Diduga Keracunan Makanan, 14 Siswa SDN 2 Cipeundeuy Dilarikan ke Rumah Sakit
Sebanyak 14 siswa SDN 2 Cipeundeuy, Bandung Barat, mendapat perawatan di rumah sakit setelah mengalami mual, muntah, pusing, diare hingga demam
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Sebanyak 14 siswa SDN 2 Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mendapat penanganan medis di sejumlah rumah sakit setelah mengalami sejumlah gejala seperti mual, muntah, pusing, diare hingga demam.
Para siswa mulai mendapatkan perawatan sejak Jumat (11/9/2026) malam. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran orang tua sekaligus mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB melakukan pemantauan dan menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi penambahan pasien.
Kepala Dinkes KBB, dr. Lia Nurliana, bersama jajaran kesehatan dan Kepala Puskesmas Padalarang langsung menindaklanjuti laporan yang diterima sekitar pukul 19.00 WIB.
"Ada tujuh siswa dibawa ke RS Indra Medical Center (IMC) Cimareme di Ngamprah dan tiga di antaranya menjalani rawat di sana, sementara sisanya tersebar di RS Cibabat, Kota Cimahi," kata Lia, Sabtu (12/9/2026).
RS IMC kemudian ditetapkan sebagai posko sementara untuk penanganan kasus tersebut. Rumah sakit menyiapkan sembilan tempat tidur serta ruangan cadangan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien.
Humas RS IMC, Bob Sopyan, memastikan ketersediaan obat masih mencukupi. Pihak rumah sakit juga siap berkoordinasi apabila terjadi peningkatan kebutuhan penanganan medis.
Penyebab Masih Diinvestigasi
Munculnya kasus tersebut berdekatan dengan waktu konsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu-Kamis (9-10 September). Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa makanan dari program tersebut menjadi penyebab utama munculnya keluhan kesehatan para siswa.
Bob menjelaskan, salah satu kendala dalam penelusuran penyebab adalah sampel makanan belum sempat diambil ketika laporan diterima. Saat itu, para siswa sudah berada dalam tahap penanganan di instalasi gawat darurat (IGD).
"Kendala muncul karena sampel makanan belum sempat diambil saat laporan diterima, pasien sudah berada di fase penanganan IGD. Idealnya sampel diuji di Labkesmas untuk bukti ilmiah," jelas Bob.
Selain dugaan yang berkaitan dengan makanan, terdapat pula keterangan dari orang tua yang mempertanyakan apakah terdapat faktor lain yang memengaruhi kondisi anak. Aktivitas fisik dan cuaca panas juga disebut sebagai kemungkinan faktor yang perlu diperhatikan dalam proses penelusuran.
Dinkes Prioritaskan Pemulihan Siswa
Dinkes KBB saat ini memprioritaskan pemulihan kondisi para siswa sembari melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab sebenarnya.
Lia menegaskan penanganan medis terhadap para siswa menjadi perhatian utama. Sementara itu, biaya perawatan yang berkaitan dengan dugaan kasus tersebut akan dikoordinasikan untuk diklaim kepada Badan Gizi Nasional (BGN) pusat.
Investigasi dan penelusuran lebih lanjut masih dilakukan untuk memperoleh kejelasan faktual mengenai penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa.***
Editor : JakaPermana

