Sudinkes Jaktim Ungkap Alasan Ikan Sapu-sapu Tidak Bisa Dikonsumsi, Ada Merkurinya?

Sudinkes Jaktim menjelaskan ikan sapu-sapu hasil tangkapan di solokan tidak bisa dikonsumsi karena mengandung logam berat.

Sudinkes Jaktim Ungkap Alasan Ikan Sapu-sapu Tidak Bisa Dikonsumsi, Ada Merkurinya?
Ilustrasi ikan sapu-sapu.

INILAHKORAN, Bandung - Baru-baru ini, Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) bersama warga telah menangkap 1.831 kilogram atau 1,83 ton ikan sapu-sapu dari sejumlah titik perairan di 10 kecamatan sebagai upaya pengendalian ikan invasif tersebut.

Data menunjukkan, Kecamatan Makasar menjadi wilayah dengan kontribusi tangkapan ikan sapu-sapu terbesar, yakni 481,55 kilogram.

Disusul Kecamatan Ciracas dengan 280 kilogram ikan sapu-sapu, lalu Kecamatan Cakung sebanyak 240,6 kilogram ikan sapu-sapu.

Wilayah lainnya juga mencatat angka tangkapan yang cukup signifikan, seperti Pasar Rebo 178 kilogram, Cipayung 189 kilogram, Kramat Jati 137,8 kilogram, Jatinegara 126,15 kilogram, Matraman 87 kilogram, Duren Sawit 64,5 kilogram, Pulogadung 47,2 kilogram.

Kecamatan Cipayung, keterlibatan warga terlihat dari penyebaran hasil tangkapan di delapan kelurahan. 

Kelurahan Cipayung mencatat tangkapan tertinggi sebesar 56 kilogram, diikuti Pondok Ranggon 40 kilogram, Setu 31 kilogram, Munjul 28,4 kilogram, Cilangkap 14,4 kilogram, Lubang Buaya 9,3 kilogram, Ceger 5,5 kilogram, dan Bambu Apus 4,4 kilogram.

Setelah berhasil ditangkap, ikan sapu-sapu ini langsunh dimusnahkan dengan cara dikubur langsung.

Namun pemusnahan ini menuai banyak komentar dan ada yang menilai bahwa ikan sapu-sapu ini sebaiknya dikonsumsi atau dijadikan pakan.

Menanggapi hal tersebut, Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jaktim menyoroti ancaman penyakit kronis akibat konsumsi ikan sapu-sapu yang diduga mengandung logam berat berbahaya.

"Efek mengonsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu langsung terlihat. Justru yang perlu diwaspadai adalah dampak jangka panjang yang bisa memicu penyakit kronis," jelas Kepala Sudinkes Jakarta Timur Herwin Meifendy dikutip dari laman Antara.

Kandungan logam berat seperti merkuri, timbal (Pb), arsen, dan kadmium dalam ikan sapu-sapu dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia.

Akumulasi ini berisiko memicu berbagai penyakit serius, terutama jika dikonsumsi secara terus-menerus.

Di mana merkuri dapat menyerang sistem saraf, otak, hingga organ vital seperti ginjal dan paru-paru.

Sementara timbal diketahui berdampak pada saraf pusat yang dapat menyebabkan penurunan kecerdasan serta gangguan perilaku.

Dan arsen memiliki sifat karsinogenik yang berpotensi menyebabkan kanker, sedangkan kadmium dapat merusak ginjal serta sistem pernapasan. Paparan dalam jangka panjang dari zat-zat tersebut juga dikaitkan dengan munculnya penyakit degeneratif.

"Jika terus terakumulasi, bukan tidak mungkin memicu gangguan serius seperti penurunan fungsi otak hingga penyakit kronis lainnya," ungkapnya Herwin.***


Editor : Irma Nurfajri