Tantangan Berat Ekspor Jabar: Bergerak di Tengah Gejolak

KINERJA perdagangan luar negeri Jawa Barat hingga pertengahan 2026 masih menunjukkan tren positif meski dibayangi berbagai tekanan global.

Tantangan Berat Ekspor Jabar: Bergerak di Tengah Gejolak

Oleh : Yuliantono

Banyak hal yang merintangi ekspor Jabar untuk terus tumbuh. Mulai dari konflik geopolitik, kenaikan biaya energi, hingga hambatan perdagangan non-tarif di sejumlah negara tujuan ekspor.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar, Nining Yuliastiani mengungkapkan, nilai ekspor sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$19,6 miliar, sementara impor tercatat US$5,81 miliar.

Dengan capaian tersebut, katanya, Jabar membukukan surplus perdagangan sebesar US$13,76 miliar.

“Masih terjadi peningkatan dibanding dengan kinerja tahun kemarin pada posisi yang sama,” ujar Nining saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Kamis (6/8).

Menurutnya, ekspor nonmigas Jabar pada Juni 2026 tumbuh 6,45 persen dibandingkan Mei 2026. Sementara secara kumulatif Januari-Juni, ekspor nonmigas ke 14 negara tujuan utama meningkat 6,43 persen.

Lonjakan paling mencolok terjadi pada pasar Hong Kong, yang tumbuh lebih dari 104 persen. Ekspor ke China juga meningkat 26,66 persen, disusul Taiwan sebesar 22,25 persen.

“Masih ada potensi yang kami optimistis bisa ditingkatkan lagi,” katanya.

Nining menjelaskan, sektor pertanian menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekspor. Produk seperti kopi, teh, kakao, dan hortikultura mengalami peningkatan permintaan di pasar internasional. Selain itu, ekspor industri pengolahan juga naik 5,07 persen.

Namun di sisi lain, mayoritas impor masih didominasi bahan baku dan bahan penolong untuk kebutuhan industri.

“Lebih dari 80 persen impor kita merupakan bahan baku dan bahan penolong untuk industri. Ada peningkatan sekitar 14,23 persen,” ujar Nining.

Menurutnya, kenaikan impor tersebut justru mencerminkan mulai bergeraknya aktivitas produksi industri di Jawa Barat seiring meningkatnya permintaan pasar. Impor barang modal juga naik 9,88 persen, yang menunjukkan adanya ekspansi kapasitas produksi.

“Pada saat ekspor kita membaik, kebutuhan impor bahan baku dan barang modal juga meningkat karena produksi bertambah,” katanya.

Meski ekspor ke China dan Taiwan meningkat, Jawa Barat masih mengalami defisit perdagangan dengan dua negara tersebut. Penyebab utamanya adalah tingginya impor bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan sektor industri.

Nining mengatakan, sebagian besar barang yang diimpor dari China dan Taiwan digunakan untuk mendukung produksi manufaktur di Jawa Barat, mulai dari industri makanan, logam, kendaraan hingga mesin.

“Solusinya pasti harus kita mengupayakan adanya substitusi untuk produksi lokal terkait kebutuhan bahan baku. Mau enggak mau kita harus mengurangi ketergantungan terhadap impor dari Tiongkok,” tegasnya.

Ia menilai penguatan rantai pasok industri dalam negeri menjadi langkah strategis, agar industri Jawa Barat tidak terus bergantung pada bahan baku impor.

Selain persoalan impor, Nining juga menyoroti berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha Jawa Barat saat menembus pasar China. Salah satunya adalah penerapan standar non-tarif yang sangat ketat.

“Untuk produk buah misalnya harus bebas hama, penyakit, residu bahan kimia, bahkan kemasan wajib menggunakan bahasa Mandarin,” ujarnya.

Tantangan lain adalah perbedaan budaya bisnis, bahasa, hingga tingginya biaya logistik yang membuat harga produk Indonesia kurang kompetitif dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand.

“Kita harus benar-benar mengupayakan efisiensi produksi dan logistik agar daya saing harga produk Jawa Barat lebih kuat,” katanya.

Meski berbagai tantangan masih membayangi, Disperindag Jabar optimistis kinerja ekspor pada semester II 2026 tetap tumbuh.

Optimisme tersebut didukung membaiknya aktivitas manufaktur nasional yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang kembali berada di zona ekspansi.

“Kalau melihat tren Januari sampai Juni, posisi kita relatif stabil dan cenderung meningkat dibanding tahun lalu. Saya melihat prospek sampai akhir 2026 masih cukup bagus,” ujar Nining. (bsf)


Editor : Inilahkoran