Swakarantina Pengalaman Baru Masyarakat Indonesia
Swakarantina merupakan pengalaman baru bagi masyarakat Indonesia di tengah pandemi virus corona yang makin meluas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Swakarantina merupakan pengalaman baru bagi masyarakat Indonesia di tengah pandemi virus corona yang makin meluas.
Kondisi ini seakan-akan menjadi "pergelaran/pertunjukan" yang tengah terjadi di masyarakat dunia. Seperti halnya dalam keseharian, pasti terkadang menemukan bahkan mengalami suatu peristiwa yang dianggap luar biasa. Akan tetapi, kejadian yang luar biasa ini seyogyianya tidak terjadi setiap saat, hanya ada di sela-sela peristiwa yang rutin.
Dosen Sastra Inggris Universitas Pasundan (Unpas) Erik Rusmana mengatakan, terjadinya kejadian seperti ini membuat alur yang tadinya berjalan dalam keberaturan menjadi chaos, salah satu contohnya terjadi permintaan yang tinggi di masyarakat akan pembelian hand sanitizer atau bahan dasarnya yaitu alkohol 70% atau terjadinya panic buying yang melanda sebagian kota di Indonesia. Hal tersebut menjadi satu pergelaran dengan alur cerita yang tidak biasa terjadi di Indonesia maupun diluar sana.
Sebagai sebuah pertunjukan tentu ada penontonnya. Berkaca dari sebuah pertunjukan, "ruang" bagi peristiwa penanganan virus ini dipersiapkan dengan penuh pertimbangan. Namun, apakah "ruang" bagi "penonton pertunjukan" atau masyarakat yang sekarang sedang dalam keadaan sehat juga turut dipertimbangkan juga?
"Selama dua pekan swakarantina ini diberlakukan seyogiyanya tidak hanya menjadikan rumah sebagai "ruang" bagi masyarakat. Akan tetapi, "ruang-ruang" lain seperti kantor, sekolah, tempat ibadah, toilet dan fasilitas umum lainnya sebaiknya mendapatkan pertimbangan untuk menjadi "ruang" yang lebih layak terutama dari sanitasinya agar pada masa swakarantina selesai masyarakat dapat kembali pada aktivitas semula dengan kondisi yang baik," papar Erik, Selasa (17/3/2020).
Dia berharap, semoga dengan adanya swakarantina ini bisa membuat kualitas kehidupan masyarakat di Indonesia baik dari segi sanitasi dan sosial dan budaya menjadi lebih meningkat dari sebelumnya.
"Dan, masyarakat serta pemerintah diharapkan sudah belajar dari perannya sebagai penonton sebelum virus ini menyebar selama beberapa hari terakhir ini di Indonesia," imbuh Erik.
Dosen Sastra Indonesia, UPI Dheka Dwi Agustiningsih menambahkan Swakarantina ini mengarahkan masyarakat mengalami sifat ketidakbiasaan. Menggunakan masker, memakai pembersih tangan, bahkan hingga membeli stok makanan dan kebutuhan secara berlebih.
Adapula penggunaan pelayanan secara daring, perkuliahan dan pembelajaran secara daring, dan sebagainya. Yang biasa dilakukan menjadi landasan bagi penentuan "yang tidak biasa". Akan tetapi, sebaliknya, penghadiran "yang tidak biasa" lama kelamaan berpeluang menjadi "yang biasa".
"Pandemi yang "tidak biasa" ini jangan sampai berlangsung terus menerus. Peristiwa ini harus ada akhirnya, dan orang-orang yang terlibat dalam pandemi ini harus kembali ke dunia "yang biasa". Di titik ini pertunjukan berada pada situasi ambang batas yang merupakan peristiwa yang nyata harus dialami," ucap Dheka.
Dheka menyatakan, beberapa orang mungkin akan menikmati swakarantina yang tidak biasa atau yang di luar keseharian karena dapat menikmati peristiwa ambang yang dapat memungkinkan orang merefleksikan pelbagai hal perihal diri, orang lain, masyarakat, dan dunia yang dihidupinya.
"Refleksi semacam itu terjadi lewat penghadiran "yang tidak biasa", yang memberi peluang untuk menemukan alternatif, cara pandang lain, terhadap hal-hal yang sudah biasa dilakukan, yang dalam kehidupan sehari-hari diyakini sebagai keniscayaan (Turner 1982)," kata Dheka
Semoga swakarantina yang diberlakukan selama dua pekan ini kata Dheka, dapat senantiasa memberikan pengalaman yang tersangatkan atau terlebihkan, heightened experience istilah Turner dan Bruner. (Okky Adiana).
Editor : Bsafaat


