rp8 miliar loh kita udah pasang dan kita target Minggu ini semuanya selesai. Jadi nanti tuh yang satu kelas itu yang rombelnya di atas 40 itu, dipasang dua AC biar dingin," ucapnya.
Lebih lanjut Dedi mengatakan, sejauh ini belum ada laporan dari sekolah lain terkait kekurangan meja maupun kursi di kelas yang mengalami penambahan rombel.
Sebab kembali lagi kata dia, untuk memenuhi kebutuhan pendingin ruangan di kelas dapat dilakukan secara mandiri, bantuan dari sejumlah pihak.
"Sampai hari ini tidak ada laporan, mungkin hanya SMA 1 ya. (Kalaupun ada laporan) Tinggal telepon toko. Kita masang AC aja enggak pakai APBD. Kan kita nyumbang sekian ratus (juta). Pak Ara (Menteri PKP Maruarar Sirait) tuh nyumbang Rp1 miliar loh anaknya. Joshua Sirait," ucapnya.
Meski Joshua kata Dedi, meminta khusus pengadaan pendingin ruangan senilai Rp1 miliar yang disumbangkan untuk sekolah di kawasan Subang, Majalengka dan Sumedang.
"Kita tambah Karawang dan Bekasi. Jadi, kalau kerja dengan saya itu, tidak hanya akan terbatas pada APBD. Selama saya mampu menyediakan, selama saya mampu membantu, pasti saya bantu," tandasnya. ***
Editor : JakaPermana
