Surat Edaran BGN Soal UPF dalam Program MBG Tuai Kontroversi, Netizen Geram
Surag edaran soal makanan UPF di MBG menuai kontroversi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Sebuah surat edaran dari Badan Gizi Nasional (BGN) terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) beredar luas di media sosial dan langsung memicu perdebatan. Pasalnya, dalam dokumen tersebut BGN menyebutkan bahwa produk Ultra-Processed Food (UPF) seperti biskuit, roti, sereal, nugget, hingga sosis diperbolehkan masuk ke dalam menu MBG selama diproduksi secara lokal.
Isi surat edaran BGN
Dalam surat yang bocor ke publik, BGN menuliskan sejumlah ketentuan, di antaranya:
-
Produk seperti biskuit, roti, sereal, nugget, dan sosis diperbolehkan asalkan diproduksi lokal, kecuali susu di wilayah yang belum memiliki peternakan.
-
Roti dan pangan sejenis harus dipasok dari UMKM atau produsen lokal.
-
Olahan daging (sosis, nugget, burger, dll) bisa digunakan bila berasal dari UMKM lokal bersertifikat halal, SNI, BPOM, serta memiliki masa edar maksimal satu minggu.
Kritik: Fokus Harusnya Gizi, Bukan Lokal atau Impor
Kebijakan ini memicu gelombang kritik. Banyak pihak menilai pemerintah salah arah karena inti masalah bukan soal impor atau lokal, melainkan bahaya konsumsi UPF itu sendiri.
“Anak-anak butuh makanan segar dan bernutrisi tinggi, bukan makanan pabrikan yang bikin cepat lapar lagi,” tulis salah satu netizen.
Para pakar gizi juga mengingatkan, konsumsi rutin makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung.
Netizen Ramai-ramai Protes
Di media sosial, tagar terkait surat edaran ini menjadi perbincangan hangat. Banyak warganet menilai BGN justru menyederhanakan masalah dengan mengganti impor menjadi produk lokal.
“Masalahnya bukan di lokal atau impor, tapi di UPF-nya! Jangan bodoh-bodohin rakyat,” tulis seorang pengguna X.
Alternatif Sehat untuk Program MBG
Sejumlah pihak mendesak agar program MBG kembali ke misi awal Presiden, yaitu menghadirkan makanan bergizi sekaligus mendukung UMKM lokal. Menu seharusnya lebih menekankan pada bahan pangan segar seperti sayur, ikan, telur, tempe, tahu, dan produk lokal sehat lainnya.
“Kalau mau dukung UMKM lokal, libatkan petani, nelayan, dan produsen makanan segar. Anak sekolah butuh nutrisi, bukan sekadar kenyang,” tegas seorang pengamat gizi.
Editor : Firda Rachmawati

